Membaca Solidaritas dan Estetika di Ruang Ujian UPK PKBM Al Zaytun


Membaca Solidaritas dan Estetika di Ruang Ujian UPK PKBM Al-Zaytun

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Udara di Sandrem Mekarjaya Gantar siang itu, Sabtu (16/05/2026), mulai terasa membakar kulit, namun sengatan matahari sama sekali tak mampu meluruhkan senyum dan peluh para warga belajar Pendidikan Kesetaraan. Bagi mereka, usia dan keterbatasan bukanlah dinding pembatas untuk terus mereguk ilmu yang bermanfaat. Selepas kegiatan senam bersama yang cukup menguras energi di halaman Bazar, ruang terbuka itu mendadak riuh oleh tawa yang pecah saat sesi penghilang penat atau *ice breaking* dimulai demi mencairkan suasana menjelang ujian.

Sebagai tutor mata pelajaran Seni Budaya, saya mencoba mengajak para warga belajar membuat formasi melingkar sembari menunggu beberapa rekan mereka yang masih mengambil tas di dalam kelas. Sebuah mikrofon berpindah tangan secara acak seiring dengan lantunan lagu yang sengaja saya hentikan secara mendadak. Taktik menghentikan lagu secara sporadis: kadang di sisi kanan, kiri, lalu menukik ke depan, sukses membuat suasana menjadi sangat ramai.

Warga belajar yang kaget karena mendadak harus menyebutkan namanya dengan cepat memicu tawa bersama, hingga ketegangan menjelang Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) praktik hari itu benar-benar lebur.
Setelah seluruh warga belajar berkumpul dan menyatakan kesiapannya dengan seruan “Siap Ustadzah!”, sebuah momen menyentuh seketika mengubah rencana awal tempat pelaksanaan ujian.

Sejatinya, saya telah merancang panggung ujian di alam terbuka bawah yang suasananya adem dan rindang. Namun, melihat mereka sudah membawa tas dan perlengkapan lengkap, seorang warga belajar mengusulkan agar ujian dipindahkan ke dalam ruang kelas saja. Alasan di baliknya sungguh menggetarkan hati, yakni karena Ibu Karyani, salah satu rekan mereka, sedang dalam kondisi kurang sehat sejak dari rumah namun tetap memaksakan hadir demi tanggung jawabnya sebagai warga belajar yang baik.

Mendengar usulan tersebut, rasa salut dan haru langsung menyeruak karena tingginya rasa solidaritas dan kebersamaan yang ditunjukkan oleh warga belajar lainnya. Mereka rela melepaskan kenyamanan ujian di alam terbuka yang sejuk demi memastikan temannya yang sedang sakit tidak perlu bersusah payah naik-turun tangga.

Setelah semua sepakat dan berpindah ke dalam kelas, saya kembali mengulang penjelasan mengenai teknis ujian agar Ibu Karyani yang tadi menetap di kelas juga mendapatkan pemahaman yang sama secara inklusif. Di sana dijelaskan kembali bahwa praktik Seni Budaya kali ini mencakup empat pilar estetika, yaitu seni suara melalui lagu daerah, seni tari nusantara, seni rupa lewat kreativitas bebas bahan daur ulang atau batik teknik tertentu, hingga seni menulis sastra berupa puisi dan mendongeng.

Suasana kelas segera berubah menjadi ruang pameran bakat yang progresif saat semua orang mulai mengeluarkan perlengkapan alat dan bahan yang sudah dipersiapkan secara matang dari rumah.

Tepat pukul 10.00 WIB, ujian praktik kelas A resmi dimulai dan dibuka lewat penampilan luar biasa dari Ibu Karyani. Meski kondisi fisiknya sedang melemah dan tidak bisa berdiri terlalu lama, dengan semangat membara ia maju ke depan kelas untuk membacakan bait demi bait puisi yang telah ia siapkan dengan penuh penghayatan. Langkah itu kemudian disusul oleh Ibu Parinten, warga belajar dengan usia paling senior di kelas, yang membalikkan semua stereotipe tentang penuaan lewat lantunan lagu daerah Jawa Timur berjudul *”Perahu Layar”* secara percaya diri dan ekspresif.

Atmosfer ruang kelas kian semarak saat Ana, sang ketua kelas, mengambil alih panggung dengan membawakan lagu Sunda populer berjudul *”Domba Kuring”* yang diiringi musik karaoke. Ana bernyanyi dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, mengeluarkan vokal yang lepas dan bergaya penuh penghayatan hingga memicu kelenturan irama warga belajar lainnya yang spontan meminta izin untuk ikut berjoget bersama. Keceriaan kolektif itu terus berlanjut pada penampilan berikutnya dari kelompok tari Nusantara yang tampil kompak dan memukau, mematahkan keraguan mereka sendiri yang sempat mengaku lupa beberapa gerakan di tengah jalan akibat keterbatasan waktu latihan bersama.

Pada dimensi seni rupa, kreativitas warga belajar benar-benar melampaui ekspektasi saya selaku tutor karena mampu menerapkan prinsip *upcycling* atau peningkatan mutu bahan bekas secara estetis. Ibu Sunarti, misalnya, berhasil menyulap limbah botol air mineral Hamayim menjadi sebuah karya rangkaian kelopak bunga yang indah setelah dibentuk sedemikian rupa dan dibalut cat merah menyala. Tidak kalah memikat, meja kelas juga dihiasi oleh kreasi bunga dari sedotan dan tisu, serta amplop yang bagian luarnya dihiasi motif daun alami menggunakan teknik batik *ecoprint* yang sangat anggun dan bernilai seni tinggi.

Kesungguhan, kesiapan materi, dan kematangan emosional yang ditunjukkan oleh seluruh warga belajar Kelas A2 dalam menyelesaikan ujian praktik ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya.

Hari itu, proses evaluasi akademik tidak lagi terasa kaku, melainkan bertransformasi menjadi sebuah ruang kemanusiaan yang hangat di mana semua orang saling menopang, merayakan bakat, dan belajar tanpa batas usia.

Alhamdulillah, sebuah pembuktian kesuksesan yang manis dan penuh berkah dari ujung Gantar untuk PKBM Al-Zaytun.**

Pewarta : Sri Wahyuni, S.Pd (Tutor PKBM Al Zaytun)
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!