Al-Zaytun Gagas Transformasi Revolusioner Pendidikan Menuju Indonesia Emas

Al-Zaytun Gagas Transformasi Revolusioner Pendidikan Menuju Indonesia Emas


GANTAR,INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Dalam momentum bersejarah peringatan Hari Lahir Pancasila, Ma’had Al-Zaytun,Minggu 1 Juni 2925, menjadi tuan rumah sebuah gerakan intelektual dan kultural yang besar,bertajuk Pelatihan Pelaku Didik Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama.

Sebuah forum strategis yang tak hanya menyentuh aspek teknis dunia pendidikan, tetapi juga menggugah kesadaran nasional akan pentingnya membangun generasi unggul menyongsong satu abad kemerdekaan Indonesia.

Pelatihan diawali sambutan Ketua Umum Panitia, Ust. Eji Anugrah Romadhan, S.S., M.P.
Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa pelatihan ini hadir bukan sebagai acara seremonial, tetapi sebagai gerakan kolektif yang strategis.

“Tidak ada jalan yang lebih kokoh untuk membangun bangsa selain pendidikan yang terus diperbarui, ditingkatkan, dan diselaraskan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan ini ditujukan untuk menyatukan pemahaman seluruh unsur pendidik terhadap desain revolusi pendidikan abad ke-21, membangun budaya belajar berkelanjutan, mendorong keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan, serta merumuskan kebijakan pendidikan jangka panjang berbasis pemikiran kolektif. Dengan semangat kebersamaan dan petunjuk Syaykh Al-Zaytun.

Ia mengajak semua peserta dan elemen bangsa untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju kebangkitan Indonesia.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Syaykh AS Panji Gumilang, yang dalam pengantar singkatnya menekankan urgensi dari transformasi pendidikan yang bukan hanya reformasi struktural, melainkan juga revolusi nilai.

Di hadapan ratusan pendidik, pengurus asrama, tenaga logistik, petani, hingga pelajar, Syaykh menegaskan, bahwa pendidikan harus melampaui ruang kelas dan masuk ke dalam struktur kehidupan sosial.

“Pelatihan ini adalah upaya membentuk kesadaran bersama, bahwa membangun bangsa dimulai dari membangun cara berpikir dan cara hidup yang terdidik,” ujar beliau. Pendidikan tidak boleh diserahkan semata pada negara atau institusi, tetapi harus menjadi tanggung jawab kolektif rakyat.

Ia menyampaikan, bahwa pelatihan ini harus menghidupkan kembali rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan semangat gotong royong sebagai fondasi budaya belajar yang berkelanjutan.

Syaykh juga mengingatkan,bahwa tantangan masa depan,bisa berupa disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga ketimpangan sosial,hanya bisa dijawab dengan pendidikan yang integral.

Maka, konsep pendidikan berasrama yang ditanamkan di Al-Zaytun bukanlah sekadar pola tinggal bersama, melainkan cara membentuk karakter dalam ekosistem hidup yang utuh dan saling bergantung.

Suasana pembukaan menjadi penuh makna ketika lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta lintas generasi. Ini menjadi penanda bahwa pelatihan bukan sekadar forum pelatihan profesional, tetapi gerakan nilai yang menjunjung tinggi kebangsaan dan kemanusiaan.***


(Ali Aminulloh)

—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!