Ketika Daging Qurban Tak Lagi Dibungkus Plastik: Pelajaran Kesadaran Ekologis dari Al Zaytun


Ketika Daging Qurban Tak Lagi Dibungkus Plastik: Pelajaran Kesadaran Ekologis dari Al Zaytun

Oleh Ali Aminulloh

Aroma tanah basah bercampur semilir daun jati menyelimuti pagi Idul Adha di Ma’had Al Zaytun. Di tengah gema takbir yang mengguncang langit pesantren, ratusan santri tampak sibuk memungut dan menyusun daun-daun jati berukuran lebar. Bukan untuk pakan ternak. Bukan pula untuk kerajinan tangan. Daun-daun itu akan menjadi pembungkus daging qurban.

Di saat banyak tempat masih mengandalkan kantong plastik sekali pakai, Al Zaytun memilih kembali kepada alam.

Sederhana memang. Tetapi dari daun jati itu, lahir sebuah pesan besar tentang peradaban, tentang iman, dan tentang kesadaran ekologis manusia.

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik 11–13 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan ibadah qurban. Bagi seorang mudhahhi yaitu orang yang berqurban, ibadah ini bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan pembuktian ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Spirit qurban juga ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 1–2)

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ ٱلْكَوْثَرَ ۝ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Sementara bagi para penerima daging qurban, hari raya ini menjadi momentum kebahagiaan sosial. Banyak keluarga dapat menikmati hidangan istimewa yang mungkin jarang mereka rasakan pada hari-hari biasa. Karena itu, Idul Adha menjadi hari penuh syukur dan kebahagiaan di berbagai penjuru dunia Islam.

Di Arab Saudi, saat jutaan jamaah tengah menjalani puncak ibadah haji di Arafah, gema spiritual qurban juga bergema ke seluruh dunia. Dan di sebuah kawasan pendidikan di Indramayu, nilai-nilai itu diterjemahkan bukan hanya dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam kesadaran ekologis.

Tradisi qurban di Ma’had Al Zaytun telah berlangsung sejak awal berdirinya pada tahun 1999. Namun ada satu hal unik yang selalu menarik perhatian: pembungkusan daging qurban menggunakan daun jati.

Di tengah budaya konsumsi plastik yang semakin masif, langkah ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat filosofis.

Jutaan pohon jati tumbuh mengelilingi kawasan kampus Al Zaytun. Menjelang Idul Adha, para santri bergotong royong mengumpulkan daun-daun jati yang lebar dan kuat untuk dijadikan pembungkus alami daging qurban. Tradisi ini bukan sekadar mempertahankan cara lama, melainkan bentuk pendidikan peradaban.

Penggunaan daun jati memiliki banyak manfaat. Daun jati bersifat alami, mudah terurai, dan tidak mencemari lingkungan seperti plastik. Daun ini juga cukup kuat menahan daging dan memiliki kandungan alami yang membantu menjaga kesegaran makanan dalam waktu tertentu. Selain itu, aroma khas daun jati memberikan nuansa tradisional yang menghadirkan kedekatan manusia dengan alam.

Lebih jauh lagi, penggunaan daun jati mengurangi limbah plastik yang biasanya meningkat drastis saat Idul Adha. Bayangkan jika ribuan kantong plastik sekali pakai dibuang begitu saja setelah pembagian qurban. Sampah itu akan berakhir di sungai, tanah, atau lautan, menjadi polusi yang merusak ekosistem kehidupan manusia.

Dari sinilah tampak bahwa qurban bukan hanya ibadah vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga memiliki dimensi horizontal terhadap alam dan kehidupan.

Praktik sederhana di Al Zaytun ini sejatinya selaras dengan trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, yaitu kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran anak.

Kesadaran filosofis mengajarkan bahwa setiap ibadah harus dipahami maknanya secara mendalam, bukan sekadar rutinitas simbolik. Qurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme dan keserakahan manusia.

Kesadaran ekologis mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Maka ibadah pun tidak boleh menghasilkan kerusakan lingkungan. Spirit “rahmatan lil ‘alamin” harus tercermin dalam tindakan nyata, termasuk dalam hal sederhana seperti memilih pembungkus daging qurban yang ramah lingkungan.

Sedangkan kesadaran anak terlihat dari keterlibatan para santri dalam seluruh proses qurban. Mereka belajar bergotong royong, mencintai lingkungan, menghargai tradisi, dan memahami bahwa agama bukan hanya diajarkan lewat ceramah, tetapi lewat praktik kehidupan sehari-hari.

Di tengah krisis lingkungan global, perubahan besar memang sering dimulai dari langkah kecil. Dari selembar daun jati, Al Zaytun sedang mengajarkan bahwa ibadah dapat berjalan beriringan dengan pelestarian alam.

Dan mungkin, di masa depan, dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang taat beragama, tetapi juga manusia yang sadar bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah itu sendiri.**


Indramayu, 26 Mei 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!