USIA HANYA ANGKA, SPIRIT TAK PERNAH TUA: SRIKANDI KODEKO TAKLUKKAN LAPANGAN

Usia Hanya Angka, Spirit Tak Pernah Tua: Srikandi Kodeko Taklukkan Lapangan

Oleh : Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Usia boleh menambah angka dalam perjalanan hidup, tetapi tidak pernah berhak memadamkan semangat. Di saat sebagian orang mulai mengurangi aktivitas, para ibu berusia 50 hingga 65 tahun yang tergabung dalam Srikandi Kodeko KSU Desa Kota Indonesia justru berlari, melompat, dan berjuang di lapangan. Bagi mereka, usia hanyalah angka; spirit, kekompakan, dan keberanianlah yang menentukan kemenangan.

Semangat itu mereka tunjukkan dalam rangkaian perlombaan memperingati Hari Ulang Tahun Al-Zaytun. Sebanyak 10 cabang dipertandingkan, yakni sepak bola, bola voli, bola basket, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, hoki, seni tari, paduan suara, dan karya ilmiah. Di tengah semarak kompetisi tersebut, Srikandi Kodeko turut mengambil bagian dalam dua cabang olahraga, yaitu bola basket dan bola voli.

Gerak kebersamaan Srikandi Kodeko berada di bawah komando Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Anis Khoirunnisa, S.Th.I., M.A.P. Adapun tim penggerak di lapangan merupakan representatif unsur Istri Civitas KSU Desa Kota Indonesia, yakni Dewi Asih Nusantari dan Susianti. Kepemimpinan, koordinasi lapangan, dan kekompakan seluruh anggota menjadi kekuatan yang menghidupkan semangat para Srikandi Kodeko dalam setiap kegiatan.

Perjalanan tim bola basket memang harus terhenti pada babak awal. Namun, kegagalan itu tidak mematahkan semangat mereka. Srikandi Kodeko justru melanjutkan perjuangan melalui cabang bola voli. Set demi set mereka lalui dengan kerja keras hingga akhirnya berhasil menembus pertandingan final.

Puncak perjuangan itu berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026. Dalam final bola voli putri, Srikandi Kodeko berhadapan dengan Tim Pelajar Putri Al-Zaytun. Pertandingan tersebut menghadirkan pemandangan yang tidak biasa sekaligus menginspirasi: para ibu berusia 50–65 tahun berdiri di seberang net menghadapi para pelajar yang masih berusia belasan tahun.

Perbedaan usia kedua tim terlihat sangat kontras. Jika diibaratkan dalam kehidupan keluarga, pertandingan itu seperti pertemuan antara ibu dan anak, bahkan nenek dan cucunya. Namun, begitu peluit dibunyikan, usia tidak lagi menjadi pembeda. Yang berbicara di lapangan adalah semangat, pengalaman, ketenangan, dan kekompakan tim.

Sejak set pertama, Srikandi Kodeko langsung mengendalikan pertandingan. Mereka bermain penuh percaya diri dan menutup set pembuka dengan skor meyakinkan, 25–14. Dominasi berlanjut pada set kedua. Melalui kerja sama yang solid dan permainan yang semakin terarah, mereka kembali unggul dengan skor 25–12.

Tim Pelajar Putri Al-Zaytun tidak menyerah begitu saja. Pada set ketiga, para pelajar bangkit dan memberikan perlawanan sengit. Srikandi Kodeko harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 21–25. Kekalahan dalam set tersebut sempat membuka peluang bagi tim pelajar untuk memperpanjang pertandingan.

Namun, pengalaman membuat Srikandi Kodeko tidak kehilangan ketenangan. Pada set keempat, mereka kembali menyatukan ritme permainan. Setiap pemain saling menopang, menjaga komunikasi, dan berjuang merebut angka demi angka. Srikandi Kodeko akhirnya memastikan kemenangan dengan skor 25–20 sekaligus menutup pertandingan dengan skor akhir 3–1.

Catatan skor pertandingan tersebut menjadi saksi ketangguhan mereka:

Set I: Kodeko 25–14 Pelajar
Set II: Kodeko 25–12 Pelajar
Set III: Kodeko 21–25 Pelajar
Set IV: Kodeko 25–20 Pelajar

Kemenangan itu bukan sekadar keberhasilan mengalahkan tim yang jauh lebih muda. Lebih dari itu, kemenangan tersebut membuktikan bahwa semangat yang terpelihara mampu melampaui batas usia. Kekuatan Srikandi Kodeko tidak hanya terletak pada kemampuan individual, tetapi juga pada arahan kepemimpinan, kuatnya koordinasi lapangan, komunikasi antarpemain, dan rasa saling percaya di antara seluruh anggota tim.

Energi para Srikandi Kodeko tidak berhenti di lapangan voli. Mereka juga tampil memeriahkan jeda pertandingan final sepak bola antara Tim Pelajar Al-Zaytun dan Tim Alumni di Palagan Agung Al-Zaytun. Sebanyak 100 Srikandi Kodeko mempersembahkan Senam Kreasi DIGIDI-DIGIDI dengan gerakan yang energik dan penuh semangat.

Mengenakan kostum biru putih, kerudung merah menyala, serta topi bernuansa merah putih, mereka tampil kompak dan memukau. Perpaduan warna kostum, keselarasan gerakan, dan keceriaan wajah para peserta membuat penampilan tersebut terasa hidup. Setiap gerakan menggambarkan keharmonisan, kebersamaan, serta kuatnya ikatan persaudaraan di antara anggota KSU Desa Kota Indonesia.

Hari itu, Srikandi Kodeko tidak hanya meraih kemenangan di lapangan voli dan menghibur penonton melalui Senam Kreasi DIGIDI-DIGIDI. Mereka juga menyampaikan pesan yang jauh lebih besar: manusia tidak menjadi tua hanya karena bertambah usia, tetapi ketika kehilangan semangat untuk bergerak, berkarya, dan mengambil bagian.

Di bawah komando Ketua Umum KSU Desa Kota, Anis Khoirunnisa, S.Th.I M.AP. serta dukungan para penggerak lapangan, Dewi Asih Nusantari dan Susianti, Srikandi Kodeko telah membuktikan bahwa kebersamaan dapat melahirkan kekuatan yang luar biasa. Di tangan mereka, usia benar-benar hanyalah angka. Selama spirit tetap menyala, kekompakan terus dijaga, dan keberanian untuk mencoba tidak pernah padam, setiap orang masih dapat menjadi pemenang. Bukan hanya di arena pertandingan, melainkan juga dalam kehidupan.**

——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!