*Teori Sosial Denny JA Tentang Aksi Demonstrasi Yang Berujung Pada Kerusuhan*
Oleh : Jacob Ereste
Denny JA, mengulas fenomena kerusuhan yang dilatarbelakangi oleh aksi dan unjuk rasa di Jakarta, pada Agustus 2025. Ia mengatakan, “Peristiwa Agustus 2025 bukan sekedar kerusuhan. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya”. (Baca : Denny JA : Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Bar, Strategi. Id, 16 Juni 2026).
Lalu Denny JA mengilustrasikan, di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan jatuh tersungkur dan tak pernah bangkit kembali untuk selama-lamanya.
Video tubuh Affan Kurniawan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam hanya dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di group Whatsapp keluarga, di Tik Tok anak sekolah, di Instagram para pekerja dan di linimasa para aktivis.
Pendek cerita, kata Danny JA, demonstrasi terus meledak dan meluas di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai, sebagian lagi berubah menjadi bentrokan. Hingga berbagai korban berjatuhan, termasuk Gedung DPRD di Makassar.
Atas pertanyaan, mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara ? Inilah dasarnya Denny JA merasa perlu menghimpun sejumlah teori untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebagai gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya.
Denny JA yang mengaku ikut menyaksikan jatuhnya Orde Baru dan melihat reformasi 1998 melahirkan harapan baru, ia juga menyaksikan bagaimana media sosial mengubah perilaku masyarakat secara radikal. Dan saat membaca laporan tentang tentang kerusuhan Agustus 2025, dia juga merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Dari teori sosial yang lama mampu menjelaskan sebagian fakta, namun tidak ada satu pun yang mampu menjelaskan keseluruhan dari fenomena tersebut. Karena Denny JA melihat ada sesuatu yang baru sedang lahir — yaitu kelas sosial baru — ia menyimpulkan ada cara baru manusia mengungkapkan kemarahannya. Karena itu, merujuk pada teori sosial yang lahir sejak dua abad silam — hingga kini dunia berubah lebih cepat dari bahasa yang tersedia untuk menjelaskannya — mulai dari teori Karl Marx yang melahirkan pabrik, Durkheim tentang masyarakat modern, sementara sekarang kita hidup dalam dunia yang dikendalikan oleh algoritma, meski masih dominan menggunakan konsep terdahulu tadi yang acap dianggap oleh para pengamat politik di dunia sudah lapuk.
Setidaknya, Denny JA melihat algoritma telah mengambil peran sebelum dijadikan mainan oleh organisasi politik, setidaknya notifikasi telah menggantikan pamflet revolusi, katanya meyakinkan lewat tulisannya yang panjang.
Teori sosial baru yang diajukan Denny JA untuk membedah fenomena sosial ini. Teori sosial yang sudah dianggap lapuk itu memang bisa menjelaskan sebagian peristiwa yang terjadi pada Agustus 2025 dengan baik, tetapi tidak mampu mengurai secara keseluruhan dari rangkaian peristiwa tersebut terkait dengan sebab-akibat dari kejadian pada Agustus 2025 di Jakarta yang cukup dramatis dan tragis.
Kerena menurut Denny JA, yang hilang bukan sekedar satu variabel, sebab juga hilang adalah cara melihat hubungan antara ekonomi. algoritma, emosi dan legitimasi negara sebagai satu sistem yang saling memperkuat.
Atas dasar itulah Denny JA merasa perlu mengajukan berbagai teori dari refleksi teori sebelumnya, yaitu teori kerusuhan era digital yang dibangun di atas lima variabel utama, yaitu Economic Grievance atau keresahan ekonomi. Variabel Digitally Vulnerable Class. Berikutnya adalah Trigger and Provocation, serta variabel Broken Social Contract, ketika kontrak sosial kehilangan legitimasi moral.
menurut Denny JA, teori ini lebih kuat. lantaran sifatnya sangat integratif. Karena teori kerusuhan sosial pada era digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren. Jadi dari teori ini dapat diklaim tidak hanya mampu menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. tapi juga bagaimana kerusuhan bisa menyebar dan meluas. Bahkan, teori ini dapat menjelaskan siapa yang marah, tapi juga mengapa para demonstran jadi marah.**
Banten, 5 Agustus 2026
—–
![]()
