Oleh : Jacob Ereste
Pandangan dan pesan Untuk Perdamaian Dunia yang mengacu pada “Kitab MA HA IS MA YA” cukup relevan menjadi tajuk pembicaraan hari ini untuk masa depan, seperti yang telah dimulai dengan membacakan do’a tanpa pernah diminta dari 79 tokoh yang dipilih dengan alasan tersendiri. Karena itu jadi menarik, apa alasan memberikan do’a kepada 79 tokoh tersebut kepada Sro Eko Sriyanto Galgendu yang telah memberi do’a kepada para 79 tokoh yang tercatat dalam kitab tersebut.
Apa yang dianggap menjadi sangat istimewa itu ? Apalagi sampai harus dilakukan dengan waktu 20 jam non stop !
Bagi saya — sebagai salah seorang yang ikut terpilih mendapatkan do’a spesial ini — sungguh senang dan takjub, apala do’a yang telah dikirimkan ke langit itu bisa terwujud, sehingga patut untuk disyukuri dengan ekspresi suka cita yang serius, misalnya menyembelih seekor kerbau untuk disantap bersama dalam berbagai bentuk hidangan, gulai, sate dengan penuh keriangan sebagai ekspresi dari rasa syukur yang sangat mendalam.
Diskusi hari ini pun yang meletakkan “Kitab NA HA IS MA YA” sebagai sandaran acuan untuk memperkukuh usaha membangun perdamaian dunia yang lebih baik dan lebih beradab, adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kita yang hadir dalam acara ini, bukan hanya terhadap kehadiran kitab yang memuat berbagai do’a ini semata.
Acara dialog yang juga ditegaskan sebagai bentuk dari aksi nyata untuk perdamaian ini — tidak hanya menandai adanya gejala fenomena ketidakdamaian, tapi ekspresi dari harapan untuk kedamaian yang lebih nyata dalam wujud lahir maupun batin. Dari kesadaran dan pemahaman serupa inilah dapat dipetik nilai-nilai yang memiliki muatan dan dimensi spiritualitas untuk menuju kedamaian dari berbagai kerumitan duniawi yang meruntuhkan kemanusiaan yang sejati, sebagai khalifah wakil Tuhan di bumi.
Saya kira itu, yang penting untuk direnungkan sambil terus melangkah membangun gerakan perdamaian yang lebih nyata lingkaran sekitar diri kita masing-masing untuk memasuki lingkaran pergaulan global yang lebih luas dan leboh kompleks. Kesaksian saya sebagai penulis yang mengamati gerakan kebangkitan lokal, nasional kini akan segera memasuki lingkaran global untuk menjadi bekal seluruh manusia bersiap diri memasuki peradaban baru yang tak mungkin terelakkan. Dan Indonesia adalah pemimpin serta pelopor yang akan menjadi pusat gerakannya yang bersifat semesta menjadi cahaya dunia.**
Pecenongan, 20 September 2026
——-
![]()
