*Silaturahmi Sahabat dan Kerabat GMRI Dengan Bambang Wiwoho, Penulis Laku Spiritual dan Kejawen Presiden Soeharto*
Penulis : Jacob Ereste
Ngobrol bersama saat sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Sri Eko $riyanto Galgendu, Wowok Pratowo dan Towap saat sanjau ke kediaman Bambang Wiwoho di Depok, Jawa Barat, Minggu, 21 Juni 2026, usai shalat Zuhur hingga ba’da shalat magrib sungguh asyik dan gayeng. Apalagi setelah makan bersama dan menikmati kopi spesial hingga pembicaraan semakin meluas ke berbagai masalah di republik ini. Setidaknya, sebagai mantan jurnalis senior yang cukup lama ngepos di Istana semasa Orde Baru memiliki wawasan dan pengalaman yang cukup luas mengenai seluk-beluk negeri ini, utamanya untuk yang tidak banyak diketahui oleh publik. Meski seusai waktu sholat listrik padam, seakan memenuhi janji pemadaman secara bergilir untuk penghematan biaya yang harus ditanggung PLN. Toh, acara ngobrol semakin asyik disusul hujan lebat seakan untuk mendinginkan suasana pembicaraan yang semakin memanas.
Laku Spiritual Pak Harto, Indonesi dan Kejawen, ditulis wartawan senior Bambang Wiwoho yang cukup lama menjadi Harian Suara Karya yang ngepos di Istana Negara lebih dari 7 tahun antara 1972-1979. Lalu nyebrang ke Majalah Panji Masyarakat sebagai Pemimpin Umum majalah Islam yang cukup populer pada tahun 1980-an yang dijabat selama 5 tahun, 1996-2001. Meski begitu, toh dia tetap produktif menulis banyak buku, baik yang dibuat sendiri maupun secara keroyokan dengan penulis lain. Karya tulisnya yang terbaru dapat terus diikuti di islamjawa.wordpresscom dan bwiwoho.blogspot.com. Ini semua menandai bahwa sampai dipenghujung senja usianya ke-78 tetap aktif dan mempu berkarya sebagai insan pers yang memang tidak mengenal pensiun.
Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun di Indonesia cukup jelas dinarasikan oleh Bambang Wiwoho sebagai sosok seorang pemimpin yang memiliki kemampuan serta kecerdasan spiritual. Rajin tirakat seperti tuntunan dalam ajaran kejawen dan mempunyai relasi yang luas dengan tokoh kebatinan, hingga pengaruh spiritualnya yang khas Jawa cukup berperan dalam mengambil keputusan politik negara yang nyata Soeharto praktekkan selama 32 tahun berkuasa di Indonesia.
Buku yang ditulis Bambang Wiwoho dalam bentuk yang sederhana namun menarik untuk dibaca sebagai potret diri seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan dan kemampuan spiritual, setidaknya patut menjadi referensi sandingan bagi seorang pemimpin yang ingin langgeng menata strategi kekuasaan serta membangun hubungan dengan banyak pihak yang telah dibuktikan berkuasa selama rezim Orde Baru berjaya.
Buku setebal 129 halaman ini dihantar oleh Paulus Tri Agung Kristanto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id yang menguri-uri “Mistik Kejawen Dalam Negara Pasca Kolonialisme Jawa”. Agung Kristanto sepakat dengan pendapat Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum, bahwa ritual mistik kejawen sering kali menjadi landasan spiritual kekuasaan untuk mendewakan status quo. Sehingga tidak sedikit perilaku politik dijalankan dengan acara ritual untuk memperoleh kesaktian. Karena kesaktian itu dipercaya dapat melahirkan — atau melanggengkan — kekuasaan.
Hingga akhirnya, Agung Kristanto menyimpulkan dari semua orang Jawa yang memimpin Indonesia, Soeharto dengan Orde Baru, pada awalnya dinilai mengambil prinsip model atau gaya kepemimpinan Jawa yang mendasar, yaitu ketekunan, keseimbangan dan perencanaan yang cermat. Sehingga dalam model dan gaya kepemimpinan Jawa sangat terkesan menekankan betapa pentingnya tatanan yang harmoni dan mengayomi. (Kata Pengantar : hal X dan XI). Dari pemahaman seperti ini, mistik kejawen menjadi sangat dipercaya mampu untuk mengungkapkan hal-hal berbagai soal kehidupan terutama politik. Karena itu tidak sedikit para pelaku politik memiliki guru spiritual yang bisa menunjukkan jalan mistik agar roda kekuasaannya atau pemerintah yang dikendalikannya bisa berjalan lancar dan selamat. Dalam istilah Prof. Suwardi, ada istilah yang disebut ideology of gentle hint (ideologi perintah halus) yang dipegang sebagai komando (bisikan) bati. Karena pemerintah — seperti yang dominan dipraktekkan oleh Soeharto selama berkuasa pada masa Orde Baru — banyak menerapkan sistem kerajaan Jawa, bahwa raja juga adalah seorang pandita ratu.
Dalam falsafah kepemimpinan dan kesatria Jawa, kata Bambang Wiwoho (hal 115) dapat dikelompokkan dalam dua bagian berdasarkan periode sebelum Islam seperti yang dipraktekkan oleh sosok Ratu Shima hingga Damarwulan dan sesudah Islam. Maka itu, gelar selengkapnya raja adalah Ingkang Sinuwun Sayyidina Panatagama Khalifatullah Ingkang Amartani , Penatah Prat ingkahing Bebon, Panating Gami.
Dalam acara silaturahmi ini, antara Bambang Wiwoho dan Sri Eko Sriyanto Galgendu saling tukar menukar buku yang baru diluncurkan Bambang Wiwoho pekan lalu dan menerima “Kitab MA HA IS MA YA” yang memuat do’a 79 tokoh nasional dan berhasil dibacakan selama 20 jam non stop pada Agustus 2025 silam di Auditorium Wisma Antara, Jakarta Pusat.
Pada kesempatan ini juga Sri Eko Sriyanto Galgendu sempat membacakan do’a khusus untuk Bambang Wiwoho juga menerawang sosok Bambang Wiwoho dengan segenap latar belakang keluarganya yang terpaut dengan Sri Susuhunan Paku Buwono XII. Sedangkan Sri Eko Sriyanto sendiri memiliki keterpautan dengan trah keraton Mangkunegaran.
Depok, 21Juni 2026
——-
![]()
