MAHKOTA YANG SERING TERLUPAKAN
(Mensyukuri Nikmat Sehat Sebelum Ia Diambil)
Oleh : Ali Aminulloh
“Ash-shihhatu tâjun ‘alâ ru’ûsil ashihhâ’, lâ yarâhâ illâ al-mardhâ.”
“Kesehatan adalah mahkota yang berada di atas kepala orang-orang sehat, namun tidak terlihat kecuali oleh mereka yang sedang sakit.”
Betapa banyak manusia yang setiap pagi bangun dengan tubuh yang masih mampu bergerak, paru-paru yang masih mampu menghirup udara, jantung yang masih setia berdetak, pikiran yang masih sanggup berpikir, dan perasaan yang masih mampu merasakan kasih sayang. Namun semua itu sering dianggap biasa. Kita baru menyadari nilai kesehatan ketika tubuh mulai lemah, ketika tidur tidak lagi nyenyak, ketika pikiran dipenuhi kecemasan, atau ketika hati kehilangan kedamaian.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Kesehatan sesungguhnya bukan sekadar tidak sakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, bukan hanya terbebas dari penyakit. Dalam perspektif Islam, kesehatan bahkan lebih luas lagi, mencakup dimensi ruhani yang menjadi pusat kehidupan manusia.
Allah Swt. berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl [16]: 18)
Di antara nikmat yang paling besar dan paling sering dilupakan adalah nikmat sehat.
Sehat Jasmani: Amanah yang Harus Dijaga
Sehat jasmani adalah kemampuan tubuh menjalankan fungsi biologisnya secara optimal sehingga manusia mampu bekerja, belajar, beribadah, dan menjalani kehidupan secara produktif.
Tubuh bukan milik kita sepenuhnya. Tubuh adalah amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu.”
(HR. Bukhari)
Mensyukuri kesehatan jasmani berarti menjaga amanah tersebut.
Pertama, dengan makanan yang sehat dan fungsional
Tubuh manusia dibangun dari apa yang masuk ke dalamnya. Karena itu Al-Qur’an memerintahkan:
“Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 168)
Kata thayyib tidak hanya berarti halal, tetapi juga baik, bergizi, dan menyehatkan. Makanan fungsional seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, ikan, dan makanan alami membantu tubuh mempertahankan kesehatan sekaligus mencegah penyakit.
Kedua, dengan tidur yang cukup
Banyak orang mengejar dunia dengan mengorbankan tidur. Padahal tidur adalah mekanisme pemulihan yang dirancang langsung oleh Allah.
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”
(QS. An-Naba’ [78]: 9)
Ilmu kesehatan modern menunjukkan bahwa saat tidur tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak, memperkuat sistem imun, menyeimbangkan hormon, dan menyimpan memori. Tubuh memiliki jam biologis (circadian rhythm) yang mengatur kapan manusia harus beristirahat dan kapan harus aktif. Mengabaikan ritme ini meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Ketiga, dengan berolahraga
Aktivitas fisik menjaga fungsi jantung, paru-paru, otot, tulang, dan metabolisme tubuh. Olahraga bukan sekadar menjaga penampilan, tetapi menjaga kualitas hidup.
Olahraga ideal mencakup dua aspek:
1. Latihan kebugaran kardiorespirasi (berjalan, berlari, berenang, bersepeda).
2. Latihan penguatan otot dan tulang.
Tubuh yang kuat memungkinkan seseorang beribadah, bekerja, dan berkarya lebih baik. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)
Sehat Pikiran: Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan
Setiap manusia menghadapi tekanan hidup. Ada tekanan pekerjaan, ekonomi, pasangan, anak-anak, lingkungan, bahkan tekanan dari dirinya sendiri.
Masalahnya bukan pada adanya tekanan, tetapi pada cara manusia memaknai tekanan tersebut.
Dalam psikologi modern, stres muncul bukan semata-mata karena peristiwa, melainkan karena cara seseorang menafsirkan peristiwa itu. Apa yang dianggap ancaman akan menjadi stres. Apa yang dianggap tantangan akan menjadi peluang pertumbuhan.
Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ujian adalah bagian dari kehidupan, bukan tanda bahwa Allah meninggalkan manusia.
Orang yang sehat pikirannya mampu mengubah tekanan menjadi energi kemajuan. Ia tidak larut dalam keluhan, tetapi fokus pada solusi. Ia tidak bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” melainkan, “Apa pelajaran yang Allah ingin ajarkan kepadaku?”
Karena itu, salah satu bentuk syukur atas kesehatan pikiran adalah melatih pola pikir positif, memperbanyak refleksi, memperkuat makna hidup, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sehat Perasaan: Jalan Menuju Kedamaian
Banyak orang tubuhnya sehat, pikirannya cerdas, tetapi hidupnya tidak bahagia. Penyebabnya adalah sakit pada wilayah perasaan.
Penyakit hati sering kali lebih berbahaya daripada penyakit fisik.
Membangun hubungan sosial yang sehat
Sebagian penderitaan manusia lahir bukan karena kekurangan, tetapi karena perbandingan.
Ketika orang lain sukses, ia iri.
Ketika orang lain gagal, ia senang.
Ketika berada di atas, ia sombong.
Ketika berada di bawah, ia minder.
Inilah penyakit hati yang menghancurkan kedamaian.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Janganlah kamu iri terhadap karunia yang Allah berikan kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 32)
Manusia yang sehat emosinya mampu bersyukur atas nikmatnya sendiri tanpa harus menderita karena nikmat orang lain.
Ia terbebas dari penyakit “SKS” — susah kalau orang senang, dan senang kalau orang susah.
Membina spiritualitas
Pada puncaknya, kesehatan emosi tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas.
Allah berfirman mengenai penciptaan manusia:
“Kemudian Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku.”
(QS. Al-Hijr [15]: 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya tubuh biologis. Di dalam dirinya terdapat dimensi ruhani yang menghubungkannya dengan Sang Pencipta.
Para ulama dan ahli tasawuf menjelaskan bahwa kegelisahan terdalam manusia muncul ketika ia jauh dari sumber ruhnya, yaitu Allah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Karena itu manusia membutuhkan hubungan vertikal dengan Tuhannya sebagaimana ia membutuhkan makanan bagi tubuhnya.
Ungkapan hikmah menyatakan:
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.”
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Ketika seseorang menyadari siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali, maka banyak kegelisahan hidup akan kehilangan kekuatannya.
Syukur, Ikhlas, dan Husnuzan: Tiga Pilar Kesehatan Holistik
Pada akhirnya, kesehatan jasmani, pikiran, dan perasaan bertemu pada satu titik yang sama, yaitu kualitas jiwa.
Ada tiga fondasi yang menjaga kesehatan manusia secara utuh.
Pertama, syukur.
Syukur membuat manusia melihat nikmat yang dimiliki, bukan terus menghitung kekurangan.
Kedua, ikhlas.
Ikhlas membebaskan hati dari beban yang tidak perlu dipikul.
Ketiga, husnuzan kepada Allah.
Keyakinan bahwa Allah selalu menghadirkan hikmah di balik setiap peristiwa membuat manusia tetap tenang dalam segala keadaan.
Allah berjanji:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim [14]: 7)
Mungkin hari ini kita masih sehat. Kita masih mampu berjalan, berbicara, berpikir, tersenyum, dan memeluk orang-orang yang kita cintai.
Jangan menunggu sakit untuk memahami betapa berharganya kesehatan.
Sebab kesehatan adalah mahkota yang sering terlupakan. Ia tidak tampak ketika ada. Namun ketika hilang, seluruh dunia terasa tak lagi sama.
Maka sebelum mahkota itu diambil, mari mensyukurinya dengan menjaga tubuh, menenangkan pikiran, membersihkan perasaan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Karena sesungguhnya manusia yang paling kaya bukanlah yang memiliki harta paling banyak, melainkan yang masih dianugerahi kesehatan dan mampu mensyukurinya.**
Indonesia, 22 Juni 2026
——
![]()
