1 Syuro di Al Zaytun: Tokoh Nasional dan Lintas Agama Serukan Persatuan untuk Kemandirian Bangsa


1 Syuro di Al Zaytun: Tokoh Nasional dan Lintas Agama Serukan Persatuan untuk Kemandirian Bangsa

Oleh : Ali Aminulloh

Indramayu-Jayanews.com – Ma’had Al Zaytun kembali menyelenggarakan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang populer dikenal sebagai 1 Syuro pada Selasa, 16 Juni 2026, di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Kegiatan yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah ini mengangkat tema “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”

Hadir dalam kegiatan tersebut para guru besar, akademisi, pejabat TNI, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, pelajar, mahasiswa, serta tamu dari dalam dan luar negeri. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi gambaran nyata semangat persatuan yang menjadi tema utama peringatan tahun ini.

Ketua Panitia, Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.AP., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah lahir dari rangkaian pemikiran dan gagasan besar Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang mengenai pentingnya pendidikan sebagai instrumen utama membangun kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Menurut Eji, selama satu tahun terakhir Al Zaytun secara konsisten menyelenggarakan pelatihan dan simposium pendidikan abad XXI yang menghadirkan puluhan profesor dari berbagai bidang ilmu. Dari proses intelektual tersebut lahir kesadaran bahwa kemandirian bangsa hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan yang transformatif, revolusioner, dan berorientasi masa depan.

Ia juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menikmati suasana damai yang harus dimanfaatkan untuk membangun peradaban, memperkuat pendidikan, dan mempersiapkan generasi penerus bangsa. Karena itu, persatuan menjadi syarat utama bagi terwujudnya cita-cita kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Eji turut menyampaikan suasana kebatinan sivitas Al Zaytun yang masih berduka atas wafatnya Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim, salah seorang eksponen dan pejuang pendidikan Al Zaytun, sekaligus mendoakan kesembuhan Syaykh Panji Gumilang yang sedang menjalani proses pemulihan kesehatan.

Persatuan sebagai Modal Utama Bangsa

Dalam rangkaian sambutan, Drs. Ch. Robin Simanullang, Wartawan Senior Majalah Tokoh Indonesia, menyatakan bahwa Al Zaytun telah berkembang menjadi laboratorium persatuan Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa tidak berhenti sebagai slogan, melainkan dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Al Zaytun.

Sementara itu, Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D., Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas periode 2022–2025 sekaligus anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi periode 2025–2029, menegaskan bahwa Indonesia dibangun oleh para pemikir, pendidik, dan kaum terpelajar yang mampu mewujudkan sesuatu yang tampak mustahil menjadi kenyataan. Ia menilai pendidikan menjadi faktor penentu dalam membangun masa depan bangsa.

Dr. Ir. Johan Pasaribu, Ketua II Ikatan Keluarga Alumni Kebangsaan (IKABNAS) Lemhannas RI, menyoroti pentingnya membangun kemandirian nasional melalui penguatan sumber daya manusia, ketahanan pangan, dan pendidikan vokasi. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi luar biasa yang harus dikelola secara profesional dan nasionalis.

Dari perspektif pertahanan negara, Kolonel Inf. Dikdik Sadikin, Pamen Ahli Bidang Operasi Militer Perang (OMP) Sahli Pangdam III/Siliwangi, menyampaikan bahwa persatuan merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi, perubahan sosial budaya, dan berbagai ancaman terhadap keutuhan negara.

Pendidikan dan Kemandirian untuk Indonesia Maju

Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia dan sumber daya alam yang sangat besar sehingga memiliki modal kuat untuk menjadi bangsa yang mandiri dan maju.

Pandangan serupa disampaikan Ir. Ilham Aidit, Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), yang menyoroti tantangan global berupa perang dagang, perkembangan kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, dan dinamika geopolitik dunia. Menurutnya, persatuan merupakan energi utama agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pemain penting di tingkat global.

Sementara itu, Dr. Kartini Istikomah, S.E., M.M., Dosen Universitas Budi Luhur dan Ombudsman Commissioner RI periode 2011–2016, memberikan apresiasi terhadap praktik toleransi dan keberagaman yang ia saksikan secara langsung di Al Zaytun. Ia menilai pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, serta semangat kemandirian.

Pesan inspiratif disampaikan oleh Patrick Winata, Founder ELV8 Clinic dan Strength and Conditioning Coach. Melalui kisah perjuangannya mencetak Guinness World Record dalam kegiatan kemanusiaan, ia mengajak generasi muda menjadikan momentum hijrah sebagai keberanian untuk berubah, bertumbuh, dan memberi manfaat bagi sesama.

Dalam bidang ketahanan pangan, Dr. Ir. Bagus Priyo Purwanto, M.Agr. bersama tim dari IPB University menegaskan bahwa Indonesia sesungguhnya mampu mencapai kemandirian pangan apabila mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki serta terus mengembangkan inovasi di bidang pertanian dan teknologi pangan.

Merawat Kerukunan dalam Keberagaman

Dari kalangan lintas agama, Pdt. Dr. Amir Aritonang, M.Th., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Peduli Misi Desa, menilai persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menurutnya, Al Zaytun telah menunjukkan praktik kehidupan bersama yang mencerminkan semangat Pancasila dan kebhinekaan Indonesia.

Pdt. Wim Wairata, M.Th., Ketua Umum Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), menekankan pentingnya memperkuat hubungan manusia dengan Sang Pencipta, membangun pendidikan yang transformatif, dan memperkuat kebersamaan sebagai solusi atas berbagai tantangan global.

Sementara itu, Ws. Gunadi Prabuki, S.Pd., M.Ag., Kepala Bidang Pendidikan Tinggi Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, menegaskan bahwa kemajemukan merupakan kenyataan yang harus dikelola melalui moralitas, integritas, dan nilai-nilai kebajikan agar bangsa tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.

Dr. H. Fachrudin Zuhri, Drs., M.Si., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangerang Selatan, menyatakan bahwa Al Zaytun telah menunjukkan praktik nyata nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, persatuan dan kerukunan merupakan prasyarat utama bagi kemajuan bangsa.

Sedangkan Pdt. Ir. Danny Soepangat dari Pasundan Menyembah mengajak seluruh elemen bangsa membangun sinergi lintas agama dan lintas kelompok untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Dari Malaysia, A. Ruzizan Maphilindo menyampaikan apresiasi terhadap model pendidikan dan semangat persatuan yang dikembangkan Al Zaytun. Ia menilai pendekatan pendidikan yang diterapkan Al Zaytun dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara.

Pidato 1 Syuro

Sebagai puncak acara, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, menyampaikan Pidato 1 Syuro 1448 Hijriah.

Dalam pidatonya, Datuk Sir Imam Prawoto menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama untuk memperkuat persatuan dan membangun kemandirian bangsa. Ia menjelaskan bahwa Al Zaytun terus mengembangkan model pendidikan berasrama terintegrasi yang menggabungkan penguatan karakter, nasionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemandirian ekonomi.

Menurutnya, gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama yang terintegrasi merupakan kontribusi nyata untuk mempercepat kemajuan Indonesia sekaligus memperkuat persatuan nasional.

Ia juga menjelaskan berbagai program pengembangan ketahanan dan kedaulatan pangan yang sedang dijalankan Al Zaytun, mulai dari pengembangan varietas padi unggul hingga budidaya durian Kadu Hideng sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi berbasis pendidikan dan pertanian.

Pada kesempatan tersebut, Datuk Sir Imam Prawoto mengajak seluruh hadirin mendoakan kesembuhan Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang agar segera pulih dan kembali memimpin Al Zaytun. Ia juga memimpin doa untuk Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim yang telah mengabdikan hidupnya bagi perjuangan pendidikan dan pembangunan Al Zaytun.

Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun akhirnya menjadi lebih dari sekadar pergantian tahun. Momentum ini menjadi ruang perjumpaan gagasan, penguatan toleransi, refleksi kebangsaan, serta peneguhan komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang bersatu, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global.**


AA/Red
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!