Ketika Teologi Bertemu Algoritma: Dari Al-Zaytun, Pesan Perdamaian Itu Menggema ke Dunia
Oleh: Ali Aminulloh
INDRAMAYU-JAYANEWS.COM — Sebuah pemandangan yang tidak biasa terlihat di Mahad Al-Zaytun, Rabu (10/6/2026). Di tengah hamparan kawasan pendidikan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia, para guru besar, akademisi, tokoh agama, mahasiswa, santri, peneliti, dan pemerhati pendidikan berkumpul dalam satu forum internasional untuk membicarakan sebuah tema yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern: Theology and Popular Culture atau Teologi dan Budaya Populer.
Di era ketika kitab suci, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai arus informasi hidup dalam satu genggaman telepon pintar, pertanyaan besar yang muncul bukan lagi apakah teknologi akan memengaruhi manusia, melainkan apakah nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan masih mampu membimbing peradaban di tengah derasnya perubahan zaman.
Seminar Internasional yang diselenggarakan Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS) tersebut menghadirkan empat pembicara dengan perspektif yang saling melengkapi. Mereka adalah Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T., Prof. Dr. Idzam Fautanu, M.A., Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., serta keynote speaker Rev. Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D. dari Concordia University, St. Paul, Amerika Serikat.

Seminar dibuka oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E. selaku Panitia yang sekaligus menyampaikan sambutan mewakili rektor IAI AL-AZIS. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan salam dan pesan dari Grand Chancellor IAI AL-AZIS, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, S.Sos., M.P., serta Rektor IAI AL-AZIS Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC., yang berhalangan hadir. Syaykh Al-Zaytun tidak dapat mengikuti kegiatan karena sedang menjalani agenda pemeriksaan kesehatan yang telah terjadwal sebelumnya, sementara Rektor IAI AL-AZIS berhalangan hadir karena kondisi kesehatan yang memerlukan istirahat dan pemulihan.
Mewakili pimpinan institusi, Ali Aminulloh menyampaikan pesan dari Rektor IAI, yaitu mengajak seluruh peserta untuk menjadikan seminar sebagai ruang dialog peradaban. Menurutnya, dunia saat ini menghadapi tantangan serius berupa prasangka, diskriminasi, polarisasi sosial, dan penyalahgunaan teknologi yang dapat menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, pendidikan dan teologi harus hadir sebagai kekuatan moral yang mampu mengarahkan perkembangan budaya populer menuju kehidupan yang lebih damai, adil, dan manusiawi.
“Kemajuan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi oleh kemampuannya memuliakan manusia,” demikian salah satu pesan yang menjadi ruh seminar tersebut.
Toleransi yang Tidak Berhenti pada Wacana
Nuansa dialog lintas agama sebenarnya telah terasa sejak sambutan awal yang disampaikan Imelda V.M. Aritonang, MA. M.M. dari Lutheran Heritage Foundation Indonesia.
Dengan hangat ia mengenang hubungan panjang keluarganya dengan Al-Zaytun yang berawal dari almarhum Pendeta Dr. S.M. Siahaan yang pernah mengajar Bahasa Ibrani di Al-Zaytun. Pada masa itu berbagai stigma dan prasangka masih banyak berkembang. Namun pengalaman yang dirasakan justru sebaliknya: keterbukaan, penghormatan, dan persaudaraan. Hubungan tersebut bahkan terus terjalin hingga puluhan tahun kemudian.
Bagi Imelda, seminar ini menjadi bukti bahwa toleransi bukan sekadar slogan. Toleransi adalah pengalaman nyata yang tumbuh melalui pendidikan, dialog, dan perjumpaan antarmanusia.

Ketika AI Masuk ke Ruang Kuliah
Tema seminar menjadi semakin aktual ketika Dr. Irvan Iswandi, SE. MT. memaparkan hasil penelitiannya mengenai etika digital berbasis teologi dalam pengelolaan sistem informasi perguruan tinggi Islam.
Menurutnya, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. AI digunakan untuk belajar, melakukan penelitian, membantu menyusun tugas, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik. Namun di balik manfaat besar tersebut, muncul berbagai tantangan baru seperti pelanggaran privasi, penyalahgunaan data, bias algoritma, plagiarisme berbasis AI, hingga ancaman keamanan siber.
Karena itu, transformasi digital tidak boleh hanya bertumpu pada aspek teknis. Perguruan tinggi membutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kuat. Irvan menawarkan kerangka etika digital yang dibangun di atas nilai-nilai Tauhid, Amanah, Adil, Ihsan, dan Maslahah sebagai pedoman dalam tata kelola teknologi dan kecerdasan buatan.
Baginya, teknologi harus tetap menjadi alat yang melayani manusia, bukan justru mengendalikan manusia.
Teologi yang Berdamai dengan Zaman
Suasana seminar semakin hidup ketika Prof. Dr. Idzam Fautanu, MA. tampil dengan gaya khasnya yang komunikatif dan penuh humor.
Alih-alih langsung membahas teori, ia terlebih dahulu menceritakan pengalamannya berkeliling Al-Zaytun selama berjam-jam. Ia mengamati fasilitas pendidikan, pola pembinaan santri, pemenuhan gizi, hingga integrasi antara pendidikan, ekonomi, budaya, dan pembangunan masyarakat yang menurutnya berjalan secara holistik.
Dari pengamatan tersebut, ia melihat bahwa pendidikan di Al-Zaytun tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan, melainkan berupaya membangun peradaban secara menyeluruh.
Masuk ke substansi tema, Idzam menegaskan bahwa umat beragama tidak boleh memusuhi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun budaya populer. Dunia modern bukan musuh yang harus dijauhi, melainkan realitas yang harus dihadapi secara kreatif dan produktif.
Menurutnya, teologi harus mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Agama harus hadir memberikan arah moral, bukan menjadi penghalang kemajuan ilmu pengetahuan.
Informasi Kini Tidak Lagi Dicari
Pandangan lain disampaikan Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed. yang mengangkat tema transformasi pendidikan Islam di era revolusi informasi.
Menurutnya, manusia saat ini hidup pada masa yang unik. Jika dahulu orang mencari informasi melalui mesin pencari, kini justru informasi yang mencari manusia. Algoritma digital menghadirkan informasi secara terus-menerus tanpa henti, membentuk cara berpikir, cara memandang dunia, bahkan cara manusia mengambil keputusan.
Dalam situasi seperti itu, lembaga pendidikan Islam dituntut melakukan transformasi besar. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki karakter kuat, kemampuan literasi yang baik, serta kompetensi yang mampu menjawab tantangan global.
Ia mengingatkan bahwa keruntuhan suatu bangsa sering kali tidak dimulai oleh perang, tetapi oleh rusaknya kualitas pendidikan dan hilangnya integritas dalam proses pembelajaran.
“Wow”: Kesan dari Amerika
Puncak seminar terjadi ketika Rev. Prof. Dr. Joshua David Hollmann, Ph.D menyampaikan keynote speech.
Akademisi asal Amerika Serikat itu mengaku telah mempelajari banyak hal tentang Al-Zaytun sebelum datang ke Indonesia. Namun setelah melihat langsung kehidupan di dalamnya, ia menyimpulkan seluruh pengalamannya hanya dalam satu kata:
“Wow.”

Ia mengaku belum pernah melihat institusi pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan, toleransi, perdamaian, pembangunan masyarakat, dan harmoni sosial secara demikian menyeluruh. Pengalaman tersebut, menurutnya, akan dibawa kembali ke Amerika Serikat untuk dibagikan kepada mahasiswa, kolega, dan masyarakat internasional.
Secara khusus ia menyoroti pentingnya toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Dalam pandangannya, dunia modern membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kerja sama antarumat beragama. Ia melihat Al-Zaytun memberikan contoh konkret tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Merawat Peradaban di Tengah Perubahan
Pada akhirnya, seminar ini tidak hanya berbicara tentang teologi, teknologi, atau budaya populer. Lebih dari itu, seminar ini berbicara tentang masa depan manusia.
Tentang bagaimana pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu hidup dalam keberagaman.
Tentang bagaimana teknologi harus digunakan secara etis.
Tentang bagaimana agama harus hadir sebagai kekuatan yang memuliakan manusia.
Dan tentang bagaimana dialog harus dikedepankan untuk menggantikan prasangka.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh algoritma, identitas, dan kepentingan, pesan yang lahir dari Seminar Internasional IAI AL-AZIS terasa sangat relevan:
Peradaban tidak dibangun oleh teknologi semata. Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu memadukan ilmu pengetahuan, iman, toleransi, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.
Dan pada hari itu, di Kampus Peradaban Al-Zaytun, pesan tersebut bukan hanya dibicarakan. Ia sedang dipraktikkan.**
Red/AA
——-
![]()
