Dari Kesetaraan Pendidikan Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkeadilan

Dari Kesetaraan Pendidikan Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkeadilan

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME

Mahad Al-Zaytun kembali menegaskan perannya dalam mendorong kemajuan pendidikan nasional. Melalui pelatihan pelaku didik yang dilakukan secara berkelanjutan, lembaga pendidikan berasrama ini menunjukkan komitmen nyata untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia. Pendidikan, bagi Al-Zaytun, bukan sekadar proses belajar-mengajar, melainkan investasi peradaban yang menentukan arah bangsa ke depan.
Pelatihan pelaku didik mengangkat tema besar Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad ke-21 dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia. Tema tersebut lahir dari kesadaran bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan besar, mulai dari ketimpangan kualitas pendidikan hingga tuntutan daya saing global. Pendidikan berasrama dinilai memiliki posisi strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan nilai.

Pendidikan dan Ekonomi: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan
Pada sesi ke-30 yang digelar Ahad, 28 Desember 2025, Mahad Al-Zaytun menghadirkan Prof. Buyung Sarita, Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam paparannya, Prof. Buyung menegaskan bahwa pendidikan dan pertumbuhan ekonomi merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Dengan judul paparan Kesetaraan Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi, Prof. Buyung menjelaskan bahwa ketimpangan pendidikan akan melahirkan ketimpangan ekonomi. Daerah yang tertinggal secara pendidikan akan sulit mengejar kemajuan, sementara wilayah yang pendidikannya maju akan terus melesat. Karena itu, pemerataan dan kualitas pendidikan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pendidikan Berasrama dan Pembentukan Karakter Bangsa
Menurut Prof. Buyung, pendidikan berasrama memiliki keunggulan penting karena proses pembelajaran berlangsung secara utuh. Peserta didik tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal utama dalam membangun sumber daya manusia unggul.
Ia menilai bahwa model pendidikan seperti ini relevan untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045, yaitu generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan siap menghadapi tantangan global.

Belajar dari Negara Maju: Pendidikan sebagai Investasi Utama
Prof. Buyung juga menyinggung pengalaman berbagai negara maju yang berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi serius di sektor pendidikan. Pendidikan yang merata terbukti mampu melahirkan tenaga kerja produktif, memperkuat kelas menengah, serta menciptakan stabilitas sosial dan ekonomi.
Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi jika berani menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional, bukan sekadar sektor pelengkap.

Nilai Etika dan Ekonomi yang Berkeadilan
Menariknya, Prof. Buyung mengaitkan pembahasan ini dengan Islamicity Economic Index yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi justru banyak menerapkan nilai kejujuran, keadilan, dan tata kelola yang bersih. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip moral dan etika dalam Islam.
Pesannya jelas: pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan tidak mungkin tercapai tanpa fondasi nilai dan etika yang kuat. Pendidikan memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini.

L-STEAMS: Mengelola Pendidikan dan Keuangan Secara Berkelanjutan
Dalam konteks pengelolaan pendidikan, Prof. Buyung memperkenalkan pendekatan L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual). Pendekatan ini digunakan untuk membangun sistem pendidikan, termasuk pengelolaan keuangan, secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Keuangan pendidikan, menurutnya, tidak boleh dipahami semata sebagai urusan anggaran. Ia harus dikelola secara transparan, berbasis data, memanfaatkan teknologi, dirancang dengan sistem yang rapi, serta dilandasi kreativitas dan ketepatan perhitungan. Yang terpenting, seluruh proses tersebut harus berlandaskan nilai kejujuran dan amanah.
Melalui pendekatan ini, keuangan pendidikan tidak hanya menopang operasional lembaga, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi peserta didik.

Pendidikan sebagai Jalan Menuju Keadilan Sosial
Pelatihan pendidik di Mahad Al-Zaytun menjadi penegasan bahwa pendidikan adalah titik awal perubahan besar. Kesetaraan pendidikan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Dari ruang-ruang pendidikan berasrama inilah, harapan akan lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berkeadilan terus ditumbuhkan menuju Indonesia Emas 2045.**


Indonesia, 29 Desember 2025
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!