Jalan Tengah: Revitalisasi Tanpa Mengorbankan


Jalan Tengah: Revitalisasi Tanpa Mengorbankan

Oleh : Wari Wicatman


Ketahanan pangan nasional penting. Tapi keberlangsungan hidup petambak pesisir juga bagian dari ketahanan pangan. PSN akan gagal kalau memicu konflik sosial. Belajar dari kasus lain, ada 4 syarat agar PSN tambak tidak jadi bumerang:
**Masalah** **Solusi Regulasi** **Contoh Praktik**
**Status penggarap lemah** Percepat IPHS via SK.4967/MENLHK/2018. Penggarap legal dapat izin 35 th Di Pati, petani hutan dapat IPHS & tidak bisa digusur PSN
**Ganti rugi tidak adil** Wajib musyawarah & *appraisal* independen UU 2/2012. Bukan NJOP. PSN Bandara Kertajati pakai harga pasar + tanaman
**Takut kehilangan kerja** Skema plasma 20% + pelatihan wajib masuk dokumen IPKH PSN PSN Gula Glenmore, 30% lahan untuk eks petani tebu
**Lingkungan rusak** AMDAL wajib + 20% kawasan untuk mangrove & IPAL komunal Vietnam wajib 1 ha mangrove tiap 5 ha tambak


*Penutup: Jangan Pilih Antara Ikan atau Nelayan*

Revitalisasi Tambak Pantura adalah keharusan kalau Indonesia mau swasembada protein 2030. Tambak kumuh seluas Monas tidak akan kasih makan 280 juta orang.

Tapi ketahanan pangan bukan cuma soal tonase. *Ketahanan pangan juga soal keberlangsungan hidup produsennya.* Kalau 10.000 petambak Indramayu kehilangan akses lahan, lalu siapa yang jamin anak mereka bisa beli ikan?

Pemerintah punya instrumen hukum untuk menang-menang: IPHS, KTHR, plasma 20%, ganti untung layak. Tinggal kemauan politik untuk duduk bareng, bukan gusur bareng.

Karena tujuan akhir PSN bukan cuma “tambak modern”, tapi “petambak sejahtera”. Kalau petambaknya sekarat, untuk siapa ketahanan pangan itu dibangun?

Indramayu, 15 April 2026.
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!