Membongkar Nalar Bangsa: Dari Forensik Pemikiran Hingga Nalar Yang Hilang
“Disarikan dari Pandangan Rocky Gerung dalam Diskusi Buku karya Connie Rahakundini Bakri
Penulis : Ali Aminulloh
Dalam diskusi mengulas Buku Karya Connie Rahakundini Bakri, Rocky Gerung membuka pemaknaan filsafat sebagai “forensik” yang menyelidiki mengapa individu kehilangan kemampuan untuk menyuarakan pikirannya, terutama merujuk pada sejarah penindasan intelektual terhadap perempuan yang dulu dianggap tidak mampu berpikir atau “delirium” – the unspeakable. Namun, di tengah realitas tersebut, muncul sosok Connie Rahakundini Bakrie, yang digambarkan sebagai “the unstoppable” dalam kacamata filosofis. Kehadirannya melahirkan optimisme filosofis karena ia terus-menerus mengolah pikirannya demi mewujudkan “a conscious nation”. Ironisnya, bagi pihak tertentu seperti Jokowi, Connie justru dianggap sebagai “femme fatale” atau “perempuan berbahaya” dan bahkan “roots of all evil”. Kondisi ini mendorongnya untuk bergabung dengan komunitas yang berupaya memahami realitas kebangsaan, berbeda dengan mereka yang sekadar “pura-pura paham”.
Gerung kemudian mengaitkan isu ini dengan pengalaman pribadinya di Rusia, khususnya saat mendaki Gunung Elbrus. Ia menekankan bahwa Elbrus, yang kini dikuasai Rusia, awalnya adalah milik Persia, direbut setelah kekalahan Persia dalam perang Rusia-Persia. Ia membandingkan akuisisi ini dengan situasi di Sumatera Utara dan Aceh, di mana empat pulau tidak dikembalikan setelah perang, sebuah keputusan strategis Presiden Prabowo untuk mencegah kemunculan kembali hasrat separatisme. Dalam perjalanan mencari pemahaman pasca pendakian Elbrus, Gerung menemukan bahwa patung Lenin masih banyak di Rusia, bahkan di kota kecil Minerayewodi yang harum karena kandungan mineral pegunungannya digunakan untuk parfum. Ia melihat keharuman fisik kota tersebut sebagai metafora untuk “keharuman pikiran” Connie yang terekam dalam ratusan halaman puisi lirisnya.
Kritik Nalar Publik dan Pentingnya Kesadaran Berbangsa
Buku Connie, menurut Gerung, adalah medium bagi kegelisahan, kemarahan, dan frustrasinya terhadap Republik, berfungsi sebagai sumber bagi pembaca untuk melacak akar frustrasi di negeri ini. Peluncuran buku ini terjadi di tengah “Indonesia yang sedang kehilangan akal,” yang diistilahkan sebagai “kelebihan mineral, kekurangan pikiran”. Gerung menegaskan bahwa fondasi Republik ini adalah pertengkaran pikiran yang sehat, sebagaimana dicontohkan oleh Soekarno yang berdebat dengan Natsir dan Sultan Syahrir. Ia mengkritik budaya saat ini di mana sedikit olok-olok bisa berujung pada laporan polisi dan BAP, padahal olok-olok adalah bagian dari upaya membangun “a conscious nation”. Ia mengilustrasikan ini dengan kisah Haji Agus Salim yang diejek “kambing” karena penampilannya saat berbicara di podium, namun tidak melaporkannya kepada pihak berwenang, bahkan mempertanyakan mengapa ada “kambing” di forum manusia.
Perbandingan antara puncak Elbrus dan “gorong-gorong di Merdeka Selatan” secara tajam menggambarkan jurang intelektual yang kian melebar di Indonesia. Gerung menggarisbawahi kekeliruan anggapan bahwa intelektualitas hanya diukur dari ijazah. Ia menegaskan bahwa ijazah hanyalah bukti pernah terdaftar di sekolah, bukan jaminan kemampuan berpikir. Ia mengakhiri pemikirannya dengan penekanan pada pencapaian “a Conscious Nation” yang selalu dalam proses pembentukan (“in the making” dan “on going”). Meskipun dihadapkan pada “bonus demografi” atau pertumbuhan ekonomi, tanggung jawab utama adalah menghasilkan kesadaran. Ia menekankan pentingnya belajar dari “pengalaman pahit” dan “past memory,” namun senantiasa mengusung “politics of hope,” di mana “yesterday is just a dream, tomorrow only ambition, but today, your consciousness makes yesterday a dream and happiness and tomorrow a visit of hope”.
Epilog
Dengan demikian, narasi ini tidak hanya menyoroti kegelisahan seorang Connie Rahakundini Bakrie yang terangkum dalam karyanya, melainkan juga sebuah refleksi mendalam Rocky Gerung tentang kondisi nalar kebangsaan. Ia mengajak audiens untuk menyadari bahwa kemajuan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada pertumbuhan material semata, melainkan pada kapasitas kolektifnya untuk berpikir kritis, berdialog, dan senantiasa berproses menuju kesadaran yang utuh dan bertanggung jawab.***
Jakarta, 20 Juni 2025
—
![]()
