Membangun Kesadaran Dan Peradaban: Refleksi Soraya Haque Atas Buku Connie Rahakundini Bakrie


Membangun Kesadaran Dan Peradaban: Refleksi Soraya Haque Atas Buku Connie Rahakundini Bakrie

*Tulisan berseri ke 6 dari 7, disarikan dari pandangan Dr. Soraya Jasmine Haque, SH., MH

Penulis : Ali Aminulloh

Buku sebagai Teman Tidur: Mengurai Kesadaran dan Peradaban
Soraya Haque menggambarkan buku Connie Rahakundini Bakri sebagai “sebuah pemikiran yang hidup”, yang senantiasa mempertanyakan identitas diri demi membangun Republik Indonesia yang berkesadaran. Setelah mendalami buku tersebut, Soraya menemukan dua kata kunci yang berulang: “kesadaran” dan “peradaban”. Ia melihat kedua konsep ini dapat saling bertautan, bahkan bersimbiosis mutualisme, menjadi pijakan bagi manusia Indonesia yang hidup dalam norma dan kaidah masyarakat.
Kesadaran, menurut Soraya, bukanlah sesuatu yang dimiliki semua orang. Ia adalah perjalanan panjang dalam dialog dan kontemplasi pikiran manusia, yang pada akhirnya mampu mengenali keinginan, ego, dan motivasi diri. Connie Rahakundini Bakri sendiri mengakui bahwa kontemplasi ini menjadi “kata-kata yang indah yang terkulis di dalam buku ini”, yang lahir dari rasa sakit hati yang mendalam akibat serangan buzzer. Kontemplasi ini, jika dilakukan dengan baik, mampu menghidupkan intrapersonal manusia, memungkinkannya merefleksikan, mengevaluasi, dan menerapkan sikap hidup yang membangun relasi baik dengan diri sendiri maupun orang lain, sejalan dengan teori Gardner.

Peradaban di Persimpangan Jalan: Tantangan dan Harapan Indonesia
Peradaban diartikan sebagai perkembangan kebudayaan yang bercirikan intelektual, keindahan, dan spiritualitas. Jika dikaitkan dengan Indonesia, kemajuan peradaban seharusnya mencakup sistem ilmu pengetahuan, teknologi, masyarakat kota yang maju, serta kemampuan menghadapi kompleksitas sosial. Namun, setelah membaca buku Connie, Soraya mempertanyakan posisi Indonesia: apakah berada di tengah-tengah, tidak hidup pun tidak mati, atau justru semakin mundur.
Soraya menyoroti bahwa kesadaran masyarakat Indonesia yang semakin berkembang seharusnya mampu melihat perbedaan. Namun, ia mengamati betapa mudahnya masyarakat diadu domba, bahkan dengan hal-hal sederhana seperti penampilan atau tindakan melepaskan sepatu. Teori adu domba ini, menurutnya, berhasil membuat Indonesia semakin terpecah belah, bukannya bersatu, dan perlahan runtuh. Sebagai seorang yang bukan politisi dan tidak menyukai politik karena dianggap “bising”, Soraya, yang berlatar belakang dokter hukum forensik, menegaskan tanggung jawabnya untuk mengedukasi generasi penerus agar berani berpikir berbeda dan keluar dari kotak pandang yang sempit. Ia melihat ketakutan akan penilaian agama dan budaya tertentu menghambat keberanian untuk berbeda. Oleh karena itu, Soraya menekankan pentingnya setiap individu berperan sesuai kemampuan masing-masing untuk memajukan Indonesia di segala aspek. Ia mengakhiri dengan harapan bahwa pikiran manusia harus hidup, mempertanyakan pikiran, perasaan, dan identitasnya sendiri, sebagai tugas bersama.

Epilog
Diskusi yang dipantik oleh buku Connie Rahakundini Bakri, sebagaimana disuarakan oleh Soraya Haque, bukan sekadar kajian intelektual, melainkan sebuah panggilan untuk introspeksi kolektif. Pertanyaan fundamental tentang kesadaran dan peradaban yang diajukan Haque menjadi cerminan tantangan yang dihadapi bangsa ini. Di tengah hiruk pikuk polarisasi, gagasan untuk membangun relasi baik, berani berpikir kritis, dan berkontribusi sesuai peran masing-masing, menjadi sebuah harapan nyata menuju Indonesia yang lebih maju dan berkesadaran.**


Jakarta, 20 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!