Menelisik Keberanian Connie Rahakundini Bakrie Dalam Sorotan Akbar Faizal
*Tulisan berseri ke 5 dari 7, disarikan dari pandangan Akbar Faizal
Penulis : Ali Aminulloh
Akbar Faizal, dalam kesaksiannya, menyoroti sosok Connie Rahakundini Bakri sebagai seorang perempuan dengan “nyali” yang langka. Connie, menurut Faizal, adalah individu yang berani berbicara dan mengambil sikap, bahkan ketika hal itu berpotensi menimbulkan kerumitan. Keberanian ini terbukti dalam dua insiden yang diceritakan oleh Faizal. Pertama, ketika Connie datang ke podcast Faizal setelah ia gagal menjadi anggota DPR, Connie membeberkan temuannya terkait potensi negara yang harus menyiapkan APBN sebesar Rp 1.760 triliun untuk persiapan rencana pertahanan. Faizal mengakui bahwa informasi ini sangat mengejutkan dan Connie menyampaikannya tanpa rasa takut. Insiden kedua terjadi ketika Hasto Kristianto menelepon Faizal, memberitahukan bahwa ia akan dijadikan tersangka dan sumber informasinya adalah Connie. Kehadiran Connie di balik informasi ini membuat Faizal merasa “mati aku” karena harus menjaga “China’s Wall” pembicaraan agar tidak terlihat memihak. Namun, dari kedua peristiwa ini, Faizal menyimpulkan bahwa Connie adalah individu yang menempatkan dirinya untuk kepentingan masyarakat. Faizal juga sempat salah sangka ketika Connie memberitahunya akan pergi ke Rusia, berpikir Connie melarikan diri, namun kemudian menyadari bahwa Connie diundang sebagai guru besar. Proses komunikasi berkelanjutan dengan Connie akhirnya memperkuat pemahaman Faizal bahwa sikap yang diambil Connie adalah sesuatu yang patut ditiru oleh banyak orang.
Data, Realitas, dan Peradaban: Intisari Pemikiran Connie dalam Buku Barunya
Kesan mendalam Faizal terhadap Connie semakin diperkuat setelah membaca buku terbaru Connie Rahakundini Bakrie. Faizal mencatat bahwa buku tersebut mengandung istilah-istilah menarik seperti “tibruh dalam sejarah yang hebat” dan pembahasan tentang “ekonomi profetik”, yang mengartikan kekayaan sebagai harmoni, bukan eksploitasi. Yang paling ditekankan oleh Faizal adalah bahwa tulisan Connie didasarkan pada data dan bacaan realitas. Faizal memberikan contoh data deforestasi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan (450 ribu hektare dengan 1.123 IUP), Sumatera (300 ribu hektare dengan 874 IUP), Papua (2.500 hektare dengan 659 IUP, termasuk Raja Ampat yang sedang ramai), Sulawesi (150 ribu hektare dengan 431 IUP), dan Jawa (50 ribu hektare dengan 210 IUP). Data-data ini, menurut Faizal, memperlihatkan bahwa Connie menuliskan sesuatu yang layak dibaca karena keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran. Faizal bahkan mengakui bahwa Connie terkadang lebih berani dari dirinya. Diskusi buku ini, bagi Faizal, adalah ajakan dari Connie untuk “cakap-cakap menuju sebuah peradaban”.
Epilog
Dalam suasana diskusi yang penuh refleksi, Akbar Faizal menutup tanggapannya dengan sebuah permintaan maaf yang tulus kepada Rocky, rekannya sesama pembicara. Ia mengakui kesalahan masa lalu dalam perdebatan mereka dan menyatakan, “Rok, lu menang, gue yang salah”. Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada Rocky, tetapi juga kepada semua yang hadir, untuk “mencintai secukupnya, membenci secukupnya pula”. Sebuah penutup yang menyiratkan kedewasaan dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan, sekaligus menegaskan semangat dialog yang konstruktif dalam mencari kebenaran.**
Jakarta, 20 Juni 2025
—
![]()
