Pengukuhan Tiga Guru Besar UNJ: Ajang Ilmiah dan Silaturahim Penuh Makna

Pengukuhan Tiga Guru Besar UNJ: Ajang Ilmiah dan Silaturrahim Penuh Makna


JAKARTA-JAYA NEWS.COM – Hari Kamis, tanggal 12 Juni 2025, menjadi hari bersejarah bagi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum.

UNJ mengukuhkan tiga guru besar sekaligus: Prof. Dr. Abdul Haris Fatgehipon, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Ciek Julyati Hisyam, M.M., M.Si., dan Prof. Dr. Robet, M.A. Momen ini bukan hanya menjadi tonggak akademik, tetapi juga ajang silaturrahim penuh kehangatan dan inspirasi.

Sidang Pengukuhan: Ilmu,Musik,dan Kehangatan

Sidang pengukuhan dibuka secara resmi oleh Rektor UNJ, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., yang juga memberikan sambutan pembuka. Dalam pidatonya, Rektor menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada para tokoh masyarakat, pejabat negara, perwakilan TNI dan Polri, serta akademisi yang hadir dalam momen penting ini. Ia juga menyampaikan kebanggaan atas bertambahnya tiga guru besar di UNJ, yang kini memiliki total 199 profesor dari berbagai disiplin ilmu.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan riwayat hidup dan orasi ilmiah dari masing-masing guru besar.

Prof. Abdul Haris menyampaikan orasi bertema “Resolusi Konflik Ambon 1999–2022: Pelajaran Berharga dalam Menjaga Perdamaian”, sebuah refleksi penting tentang perdamaian pasca-konflik.

Kemudian, Prof. Ciek Julyati menyuguhkan orasi bertajuk “Pinjaman Online dan Judi Online dalam Masyarakat Modern: Ditinjau dari Perspektif Sosiologi Perilaku Menyimpang”, yang mengupas fenomena sosial kontemporer.

Terakhir, Prof. Robet memaparkan tema menarik: “Dari Emansipasi ke Ekosipasi: Politik Ekologi dan Kewarganegaraan Baru Indonesia”, yang membuka cakrawala berpikir tentang lingkungan dan peran warga negara.

Menariknya, di setiap akhir orasi, hadirin disuguhi lantunan musik tematik yang menguatkan pesan dari orasi tersebut. Orasi Prof. Abdul Haris dan Prof. Robet ditutup dengan lagu “Nyiur Hijau” dan “Tanah Airku”, menambah suasana khidmat dan patriotik. Sementara itu, orasi Prof. Ciek ditutup secara menggelitik dan meriah dengan lagu “Judi” dari Rhoma Irama, yang disambut suasana riang dan tepuk tangan para hadirin.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan dan penyerahan Surat Keputusan Rektor tentang penganugerahan guru besar, serta pengalungan Samir oleh Ketua Senat. Sebagai penutup prosesi, doa dipimpin oleh Dr. Ahmad Fauzi, S.Pd., M.Ak., kemudian ditutup secara resmi oleh Rektor UNJ.

Ramah Tamah dan Dialog Strategis antar Tamu

Usai sidang pengukuhan, tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada para guru besar yang dikukuhkan. Suasana hangat dan kekeluargaan tampak dalam sesi foto bersama dan ramah tamah yang dilanjutkan dengan makan siang. Tamu ditempatkan sesuai dengan pengundangnya, menciptakan suasana yang lebih akrab dan terorganisir.

Tamu undangan dari Prof. Ciek didominasi oleh kolega dari Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) dan Mahad Al-Zaytun. Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Ketua Umum IPHI, Dr. Ir. H. Erman Soeparno, MBA., M.Si., serta dari Indramayu hadir Dr. Dudung Badrun, tokoh HKTI dan Ketua LMDH H. Anwar Fatoni. Delegasi dari Al-Zaytun dipimpin oleh Rektor Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC, dan Ketua Majelis Pengendali Asrama Pelajar Al-Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E.

Dalam suasana makan siang yang santai, berlangsung dialog produktif antar tamu. Duduk satu meja, para tokoh seperti Datuk Imam Prawoto, Dr. Dudung Badrun, Dr. Ali Aminulloh, Dr. Budi Firmansyah, Dr. Muhammad Komhois, dan H. Anwar Fatoni berdiskusi tentang peluang kerja sama pengembangan ekonomi berbasis pertanian. Obrolan penuh gagasan ini menunjukkan bahwa silaturrahim akademik bisa menjadi pemicu kolaborasi strategis.

Menambah makna kebersamaan, H. Sugeng Pujiyono, ST., SE., M.Si., suami Prof. Ciek, memberikan cendera mata kepada Syaykh Al-Zaytun berupa dua bibit pohon pisang Gebyar, varietas lokal yang bernilai ekonomi tinggi. Mengingat Al-Zaytun memiliki laboratorium kultur jaringan, diharapkan bibit ini bisa dikembangkan secara ilmiah agar tetap menjaga keaslian sifat genetiknya.

Epilog: Dari Kampus untuk Bangsa

Momen pengukuhan tiga guru besar UNJ bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah wujud syukur atas pencapaian intelektual, ruang silaturrahim lintas institusi, dan titik temu antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam balutan kebersamaan dan dialog, harapan besar tumbuh: semoga ilmu yang dikembangkan para guru besar ini membawa manfaat luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemajuan peradaban.**


*Ali Aminulloh
Kontributor Khusus

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!