Hamba Yang Berjalan

Hamba Yang Berjalan


Penulis : Wari

Di sebuah kampung kecil di pinggir bantaran kali Cimanuk kota Indramayu, hiduplah seorang anak manusia.

Ia tidak punya jabatan. Namanya tidak pernah disebut di rapat-rapat besar. Tidak ada papan nama di depan rumahnya yang menuliskan gelar.

Ia tidak punya gelar. Di belakang namanya tidak ada S.Pd, S.E, M.Si, atau Dr. Ijazahnya hanya sampai batas yang mampu dicapai oleh orang tuanya yang miskin.

Ia tidak punya pendidikan tinggi. Ia tidak pernah duduk di bangku universitas megah. Sekolahnya adalah jalanan, pasar, sawah, dan kehidupan itu sendiri.

Orang-orang sering meremehkannya.

“Ah, dia mah siapa?”

Tapi mereka tidak tahu, di dalam dada anak manusia itu, ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang bergelar tinggi dan berjabatan tinggi. Ada ” hati yang hidup.”

Perjalanan Dimulai

Sejak kecil ia sudah belajar, hidup itu bukan tentang siapa yang paling tinggi, tapi siapa yang paling kuat bertahan.

Ia berjalan mengarungi dunia yang penuh godaan.

Ketika orang lain tergoda untuk mengambil yang bukan haknya, ia memilih jujur, walau perutnya lapar.

Ketika orang lain tergoda untuk menipu demi uang cepat, ia memilih bekerja dengan tangannya sendiri, walau hasilnya sedikit, tapi halal.

Ketika orang lain tergoda untuk menjilat atasan demi jabatan, ia memilih diam dan bekerja, karena ia tahu jabatan itu titipan, bukan tujuan.

Dunia menawarkan banyak jalan pintas. Tapi ia memilih jalan yang panjang, jalan yang lurus, jalan yang sepi, karena ia percaya jalan itulah jalan yang diridhai Tuhan.

Cobaan Datang Bertubi-tubi

Hidupnya tidak mudah.

Pernah ia difitnah oleh orang yang pernah ia tolong.

Pernah ia dikhianati oleh teman yang pernah ia beri makan.

Pernah ia jatuh, bangkrut, sakit, dan tidak ada satupun yang datang menolong, kecuali Tuhan.

Tapi ia tidak marah. Ia tidak dendam.

Ia hanya tersenyum dan berkata dalam hatinya:

“Ya Tuhan, kalau ini cobaan-Mu, aku terima. Kalau ini cara-Mu mendidikku, aku ikhlas. Aku ini hamba-Mu, bukan tuan atas hidupku.”

Ia lalui semua itu dengan ” semangat” yang tidak pernah padam. Kalau jatuh, ia bangun lagi. Kalau gagal, ia coba lagi. Kalau dihina, ia diam saja dan tetap bekerja.

Ia lalui dengan ” kesabaran ” yang luar biasa. Ia sabar menunggu rezeki, sabar menghadapi orang yang membencinya, sabar ketika doanya belum dikabulkan. Karena ia tahu, Tuhan tidak pernah terlambat, Tuhan hanya menunggu waktu yang paling tepat.

Ia lalui dengan ” keikhlasan” . Ketika ia menolong orang, ia tidak pernah meminta balasan. Tidak minta disebut namanya di koran. Tidak minta foto-foto. Tidak minta diucapkan terima kasih. Baginya, cukuplah Tuhan yang tahu.

Ia lalui dengan ” kejujuran ” Ia tidak pernah menjual kata-katanya. Ia tidak pernah menjual kebenaran demi uang. Kalau benar, ia bilang benar. Kalau salah, ia bilang salah. Walau yang salah itu orang yang berkuasa.

Dan ia lalui dengan “kepedulian” yang tulus. Ia peduli pada tetangga yang kelaparan. Ia peduli pada anak yatim yang tidak sekolah. Ia peduli pada janda tua yang tidak punya siapa-siapa. Padahal dirinya sendiri juga susah. Tapi ia selalu berkata:

“Saya memang susah, tapi masih ada yang lebih susah dari saya.”

Hidup Adalah Ibadah

Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya:

“Nak, kamu tidak punya jabatan, tidak punya gelar, tidak punya harta. Lalu apa yang kamu cari dalam hidup ini?”

Anak manusia itu tersenyum, lalu menjawab dengan pelan tapi tegas:

“Saya tidak mencari jabatan, karena jabatan akan ditinggalkan. Saya tidak mencari gelar, karena gelar akan dilupakan. Saya tidak mencari harta, karena harta akan diwariskan.”

“Yang saya cari hanya satu Ridhonya Tuhan.”

“Karena hidup ini adalah ibadah. Bekerja itu ibadah. Menolong orang itu ibadah. Sabar itu ibadah. Jujur itu ibadah. Bahkan tersenyum kepada orang lain itu ibadah.”

“Dan ibadah itu adalah pengabdian. Saya ini hamba. Hamba itu tugasnya melayani. Bukan dilayani.”

Orang itu terdiam. Baru kali ini ia mendengar jawaban yang begitu sederhana, tapi begitu dalam.

Hamba yang Bermanfaat

Hari berganti hari. Tahun berganti tahun.

Anak manusia
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!