Seminar Nasional FKH Unud, Wamen Viva Yoga: FKH Harus Berkontribusi Dalam Program Swasembada Protein Hewani

Seminar Nasional FKH Unud, Wamen Viva Yoga: FKH Harus Berkontribusi Dalam Program Swasembada Protein Hewani

BALI-JAYANEWS.COM – “Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud) Saya ditempa dengan keras, tanpa kompromi, setelah melalui proses itu, sekarang Kita bisa bertemu lagi”, ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Ungkapan alumni FKH Unud itu disampaikan saat dirinya menjadi keynote speech Seminar Nasional, Badung, Bali, Jumat (6/11/2026).

Dalam seminar dengan tema ‘Transformasi Kedokteran Hewan Indonesia Dalam Mendukung Kesehatan dan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Pendekatan One Health’ hadir Rektor Unud Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., Dekan FKH Dr. drh. Gusti Ngurah Sudisma, M.Si., perwakilan dari Pemerintah Provinsi Bali, Balai Veteriner, Balai Karantina, FKH dari berbagai perguruan tinggi, pelaku usaha pakan dan obatan-obatan hewan, dan mahasiswa.

Dalam paparan,Viva Yoga mengungkap ada 65 proposal dari berbagai kabupaten dan kota di luar Jawa yang menginginkan dibukanya kawasan transmigrasi baru. Di antara keinginan dibukanya kawasan baru agar di kabupaten itu tidak ada wilayah yang terisolasi. “Juga ada aktivitas ekonomi dan sosial”, ujarnya.

Dari sekian proposal yang disepakati oleh Kementerian Transmigrasi baru di Kota Batam, Kepulauan Riau., dan salah satu kabupaten di Sulawesi yang dikabulkan. “Di Kota Batam kawasan itu adalah Barelang”, ungkapnya.

Ketika kawasan baru di buka di Sulawesi, bupati setempat gembira sebab akses menuju ke sana menjadi terjangkau. Sebelumnya lebih mahal daripada ke Jakarta.

Membuka kawasan baru juga harus berdasarkan di sana ada potensi ekonomi. “Tanpa itu Kita tidak akan buka”, paparnya. Hal demikian ditekankan sebab orientasi transmigrasi saat ini bukan sekadar memindahan penduduk namun pengembangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Transmigrasi dikatakan oleh pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu saat ini masih diminati masyarakat. “Ada 10.000 kepala keluarga mendaftar menjadi transmigran”, ungkapnya. “Program ini belum disosialisasikan, bila disosialisasikan peminatnya akan lebih melimpah”, tambahnya.

Dari program transmigrasi sejak tahun 1950, tercatat ada 2,2 juta transmigran atau 9,2 juta jiwa bersama keluarga mereka. “Transmigran sekarang tidak hanya dari Jawa dan Bali namun juga dari Lampung”, ucapnya.

Kepada peserta seminar, Viva Yoga mengatakan saat ini pemerintah telah sukses dalam program swasembada pangan. “Kawasan transmigrasi berkontribusi dalam kesuksesan ini sebab kawasan transmigrasi merupakan sentra tanaman pangan”, tutur mantan Ketua Umum HMI Cabang Denpasar itu.

Ketika swasembada beras sudah tercapai, menurut Viva Yoga saatnya mendorong swasembada atau kecukupan kebutuhan protein hewani. Jalan menuju ke sana telah dilakukan oleh pemerintah dengan membangun kampung nelayan merah putih dan peningkatan budidaya air tawar. “Kementerian Transmigrasi telah bersinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait hal ini”, ujar mantan Presidium MN KAHMI itu.

Dalam keinginan untuk swasembada protein hewani diharap FKH berkontribusi. Empat belas FKH yang tersebar di berbagai kampus didorong mengambil peran.

Berdasarkan datang komoditas daging sapi/kerbau kebutuhan nasional mencapai 794,29 ribu ton. Sedang produksi kesediaan hanya 421,21 ribu ton. Kebutuhan susu nasional sebanyak 4,7 juta ton, kesediaan 820,87 ribu ton (2025). Sedang untuk daging ayam ras dan telur, Indonesia surplus.

“Kekurangan daging sapi dan susu inilah yang membuat Kita impor”, kata Viva Yoga. Defisit kebutuhan protein hewani dari daging sapi dan susu inilah yang menjadi tantangan dan peluang bagi FKH. Dirinya berharap Indonesia bisa seperti New Zealand. “Di Indonesia lahannya lebih luas dari pada New Zealand dan Kita juga punya savana.

Kementerian Transmigrasi yang memiliki lahan selua 3,1 juta Ha inilah yang akan dikolaborasikan untuk mendukung program swasembada protein hewani.

Untuk merealisasikan swasembada protein hewani perlu disinergikan dengan berbagai pihak antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), pihak swasta, FKH, bahkan mitra dari luar negeri.

Dalam hal ini Kementerian Transmigrasi berencana bersinergi dengan FKH Unud dengan mengelola lahan yang ada untuk dikembangkan menjadi peternakan modern sapi yang unggul, sehat, dan produktif.

Ardi Winangun
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!