Oleh : Jacob Ereste
Pikun dengan lupa itu berbeda, karena lupa tidak berarti pikun, karena pikun sudah tidak bisa lagi berpikir, kata Romo Frans Magnis Suseno, saat ngobrol santai bersama sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Sri Eko Sritanto Galgendu yang didamping Dr. Widya Pasaribu dan Gus Cahyo pada hari Kamis pagi, 5 November 2026 di Kampus SekolahTinggi Filsafat Driyarkara, Rawasari, Jakarta Timur, langsung di ruang kerja beliau yang penuh buku dan alat tulis dengan sejumlah kacamata baca bergagang hitam dan coklat di meja tulisnya.
Romo Magnis, demikisn sapaan akrab berbagai kalangan oada guru besar pengajar tetap STF Driyarkara untuk mata kuliah Sistem Pemikiran-pemikiraPolitik dan Ideologi-ideologi ini sempat sibuk ketika menerima sahabat dan kerabat GMRI saat bertandang untuk mengatur tempat duduk di ruang kerjanya, karena secara jujur dalam usia ke-90 tahun sekarang, dia mengakui belum pikun, tetapi sudah sering banyak lupa, buktinya saya masih tetap bisa mengenal kawan-kawan katanya, tapi selalu banyak lupa nama mereka, ujarnya. Dan Romo Magnis Suseno juga jujur mengakui pendengaran pada telinga kanan, sudah tidak berfungsi normal seperti semula, imbuhnya memulai acara nobrol santai tentang filsafat dan spiritual.
Sri Eko Sriyanto Galgrndu yang lebih banyak mengungkap pengalsman spritual yang juga memimpin Forum Lintas Agama hingga membangun GMRI bersama Susihunsn Paku Buwono XII bersama Gus Dur fan Prof. Dr (HC) KH. Habin Khirzin serta sejumlah tokoh sgama juga berkisah bagaimana persahabatannya dengan Ignatius Kardina Suharyo semasa duduk sebagai Uskup, di Semarang, Jawa Tengah.
Selain berkenan mempersembahkan “Kitab MA HA IS MA YA”, Pemimpin Spiiritual Nusantara ini yang kuga acap disebut berbagai kalangan sebagai Wali Spiritusl, juga berkenan memberi do’a khusus untuk Romo Frans Magnis Suseno yang kini telah berusia 90 tahun agar tetap sehat dan terus nenyumbangksn pemikiran untuk bangsa dan negara Indonesia.
Romo Magnis pun sempat berkisah saat diundang oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengudar pendapat dan pemikirannya bahwa upaya yang harus dilakukan untuk negeri tercints ini — Indonesia — adalah mencegah dan memberantas korupsi. Sebab dengan begitu bukan saja untuk menyelamatkan bangsa dan negars Indonesia dari keterpurukan, tetapi juga akan tercatat dalam sejarah, akan ada seorang Presiden Indonesia yang mampu melakukan tugas dan pekerjaan yang belum pernah bisa dilakukan oleh Ptesiden Imfonesia sebelumnya, kata Romo Magnis dengan suara dan nada yang rendah.
Dan masalah kebakaran hutan di Indonesia pun sudah berhenti, bukan karena upaya keras dan serius untuk mengatasi, tetapi karena hutan itu sendiri sudah tidak lagi ada, artinya karena yang terbakat atau yang mau dibakar sudah tidak ada lagi di Indonesia.
Acara ngobrol santai bersama Romo Frans Magnis Suseno sungguh asyik, lantaran syarat dengan bobot filsafat dan metafora sastra dan tutur kata yang berbobot dan perlu disimak untuk mendapatkan mutiara-mutiara bijak., meski tak sempat menyentuh alam. pemikiran filsafat dan spiritual yang khas dari bangsa Timur dengan yang khas dari bangsa Barat.
Rawasari, 5 November 2026
—–
![]()
