Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.
Bagi analis politik yang tekun mengamati dinamika partai Golkar yang kini memasuki usia ke 62 tahun, hampir pasti membaca, minimal mendengar, buku berjudul “Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru (1966-1974) ditulis Francis Raillon (LP3ES, 1985) dan buku “The Golkar Way” ditulis Akbar Tandjung , mantan Ketua Umum partai Golkar awal Orde Reformasi.
Dari dua buku di atas – dan tentu banyak buku buku lain tentang Partai Golkar dari beragam sudut pandang dan perspektif – Partai Golkar dapat disebut pelopor partai modern minimal karena dua indikator ditimbang dari parameter institusi publik modern.
Pertama, indikator kemoderenan partai Golkar adalah ia berorientasi pada program “kekaryaan”, meninggalkan kecenderungan “politik aliran”, sebuah kecenderungan politik yang diikat kesamaan agama dan golongan yang dipetakan secara antropologis oleh Clifford dalam tiga kategori sosial : Santri, Abangan dan Priyayi.
Kedua, karena meleburkan tiga kategori “politik aliran” di atas dalam politik “kekaryaan” – Partai Golkar menjadi semacam “melting pot”, titik kumpul keragaman sosial baik dari sisi agama, suku, profesi dan lain lain. Dari kumpulan jenderal hingga intelektual aktivis yang kritis. Dari teknokrat hingga petani penggarap.
Itulah “kemoderenan” Partai Golkar. Dan karena bertumpu di atas keragaman sosial dengan orientasi “kekaryaan” itulah hingga saat ini partai Golkar mampu berdayung di antara “tradisi” kekaryaan Orde Baru dan adaptasi atas tuntutan Orde Reformasi yang niscaya, “sunnatullah” politik yang tak terhindarkan.
Dalam konteks Indramayu, pertanyaannya bagaimana partai Golkar di mana penulis puluhan tahun mengamati dari jarak sangat dekat – mampu mengambil peran peran adaptif secara elektoral maupun kendali teknokrasi pemerintahan dalam proyeksi pemilu 2029?
Konstatasi H. Taufiq Hidayat, PLT Ketua partai Golkar Indramayu (dikutip dari “Radar” Indramayu, 21/10/2026) bahwa proyeksi Partai Golkar Indramayu pada pemilu 2029 menambah minimal satu kursi per daerah Pemilihan (Dapil) sehingga total 20 kursi DPRD dalam proyeksi pemilu 2029 sebenarnya target “realisme pragmatis”.
Artinya, target di atas rasional dan dapat diukur dalam konteks basis sosial yang dimilikinya dan kerja kerja politik partai Golkar yang berwatak “realisme pragmatis”, yakni partai Golkar piawai mempertemukan aspirasi publik dengan kerja kerja teknokrasi dalam desain artikulasi kebijakan publik
Dalam imajinasi politik penulis meskipun target di atas rasional dan terukur tapi bagi Partai Golkar Indramayu terlalu “minimalis” dalam proyeksi pemilu 2029, lebih dari itu, penting mempersiapkan diri sekaligus mengambil peluang kuasa politik dalam pilkada tahun 2030.
Partai Golkar Indramayu memiliki prasyarat tersebut, yaitu keunggulan variabel variabel politik dan modal sosial untuk membangun peta jalan mencapai dua target dalam ajang kontestasi politik di atas. Partai Golkar tidak memiliki “resistensi” untuk membuka ruang koalisi dan kerjasama politik dengan partai politik mana pun.
Pekerjaan rumah atau “PR” yang tersisa, dengan kata lain, tantangan yang harus direspon secara artikutatif oleh partai Golkar Indramayu dalam proyeksi menjemput dua ajang kontestasi politik di atas (pileg 2029 & pilkada 2030) :
Pertama, meminjam istilah Jefry Wonters Partai Golkar harus mempertajam “deferensiasi politik”, sebuah tampilan politik “pembeda” dari partai partai lain, utamanya partai Gerindra dan Nasdem, dua partai “turunan” partai Golkar yang memiliki kesamaan “irisan” secara elektoral.
Kedua, menggarap lebih serius prilaku pemilih “generasi z” atau “gen z” di Indonesia berjumlah 25,98% . Dan 70% dari mereka adalah pemilih pemula bukan saja mereka tidak mengenal kejayaan Orde Baru tapi juga mereka lahir langsung “dipeluk” dunia digital, – berbeda ekosistem sosialnya dibanding generasi di atasnya.
Ketiga, partai Golkar Indramayu, minimal secara silent, sudah harus mempersiapkan “list” kandidasi calon bupati dalam branding politik. Pasalnya, kapabilitas dan integritas calon bisa tenggelam hanya karena kalah “viral” oleh kandidat – secara integritas dan kapabilitas di bawah “standart”.
Inilah tanggung jawab partai Golkar Indramayu bukan sekedar untuk berkuasa tapi menuntun transformasi sosial masyarakat dalam kerangka etis “suasana kebatinan” publik khas Indramayu yang tidak bisa hanya “diakali” dengan politik pencitraan yang manipulatif. Ongkosnya terlalu besar bagi kerusakan “batin” publik Indramayu.
Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar ke 62 tahun 2026. Tetaplah menjulang langit dan membasis bumi.
Wassalam.
Indramayu, 25 Oktober 2026
——
![]()
