Jacob Ereste :
Forum Diskusi Rutin Mingguan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) setiap Senin dan Kamis di Sekretariat Jl. Ir. H. Juanda No. 4 S, Jakarta Pusat, semakin beragam kehadiran sahabat dan kerabat dari berbagai disiplin ilmu dan profesi serta latar belakang dari berbagai daerah.
Seperti Rahadian Wangsa Permana dan kerabatnya dari lingkungan Kraton Cirebon hingga Gus Cahyo dan kerabatnya dari Keraton Paku Alaman, Ngayogyakarta Hadiningrat menyambangi GMRI mengusung topik diskusi yang cukup luas terkait dengan seluk beluk spiritual yang digagas sekaligus dimotori oleh Wali Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu yang kini mulai memasuki babak lanjutan dari Gerakan Kesadaran Pemahaman Spiritual dalam skala global dan universal, kini mulai bersiap mengusung Diplomasi Spiritual Untuk seluruh Bangsa-bangsa di dunia setelah terbitnya “Kitab Ma Ha Is Ma Ya” yang dipersiapkan selama 20 jam non stop dalam wujud membacakan do’a untuk 79 tokoh nasional dari berbagai disiplin ilmu, latar belakang profesi serta agama.
Dari keberagaman latar belakang 79 tokoh pilihan tersebut, lebih dari cukup menjadi bukti nyata dari sifat dasar laku spiritual memiliki kawasan global dan cakrawala universal untuk membangun perdamaian dunia berdasarkan jalinan persaudaraan yang mampu melampaui tapal batas serta sekat pembatas yang acap dan rentan menimbulkan persaingan bahkan perseteruan hingga peperangan yang tidak sepatutnya terjadi di bumi, karena harus harus dijaga bersama agar terwujudnya makna hakiki dari rahmatan lil alamin.
Adapun tolak pijak laku spiritual yang bersifat global dsn universal ini juga dapat mengacu pada “Man ‘arafa nafsahu faqad arafa rabbahi” (Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhan) sehingga orientasi dari pengembangan laku spiritual dapat berbasis pada keyakinan agama masing-masing individu yang mendalaminya, sehingga Tuhan yang selalu dekat dengan setiap sosok manusia tidak menjauh, namun manusia sendiri yang menjauh, Karena terseret oleh godaan serta rayuan syaitan yang membakar nafsu, egosentrisitas yang tidak terkendali akibat tamak dan rakus, baik dalam wujud harta dan kekayaan apalagi kekuasaan.
Diskusi rutin Senin-Kamis GMRI meski tak gegap gempita melahirkan ide dan gagasan yang cemerlang, setidaknya terus mengasah serta mempertajam intuisi, kepekaan, daya tangkap serta kemampuan membaca sapaan alam hingga fenomena yang merayap dari kejauhan seperti Gunung Krakatau yang dibocilkan dalam kapasitas anak, padahal naga api yang muncul dari dalam. kawahnya — dalam perspektif spiritual Naga Raja Raksasa Api yang memberi perlindungan bagi umat manusia di dunia.
Orang boleh percaya, boleh juga tidak seperti kebebasan aktivis menerima panggilan Istana untuk semua kekuatan dan kemampuan yang disinergikan deni dan untuk kemaslahatan bersama. Sebab dari proses perjalanan waktu, toh komitmen dan konsistensi dari elan vital idealisme perjuangan untuk rakyat pada akhirnya kelak dapat ditakar juga kualitas dan kuantitasnya bisa memberi manfaat untuk rakyat. Atau sekedar menambah dera penderitaan yang tidak mampu diatasi juga seperti yang sudah-sudah.
Resume dari diskusi ini, seperti yang dipaparkan Sri Eko Sriyanto Galgendu yang ditimpali Gus Cahyo bersama Joyo Yudhantoro dan diamini Gus Badowi, kali ini kembali berlangsung hingga tengah malam, latararan topik diskusi dominan disandarkan pada iklim politik dan ketatanegaraan yang juga terasa semakin memanas seperti kecemasan menunggu putusan Mahkamah Konstitusi tentang keabsahan dari persyaratan terpilihnya Wakil Presiden.
Pecenongan, 5 Oktober 2026
—–
![]()
