Kawan setia yang sejati itu pasti jauh dari sifat dan sikap munafik seperti yang pernah diungkap oleh wartawan senior, Mochtar Lubis. Sebab kawan setia yang sejati itu akan selalu mengatakan yang sesungguhnya secara jujur, ikhlas tiada tendensi politis, ekonomis atau pamrih apapun, kareba jalinan perkawanan yang sejati itu tengah menjalin ikatan persaudaraan yang lebih mulia dari sekedar memperoleh keuntungan materi, apalagi sekedar ambisi pribadi yang telah terkubur jauh sebelum jalinan perkawanan yang sejati itu tumbuh dari kejujuran dan ketulusan hati yang teruji oleh sang waktu.
Sifat dan sikap munafik itu yang tumbuh dari hadrat untuk selalu menyenangkan hati, terus tergencir pada sikap dan sifat yang cenderung ingin menjilat. Dan sikap dan sifat manusia oenjilat ini akan tumbuh subur di libgkungan orang-orang yang suka dijilat — dekedar untuk menyrnangkan hati yang dibungkus oleh kemunafikan — untuk selalu membero pujian, tanpa pernah mau mengatakan yang sedungguhnya dirasakan oleh getaran hatinya yang murni, demo dan untuk menyenangkan siapapun yang menjadi obyek penjilatannya, terutama untuk mereka yang dia anggap di atas — baik untuk pengaruh, jabatan atau kekayaan yang memukau kekagumannya dengan segenap rasa rendah diri yang belebih. Akibatnya, kepalsuan dari segenap sikap dan sifat menjadi permanen nenjadi modal membangun relasi, hubungan hingga ikatan perkawanan atau persahabatan yang palsu.
Jadi kepalsuan ijazah dan gelar yang berwujud apapun adalah produk dari sikap dan sifay munatik yang berkelanjutan dari sikap dan sifat munafik, penjilat dan hasrat untuk tampil dalam berbagai bentuk kepalsuan yang semu. Maka itu dalam membangun rumah tangga — sakinah, mawaddah dan warahmah — dominan akan gagal dan berakhir dalam perceraian untuk mencari berjalan secara sendiri-sendiri yang dianggap lebih baik dari jakinan sebelumbya yang dirasakan penuh kepalsuan itu.
Perkawan yang sejati itu sungguh tak ubahnya seperti perlawinan dalam membangun tata rumah tangga seperti dalam surat Ar Rum ayat 21, memberi isyarat bahwa dalam cinta yang tulus dan ikhlas itu memiliki tiga tingkatan ; _sakinah_ (ketenangan dan ketenteraman, damai, nyaman) tak menyimpan perselingkunan dari sifat dan sikap munafik. Sedangkan _mawaddah_ adalah wujud cinta dan kasih dalam bentuk perbuatan — yang tak terlalu penting untuk diucapkan karena bisa menjadi bualsn belaka. Dan _warahmah_ dalam wujud sifat dan sijap yang lembut yang harus dan pantas dieujudkan dalam ekspresi kasih dan sayang yang tulus, bukan karena tekanan dan keterpaksaan oleh pihak manapu.
Bagi kalangan aktivis, kaum pergerakan yang konsisten dan tetap nemiliki komitnen berjuang untuk rakyat — kemaslahatan umat tanpa kecuali — kesetiaan yang sejati itu pun tatap akan teruji dalak perjalan waktu yang terus berubah dan terus bergerak tiada akan pernah surut ke belakang. Sebab masa lalu hanya menghantar memasuki hari ini untuk membangun hari esok yang lebih baik, lebih bermutu. manusiawi tanpa menunggalkan sifat dan sikap ilahiyah sebagai karunia bagi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia untuk mengemban jati dirinya sebagai khalumifatullah di muka bumi untuk menebarkan rahmatan lil alamin, seraya menunaikan kewajiban untuk berkata, bertindak dalam bingkai amar ma’riluf nahi munkar tanpa tawar menawar demi dan untuk kepenringan bersama, yaitu kemaslahatan umat — rakyat — tanpa pilih kasih dan tebang pilih.
Konsistensi dan komitmen yang kukuh dan tangguh, memang tidak mungkin tegak dari sifat dan sikap yang rapuh, penjilat dan manafik yang cuma mementingkan kenikmatan, keuntungan hingga keselatan dari diri sendiri. Seban hidup dan kehidupan tiada akan lebih berarti tanpa kawan teman hidup di dunia ini.
Pantai Indah Kapuk II, 14 Oktober 2026
——-
![]()
