Oleh : Jacob Ereste
Kawan yang baik adalah sosok yang tidak hanya mau mendengar keluh kesah, nasehat dan curhat kita, tapi juga mau berbagi ilmu, pengetahuan dan informasi yang dia anggap kita perlukan agar tak salah dan sesat dalam mengambil keputusan. Dan seorang kawan yang baik selalu percaya pada apa yang kita katakan (meski tidak jarang harus dia klarifikasi dan diluruskan) tapi mau menerima pendapat kita untuk disaring kebenarannya. Karena itu, menerima dan memberi bagian dari jalinan perkawanan menuju keabadian menjadi saudara semakin terang arahnya. Sebab suka dan duka akan menjadi bagian dari nikmat bersama, tanpa pengertian dari makna sebagai pelengkap penderita. Karena itu dalam ikatan perkawanan menuju kesehatian, tak ada istilah untung dan rugi yang harus dikalkulasikan secara ekonomi, karena semua bernilai sosial, moral dan cinta yang bersemayam di lubuk batin dan jiwa persaudaraan, karena ikatan perkawanan telah melampaui hakikat tertinggi yang cukup matang dalam kawah makrifat spiritualitas yang tidak terukur dari perjalanan sejarah. Meski semua itu harus dilakukan pada waktu yang panjang atau singkat.
Makna perkawanan yang sejati itu juga dapat berlangsung dalam bentuk dan cara yang beragam rupa maupun perwujudannya. Kawan hidup, kawan sekerja dan kawan dalam satu perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bisa saja saat berjalan saling meninggalkan dan ditinggalkan dengan keyakinan kelak akan kembali bersua pada di persimpangan berikutnya dengan pengalaman yang bisa memperkaya bekal hidup berikutnya. Walau mungkin juga akan berakhir atau berlanjut dalam babak spiritualitas berikutnya yang tidak pernah terduga.
Keajaiban dan mukjizat bukan sesuatu yang mustahil dapat terjadi, seperti cinta dalam perkawanan yang mengukuh dalam ikatan persaudaraan yang penuh makna dalam hidup dan kehidupan yang fana. Namun yang pasti. perkawanan sejati tidak akan pernah ingin mencelakakan, atau sekedar untuk memanfaatkan demi dan untuk kepentingan sendiri secara culas yang bisa merugikan, karena hasrat untuk leboh unggul dalam berbagai segi kehidupan.
Perlawanan sejati, pasti memiliki kesetiaan, loyalitas, tenggang rasa, cinta dan kasih penuh kejujuran dan keikhlasan. Tak ada sikap memuji cuma sekedar untuk menyenangkan yang dibungkus kemunafikan. Sebab, sikap jujur dan ikhlas akan senantiasa teruji dari perilaku yang juga akan diterima sebagai imbal baliknya. Maka itu, sifat dan sikap penjilat tidak bisa dipakai dalam upaya membangun kesetiakawanan yang sehati. Sebab sikap dan sifat kesejatian dalam jalinan perkawanan memerlukan kejujuran, keikhlasan, bukan bada-basi yang acap membungkus kemunafikan.
Pada akhirnya, memang, perkawanan yang sejati akan ikut diuji oleh perjalanan waktu. Jalinan ikatan kesetiaan dari perkawanan yang mampu membangun konstruksi persaudaraan yang sejati akan terbukti pada saat semua berakhir dalam perpisahan keabadian yang sesungguhnya
Pantai Dadap, 13 Oktober 2026
——-
![]()
