Prima FM di Hari Radio: Menumbuhkan Kesadaran Publik di Tengah Kebisingan Digital
Oleh Ali Aminulloh
Di zaman ketika manusia bangun tidur disambut notifikasi dan tertidur ditemani cahaya layar, ada satu medium yang justru semakin jarang disapa: radio. Ia tidak berisik, tidak memaksa, tidak mengejar perhatian dengan visual mencolok. Paradoksnya, justru karena kesunyiannya itulah radio pernah menjadi media paling dipercaya. Hari ini, ketika dunia terasa semakin bising oleh informasi, radio seperti dilupakan, padahal mungkin justru sedang paling dibutuhkan.
Tanggal 13 Februari diperingati sebagai Hari Penyiaran Radio Publik Internasional. Sejarah mencatat, pada tanggal inilah tahun 1946, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyiarkan siaran radio internasional pertamanya ke seluruh dunia. Peristiwa itu menandai radio sebagai medium global yang menjembatani bangsa-bangsa pasca Perang Dunia. Enam dekade kemudian, UNESCO menetapkan Hari Radio sebagai pengingat bahwa radio bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari sejarah peradaban manusia.
Namun perjalanan radio tidak selalu mulus. Di era digital, data di berbagai negara menunjukkan jumlah stasiun radio konvensional cenderung menurun, sebagian bergeser ke platform digital, sebagian lainnya berhenti mengudara. Pendengar berpindah ke media visual, media sosial, dan platform on-demand yang serba cepat. Radio kerap dianggap kalah menarik karena tak menyajikan gambar, kalah cepat karena tak selalu real time di genggaman, dan kalah ramai karena tak viral.
Penilaian itu tampak logis, tetapi tidak sepenuhnya benar. Radio justru memiliki kekuatan yang tak dimiliki media lain. Ia membangun kedekatan emosional melalui suara, menghadirkan rasa ditemani, dan menumbuhkan kepercayaan. Radio tidak menuntut perhatian penuh, tetapi menyatu dengan aktivitas manusia: di dapur, di ladang, di jalan, dan di ruang-ruang sunyi. Ketika media lain memicu kegaduhan, radio menawarkan ketenangan.
Meski demikian, radio juga memiliki keterbatasan. Ia bisa tertinggal jika menolak perubahan, terikat oleh waktu siaran jika tak terdigitalisasi, dan terpinggirkan jika tak memahami selera generasi baru. Karena itu, radio publik dihadapkan pada pilihan penting: bertahan sebagai nostalgia, atau bertransformasi tanpa kehilangan nilai.
Di titik inilah Prima FM 95.8 mengambil peran. Lahir dari denyut masyarakat lokal dan menjadi bagian dari Ma’had Al-Zaytun, Prima FM dikenal sebagai “Radionya orang Haurgeulis”. Namun radio ini tidak membatasi dirinya pada ruang geografis. Dengan sentuhan profesional Handy Nasution serta keterlibatan anak-anak muda, Prima FM bertransformasi menjadi radio streaming yang dapat diakses dari berbagai penjuru dunia.
Transformasi itu bukan semata soal teknologi, melainkan juga soal arah dan nilai. Prima FM menempatkan radio sebagai medium pencerahan publik. Siarannya diarahkan untuk membangun toleransi, memperkuat dialog, dan menanamkan kesadaran hidup bersama dalam perbedaan. Di tengah iklim media yang sering memantik polarisasi, Prima FM justru memilih jalur sejuk dan reflektif.
Radio ini mengusung trilogi kesadaran, yaitu filosofis, ekologis, dan sosial yang digagas Syaykh AS Panji Gumilang. Kesadaran filosofis mengajak pendengar berpikir jernih dan berakar pada nilai. Kesadaran ekologis menumbuhkan tanggung jawab terhadap alam sebagai ruang hidup bersama. Sementara kesadaran sosial menegaskan pentingnya solidaritas dan kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk. Semua itu disampaikan melalui bahasa radio yang sederhana, akrab, dan membumi.
Di tengah kebisingan digital, dimana ketika opini saling bertabrakan dan kebenaran kerap dikalahkan oleh kecepatan, radio menemukan kembali relevansinya. Ia menjadi ruang jeda, tempat publik mendengar tanpa harus berteriak, dan berpikir tanpa harus saling meniadakan. Radio mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian, tetapi tetap menjadi penjaga kesadaran.
Hari Radio bukan sekadar peringatan seremonial. Ia adalah ajakan untuk kembali mendengar, bukan hanya suara di udara, tetapi juga suara akal sehat. Dan di tengah dunia yang semakin gaduh, Prima FM membuktikan bahwa radio yang berakar pada nilai, terbuka pada perubahan, dan setia pada kemanusiaan, masih memiliki tempat yang penting.***
Dengerin radio?
Prima FM saja. “Radionya orang Haurgeulis”
Indramayu, 13 Januari 2026
——-
![]()
