Diskusi Buku The Day 9+9 in Al Zaytun: Menyalakan Kultur Literasi dari Laboratorium Kehidupan


Diskusi Buku The Day 9+9 in Al Zaytun: Menyalakan Kultur Literasi dari Laboratorium Kehidupan

Penulis: Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Malam itu, para pelajar kelas XII tidak hanya diajak membaca sebuah buku. Mereka diajak membaca kembali lingkungan yang selama ini menjadi tempat belajar, bertumbuh, berdisiplin, dan membangun mimpi. Melalui buku The Day 9+9 in Al-Zaytun, sesuatu yang setiap hari tampak biasa perlahan diperlihatkan sebagai bagian dari perjalanan besar membangun pendidikan dan peradaban.

Suasana penuh semangat terasa di Lantai 1 Gedung Al-Fajar, Ahad malam, 19 Juli 2026. Sejak pukul 19.30 WIB hingga 21.00 WIB para pelajar kelas XII mengikuti kegiatan bedah buku bersama Moch. Masuk Arifin, M.Pd. Acara dipandu oleh Aulia Putri Abdillah sebagai moderator. Untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan dengan peserta, kegiatan diawali dengan ice breaking yang mengundang keceriaan.

Tawa para pelajar pada awal kegiatan menjadi pembuka menuju sebuah percakapan akademik yang hangat. Buku yang dibahas bukanlah buku yang lahir dari ruang imajinasi semata, melainkan hasil pengamatan dan penelitian terhadap kehidupan nyata di lingkungan Al-Zaytun.

The Day 9+9 in Al-Zaytun merupakan karya bersama sembilan mahasiswa Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia atau IAI Al-AZIS. Buku tersebut lahir dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata pada 2021, ketika pandemi Covid-19 masih membatasi pergerakan dan interaksi masyarakat.

Pada saat itu, kegiatan KKN tidak dapat dilaksanakan secara bebas di tengah masyarakat sebagaimana biasanya. Para mahasiswa harus menjalankan kegiatan penelitian dari dalam lingkungan kampus. Namun, keterbatasan tersebut tidak memadamkan kreativitas. Justru dari keterbatasan itulah muncul kesadaran bahwa Al-Zaytun sendiri merupakan ruang sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, teknologi, dan lingkungan yang sangat kaya untuk diteliti.

Pandemi membatasi langkah kaki, tetapi tidak membatasi daya pikir. Kampus yang setiap hari mereka lihat berubah menjadi ruang penelitian. Bangunan, sistem pendidikan, kehidupan berasrama, pertanian, peternakan, teknologi, budaya toleransi, kedisiplinan, hingga kepemimpinan menjadi bahan kajian yang kemudian dirangkai menjadi sebuah buku.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Perpustakaan, Wahyudi, S.Pd., selaku penanggung jawab pelaksana. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan bedah buku dapat diselenggarakan dengan baik. Kehadiran para pelajar kelas XII menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan masa depan.

Sambutan berikutnya disampaikan Ketua MPAP, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Al-Zaytun sebagai lembaga pendidikan berasrama memiliki lingkungan yang sangat mendukung pembangunan kultur akademik.

.Kehidupan berasrama memungkinkan proses pendidikan berlangsung tidak hanya pada jam-jam pelajaran. Pembelajaran hadir dalam kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab, pembagian tugas, kegiatan organisasi, kebersihan lingkungan, komunikasi sosial, dan berbagai pengalaman hidup sehari-hari.

Karena itu, kegiatan seperti membaca, berdiskusi, meneliti, dan membedah buku menjadi sangat relevan untuk dikembangkan. Terlebih buku yang dibahas mengangkat Al-Zaytun sebagai objek penelitian. Para pelajar tidak sedang membaca sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, melainkan membaca lingkungan yang setiap hari mereka alami secara langsung.

Membaca buku tersebut berarti belajar melihat Al-Zaytun dari perspektif yang berbeda. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan nilai pendidikan yang besar. Bangunan bukan sekadar bangunan, pertanian bukan hanya kegiatan menanam, kedisiplinan bukan semata-mata aturan, dan kehidupan berasrama bukan sekadar tinggal bersama. Semuanya menjadi bagian dari sistem pendidikan yang membentuk pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kesadaran sosial.

Memasuki pembahasan utama, Moch. Masuk Arifin, M.Pd. mengawali pemaparannya dengan menjelaskan latar belakang penulisan buku dan proses penyusunannya. Ia menerangkan bahwa buku tersebut merupakan karya bersama yang dibangun melalui penelitian para mahasiswa ketika menjalani KKN pada masa pandemi Covid-19 tahun 2021.

Keterbatasan ruang gerak tidak membuat kegiatan akademik berhenti. Para mahasiswa justru diarahkan untuk mengenali lebih dalam lingkungan tempat mereka belajar. Mereka mengamati berbagai dimensi kehidupan Al-Zaytun, mendiskusikan temuan, menyusun tulisan, dan menyatukannya menjadi sebuah karya kolektif.

Melalui pemaparannya, Moch. Masuk mengajak peserta melihat berbagai keunggulan pendidikan Al-Zaytun. Buku tersebut menguraikan Al-Zaytun dari beragam sudut pandang, mulai dari kampus terpadu berbasis peradaban, pengembangan budaya toleransi dan perdamaian, kemandirian ekonomi, pendidikan karakter melalui disiplin dan keteladanan, hingga pertanian dan peternakan sebagai laboratorium kehidupan.

Buku itu juga membicarakan inovasi teknologi untuk membangun kemandirian, kebinekaan dalam kesatuan, nasionalisme, lingkungan yang asri, arsitektur simbolik, serta kepemimpinan visioner Syaykh AS Panji Gumilang. Keseluruhan pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa Al-Zaytun tidak hanya dirancang sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

“Al-Zaytun adalah laboratorium kehidupan. Maka yang dibangun bukan sekadar sekolah, melainkan peradaban,” demikian salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pemaparan tersebut.

Pernyataan itu menjadi titik refleksi bagi para pelajar. Laboratorium kehidupan berarti setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran. Di dalamnya, teori diuji melalui praktik, pengetahuan dipertemukan dengan kenyataan, dan pendidikan dihubungkan dengan kebutuhan kehidupan.

Pertanian, misalnya, tidak hanya mengajarkan cara menanam, tetapi juga kesabaran, ketekunan, ketahanan pangan, dan penghormatan terhadap alam. Kehidupan berasrama tidak hanya mengajarkan kemandirian, tetapi juga toleransi, komunikasi, tanggung jawab, serta kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme para pelajar terlihat dari banyaknya tangan yang terangkat. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya berkaitan dengan isi buku, tetapi juga menyentuh proses kreatif di balik kelahirannya.

Salah seorang pelajar menanyakan bagaimana cara mulai menulis dan menyusun sebuah buku. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa kegiatan bedah buku telah berhasil melampaui tujuan memahami isi bacaan. Buku tidak lagi dipandang sebagai produk yang jauh dari jangkauan, melainkan sebagai karya yang mungkin mereka hasilkan pada masa mendatang.

Dalam pembahasan mengenai dunia kepenulisan, Dr. Ali Aminulloh diminta menambahkan penjelasan tentang teknik menulis pada era kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Ia menjelaskan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari gagasan, menyusun kerangka, memperbaiki struktur bahasa, dan mengembangkan sudut pandang.

Namun, AI tidak boleh menggantikan daya pikir, kejujuran, pengalaman, dan tanggung jawab seorang penulis. Teknologi hanyalah alat bantu. Gagasan utama, sikap intelektual, data yang benar, serta keaslian pengalaman tetap harus berasal dari manusia.

Penulis pada era AI tidak cukup hanya mampu merangkai kata. Ia juga harus mampu memeriksa kebenaran informasi, memilih sumber yang dapat dipercaya, menjaga etika akademik, dan memberikan sentuhan kemanusiaan dalam setiap tulisannya. Di tengah kemudahan teknologi, kejujuran intelektual justru menjadi semakin penting.

Pertanyaan lain yang tidak kalah menarik datang dari pelajar yang ingin mengenal IAI Al-AZIS secara lebih dekat. Keinginan itu mendapat sambutan positif. Para pelajar ingin mengetahui lebih jauh kehidupan akademik di perguruan tinggi, sedangkan pihak IAI Al-AZIS juga memiliki semangat untuk memperkenalkan kampus, program pendidikan, dan berbagai peluang pengembangan diri kepada mereka.

Pertanyaan tersebut seolah menjadi jembatan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Bedah buku bukan hanya mempertemukan pembaca dengan penulis, tetapi juga mempertemukan harapan para pelajar dengan kemungkinan perjalanan akademik mereka pada masa depan.

Acara kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada para penanya terbaik, penyerahan sertifikat kepada narasumber, dan foto bersama. Namun, suasana malam itu belum benar-benar selesai. Yel-yel “Gentures”, nama angkatan para pelajar kelas XII, menggema dengan penuh kebanggaan.

Di tengah semangat kebersamaan itu, harapan untuk masa depan IAI Al-AZIS ikut dikumandangkan:

“IAI Al-Zaytun, unggul, unggul, unggul!”

Seruan tersebut bukan hanya menjadi penutup acara. Ia merupakan harapan agar budaya membaca, meneliti, menulis, dan berdiskusi terus tumbuh di lingkungan Al-Zaytun.

Malam itu, sebuah buku telah membuka banyak pintu. Pintu untuk mengenal lingkungan secara lebih kritis, pintu untuk memasuki dunia kepenulisan, pintu untuk memahami penggunaan AI secara bijaksana, dan pintu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

The Day 9+9 in Al-Zaytun akhirnya tidak hanya berbicara mengenai hasil penelitian sembilan mahasiswa. Buku itu menyampaikan pesan bahwa karya besar dapat lahir dari keadaan yang terbatas. Ketika pandemi menutup jalan menuju dunia luar, para mahasiswa justru menemukan luasnya dunia pengetahuan di dalam lingkungan mereka sendiri.

Sebab, bagi mereka yang memiliki kesadaran akademik, kampus bukan sekadar tempat datang, belajar, lalu pulang. Kampus adalah ruang untuk mengamati, mempertanyakan, meneliti, menulis, dan melahirkan gagasan. Di sanalah sekolah perlahan tumbuh menjadi pusat peradaban, dan para pelajarnya dipersiapkan bukan hanya untuk menghadapi masa depan, melainkan untuk ikut menciptakannya.**


Red
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!