Menaklukkan Bahasa dalam Dua Hari: Revolusi Belajar Bahasa Inggris dari Al Zaytun


Menaklukkan Bahasa dalam Dua Hari: Revolusi Belajar Bahasa Inggris dari Al Zaytun

Oleh: Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS. – Bayangkan jika sesuatu yang selama ini dianggap rumit, menakutkan, bahkan membuat banyak orang menyerah, tiba-tiba terasa sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami. Itulah suasana yang hidup selama dua hari di ruang pelatihan Majelis Guru Gedung Abu Bakar, Mahad Al Zaytun. Di ruangan itu, bahasa Inggris tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang harus dihafal, melainkan sebagai keterampilan hidup yang dapat dipahami melalui cara berpikir yang benar. Dua hari yang singkat itu menjadi awal sebuah gerakan besar: membangun budaya berbahasa di lingkungan pendidikan berasrama.

Sebagai tindak lanjut dari Pelatihan Pelaku Didik Berkelanjutan yang sebelumnya diselenggarakan oleh LKM Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, kini pelatihan memasuki tahap yang lebih spesifik melalui kelas-kelas dengan peserta terbatas agar proses pembelajaran berlangsung lebih intensif. Pada tanggal 4–5 Juli 2026, digelar pelatihan bertajuk “Two Day English Learning Revolution” yang menghadirkan Drs. Eddy Sudarmadji, M.M., M.B.A., Dipl. TEFL, President Director of John Anderson Training and Consulting, sebagai instrukturnya.

Pelatihan yang berlangsung di Ruang Meeting Majelis Guru, Gedung Abu Bakar, Mahad Al Zaytun, Indramayu tersebut diikuti oleh sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas guru MA, MTs, MI, tutor PKBM, pengurus dan pembimbing asrama, serta pelajar kelas VIII hingga XII, baik putra maupun putri. Keberagaman latar belakang peserta justru memperlihatkan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas profesi maupun usia.

Suasana pembukaan berlangsung khidmat pada Sabtu pagi, 4 Juli 2026. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, dilanjutkan pembacaan Sapta Janji Dharma Bakti dalam tiga bahasa sebagai simbol keterbukaan terhadap peradaban dunia tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Ketua Umum Panitia, Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.A.P., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada instruktur yang bersedia berbagi pengalaman dan metode pembelajaran bahasa Inggris yang telah teruji. Menurutnya, penggunaan istilah “revolution” dalam tema pelatihan bukan sekadar slogan, melainkan selaras dengan semangat besar transformasi pendidikan berasrama yang selama ini terus dikembangkan di Mahad Al Zaytun.

Ia berharap pelatihan tersebut menjadi bekal nyata bagi guru dan pelajar untuk menghidupkan budaya komunikasi bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Al Zaytun.

Selama dua hari penuh, peserta mengikuti pembelajaran intensif selama kurang lebih tiga belas jam. Hari pertama berlangsung pukul 08.00 hingga 15.00 WIB dengan jeda istirahat, kemudian dilanjutkan pada hari Ahad dengan durasi yang sama hingga acara penutupan.

Namun, sejak awal pelatihan, Drs. Eddy Sudarmadji lebih dahulu mengajak peserta menantang cara berpikir mereka. Ia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah, “Apakah mungkin menguasai dasar bahasa Inggris hanya dalam waktu dua hari?”

Jawabannya pun menjadi penyemangat seluruh peserta.

“The impossible is nothing.”

Kalimat itu menjadi energi yang menghidupkan seluruh sesi pelatihan.

Instruktur kemudian menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan bukan sekadar menghafal rumus, melainkan membangun keberanian berbicara (fluency and courage), mengubah pola pikir terhadap bahasa Inggris (mindset and paradigm), memahami struktur fundamental bahasa Inggris, menguasai sekitar sembilan puluh persen bagian tersulit tata bahasa, membangun kemampuan belajar mandiri (independent learning), melahirkan calon instruktur bahasa Inggris, sekaligus mengatasi hambatan emosional, psikologis, dan kognitif yang selama ini membuat banyak orang takut belajar bahasa asing.

Yang paling menarik adalah ketika peserta diperkenalkan pada paradigma baru dalam memahami tata bahasa Inggris.

Selama ini, banyak orang memandang grammar sebagai kumpulan enam belas tenses yang harus dihafal satu per satu. Dalam pelatihan ini, seluruh konsep tersebut dibedah menjadi jauh lebih sederhana.

Menurut instruktur, inti bahasa Inggris terletak pada predikat. Berbeda dengan bahasa Indonesia, predikat dalam bahasa Inggris bukan sekadar kata kerja, tetapi menjadi pusat yang menentukan bentuk keseluruhan kalimat.

Predikat memiliki dua dimensi utama.

Dimensi pertama adalah Time Dimension, yaitu waktu yang terdiri atas Present, Past, Future, dan Past Future.

Dimensi kedua adalah Process Dimension, yaitu keadaan atau proses yang terdiri atas Simple, Continuous, Perfect, dan Perfect Continuous.

Ketika kedua dimensi tersebut dipadukan, lahirlah enam belas tenses yang selama ini dianggap rumit. Dengan pendekatan ini, peserta tidak lagi menghafal enam belas rumus secara terpisah, melainkan memahami logika pembentukannya.

Metode penyampaian materi pun jauh dari kesan membosankan. Peserta diajak bergerak, berdialog, menyusun kalimat sederhana, kemudian mengembangkan berbagai bentuk pertanyaan berdasarkan unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Setiap konsep langsung dipraktikkan melalui aktivitas yang interaktif sehingga suasana kelas berubah menjadi hidup, penuh tawa, dan menyenangkan.

Tanpa terasa, tiga belas jam pembelajaran berlalu begitu cepat. Tidak terlihat wajah lelah. Yang tampak justru semangat baru, rasa percaya diri, dan keyakinan bahwa bahasa Inggris ternyata dapat dipelajari oleh siapa saja apabila menggunakan metode yang tepat.

Pada sesi penutupan, setiap peserta menyampaikan refleksi atas pengalaman belajar yang mereka rasakan. Banyak yang mengaku baru pertama kali memahami hubungan antara waktu, proses, dan struktur kalimat secara utuh. Grammar yang sebelumnya menjadi momok kini berubah menjadi sesuatu yang logis dan mudah dipahami.

Acara kemudian ditutup oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.A. mewakili panitia. Ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada instruktur yang telah membuka cara pandang baru dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Menurutnya, kekuatan utama pelatihan ini bukan hanya pada materi, melainkan pada metode. Grammar yang selama ini identik dengan hafalan berhasil diuraikan menjadi sebuah sistem berpikir yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat diterapkan oleh semua kalangan.

Hal itu terbukti dari keberhasilan peserta yang berasal dari berbagai jenjang, mulai pelajar kelas VIII hingga XII, guru bahasa Inggris, bahkan guru nonbahasa Inggris yang seluruhnya mampu mengikuti pelatihan dengan baik.

Di akhir sambutannya, Ali Aminulloh menegaskan bahwa pelatihan ini bukanlah garis akhir, melainkan titik awal lahirnya gerakan kebahasaan di Mahad Al Zaytun.

Komitmen bersama pun mengemuka. Para peserta sepakat untuk menyebarluaskan metode pembelajaran ini kepada rekan sejawat, para guru, serta seluruh santri. Bahasa Inggris tidak lagi dipandang sebagai pelajaran di ruang kelas semata, tetapi sebagai budaya komunikasi yang akan terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali revolusi besar memang tidak selalu dimulai dari ruang yang megah atau peserta yang berjumlah ribuan. Kadang-kadang, revolusi itu lahir dari sebuah ruang belajar sederhana, dari keberanian mengubah cara berpikir, dan dari keyakinan bahwa setiap orang mampu belajar lebih cepat daripada yang selama ini mereka bayangkan.

Dari Mahad Al Zaytun, revolusi itu sedang dimulai. Bukan sekadar revolusi menguasai bahasa Inggris, tetapi revolusi cara belajar yang menumbuhkan keberanian, membangun kepercayaan diri, dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat.**


Red
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!