PKBM Al Zaytun: Dari Kepedulian Menjadi Gerakan, Dari Kebersamaan Menjadi Kekuatan
Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.
Tutor PKBM Al Zaytun
Tidak semua gerakan besar lahir dari perencanaan yang megah. Sebagian justru berawal dari rasa peduli yang sederhana, dari hati yang tergerak melihat sesama yang membutuhkan. Ketika kepedulian dipelihara, ia tumbuh menjadi kebiasaan. Ketika kebiasaan dirawat bersama, ia menjelma menjadi budaya. Dan ketika budaya itu mengakar kuat, lahirlah sebuah gerakan yang mampu mengubah banyak kehidupan.
Begitulah kisah yang tumbuh dan berkembang di lingkungan Paguyuban Istri Peduli (PIP), sebuah komunitas yang mayoritas anggotanya merupakan warga belajar, alumni, dan tutor PKBM Al Zaytun.
Solid, guyub, peduli, dan responsif. Empat kata itulah yang kerap disematkan kepada para pengurus dan anggota PIP. Dalam berbagai kegiatan sosial maupun pendidikan, mereka dikenal mudah diajak berkoordinasi, cepat tanggap terhadap berbagai persoalan, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama.

Kebersamaan yang terjalin di antara mereka bukan hanya membuat berbagai program berjalan lancar, tetapi juga berhasil menggerakkan masyarakat untuk menuntaskan pendidikan hingga jenjang Sekolah Lanjutan Atas (SLA). Atas arahan pimpinan dan semangat yang terus dibangun bersama, mereka berduyun-duyun bergabung dengan PKBM Al Zaytun dan secara sukarela menjadi penyambung informasi kepada lingkungan sekitarnya.
Kekompakan itu bahkan pernah menjadi perhatian para pembina.
Dalam sebuah acara pembinaan pengurus, Khoerun sempat melontarkan pertanyaan yang membuat seluruh peserta tersenyum.
“Ibu-ibu kok kompak sekali? Kenapa begitu nurut dengan Bu Sri? Memangnya dikasih apa oleh Bu Ketua? Dikasih baju?”
Ruangan pun dipenuhi senyum dan tawa kecil. Tidak ada yang menjawab. Sri Wahyuni sendiri hanya tersenyum.
Menurutnya, selama ini ia tidak pernah memberikan apa-apa kepada para anggota. Tidak ada hadiah, tidak ada imbalan khusus. Yang ada hanyalah sebuah wadah untuk saling membersamai dalam kebaikan.

Sebab sesungguhnya, kekompakan tidak lahir dari pemberian materi. Ia tumbuh dari rasa memiliki, kepercayaan, dan tujuan yang sama.
Nilai kepedulian yang terus ditanamkan oleh para pembina dan pengurus perlahan berkembang menjadi budaya. Mereka belajar untuk peka terhadap kondisi sekitar, belajar mendengar keluh kesah sesama, dan belajar hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Sri Wahyuni masih mengingat dengan jelas bagaimana semua itu bermula.
Pada awalnya, PIP hanyalah sebuah grup silaturahmi yang beranggotakan para istri civitas. Tidak ada program besar, tidak ada target yang muluk-muluk. Hanya sebuah ruang untuk saling menyapa dan berbagi informasi.
Namun sebuah peristiwa sederhana menjadi titik awal lahirnya gerakan sosial yang kemudian berkembang hingga menjadi gerakan pendidikan.
Suatu hari, muncul informasi di grup bahwa seorang warga di Blok Hourkolot sedang sakit. Mendengar kabar tersebut, Yatmini menghubungi Sri Wahyuni dan mengusulkan agar dilakukan kunjungan sekaligus penggalangan bantuan sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan di lingkungan mereka.
Usulan itu langsung disambut baik.
Tanpa banyak pertimbangan, para anggota bergerak. Donasi dikumpulkan secara sukarela, lalu disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Peristiwa itu terjadi pada masa pandemi Covid-19, saat mobilitas masyarakat sangat terbatas dan sebagian besar suami sedang menjalani lockdown di lingkungan Ma’had. Dalam situasi sulit tersebut, bantuan yang diberikan menjadi sangat berarti bagi penerimanya.
Tak disangka, dokumentasi kegiatan yang diunggah ke grup memunculkan laporan-laporan serupa dari berbagai blok. Dalam waktu singkat tercatat sedikitnya dua belas warga yang membutuhkan bantuan karena sakit.

Kondisi itu menggugah kesadaran bersama.
Sri Wahyuni dan rekan-rekannya kemudian bermusyawarah untuk mencari solusi agar bantuan tidak berhenti pada satu atau dua kasus saja. Dari diskusi sederhana itu lahirlah gagasan untuk mengumpulkan donasi rutin dalam jumlah ringan namun berkelanjutan.
Gagasan tersebut mendapat sambutan luar biasa.
Setiap blok kemudian menunjuk dua orang koordinator untuk mengelola kegiatan sosial di wilayah masing-masing. Atas arahan Hartono yang saat itu turut memantau perkembangan kegiatan, dibentuklah struktur kepengurusan yang lebih tertata sehingga setiap program memiliki penanggung jawab yang jelas.
Pertemuan resmi pertama dilaksanakan di Blok Balir pada November 2020. Pertemuan itu menghasilkan pembentukan kepengurusan PIP, penanggung jawab blok, serta tim pendidikan.
Dari titik itulah gerakan kepedulian berkembang semakin luas.
Bukan hanya membantu warga yang sakit atau mengalami kesulitan ekonomi, tetapi juga mulai menyentuh persoalan pendidikan masyarakat. Mereka mendata warga yang belum menyelesaikan sekolah, melakukan pendekatan persuasif, memberikan motivasi, hingga mengarahkan mereka untuk bergabung bersama PKBM Al Zaytun.
Perjalanan yang dimulai dari kepedulian sosial akhirnya menjadi jalan bagi lahirnya kepedulian terhadap pendidikan.
Hingga hari ini, semangat itu tetap hidup.
Hal tersebut kembali terlihat pada Ahad, 14 Juni 2026.
Sejak pagi hingga siang hari para anggota PIP telah mengikuti berbagai kegiatan bersama. Namun setelah seluruh agenda selesai, mereka menerima informasi mendadak dari pimpinan bahwa Abi Halim, sahabat sekaligus pendamping setia Syaykh Al Zaytun, sedang dalam kondisi kritis.
Instruksi untuk melaksanakan istighatsah bersama segera disampaikan melalui grup komunikasi pengurus.
Meski sebagian anggota sedang beristirahat, makan siang, mencuci pakaian, atau menyelesaikan pekerjaan rumah, mereka langsung merespons dan menyatakan kesediaan hadir.
Padahal sejak pagi mereka telah berkegiatan tanpa jeda.
Salah satu yang menarik perhatian adalah respons cepat Ira Kasiroh, alumni PKBM Al Zaytun.
Ketika dihubungi agar segera berkumpul, ia langsung berangkat tanpa lebih dahulu menanyakan tujuan kegiatan tersebut. Setelah tiba di rumah Maryuni yang menjadi titik kumpul, barulah ia bertanya mengenai agenda yang akan dilaksanakan.
Sikap sederhana itu menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar: adanya rasa percaya, rasa memiliki, dan kepedulian yang telah tumbuh kuat di antara mereka.
Istighatsah pun terlaksana dengan khidmat, diikuti warga belajar, alumni, dan tutor PKBM Al Zaytun.
Keesokan harinya, Senin, 15 Juni 2026, kabar duka datang.
Abi Halim dinyatakan wafat.
Seluruh civitas Al Zaytun turut berduka atas kepergian sosok yang dikenal penuh keteladanan, pengabdian, kesetiaan, dedikasi, dan loyalitas dalam mendampingi perjalanan panjang Al Zaytun.
Ribuan jamaah memadati Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Lantunan Asmaul Husna dan Asmaul Nabi menggema mengiringi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan.
Di tengah suasana haru tersebut, Sri Wahyuni menerima pesan dari pembina bahwa bunga tabur untuk prosesi pemakaman belum tersedia.
Permintaan bantuan segera diteruskan kepada pengurus PIP.
Sekali lagi mereka menunjukkan respons yang luar biasa.
Meski waktu sangat terbatas dan iring-iringan jenazah sudah dalam perjalanan menuju kompleks Al Zaytun, para pengurus bergerak cepat. Mereka berkoordinasi, mengumpulkan bunga dari berbagai titik, lalu mengatur pengiriman menuju lokasi pemakaman.
Berkat kerja sama yang solid dan rasa tanggung jawab yang tinggi, bunga tabur berhasil tiba tepat waktu sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan.
Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa semangat kepedulian yang selama ini dibangun bukan sekadar slogan. Ia telah menjadi budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan para anggota.
Bahkan, sejak banyak pengurus dan anggota bergabung dalam program pendidikan PKBM Al Zaytun, solidaritas dan soliditas itu semakin terasa. Pendidikan ternyata tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga memperkuat kesadaran sosial, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama untuk kemaslahatan bersama.
Sri Wahyuni mengaku bersyukur dapat membersamai para pengurus dan anggota yang memiliki kepedulian sosial tinggi.
Menurutnya, semangat berbagi, gotong royong, dan tanggung jawab yang terus dipupuk melalui berbagai kegiatan sosial maupun pendidikan merupakan modal besar untuk membangun masyarakat yang peduli, berdaya, dan berkemajuan.
“Alhamdulillah, semoga semangat kebersamaan dan kepedulian ini terus terjaga. Semoga program pendidikan PKBM Al Zaytun terus berkelanjutan dan manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh civitas, tetapi juga menjangkau masyarakat luas di lingkungan sekitar,” harapnya.
Dari sebuah grup silaturahmi, lahirlah gerakan sosial. Dari gerakan sosial, tumbuh kepedulian terhadap pendidikan. Dan dari pendidikan yang terus diperjuangkan bersama, lahir harapan tentang masyarakat yang lebih peduli, lebih berdaya, dan lebih bermartabat.
Itulah kisah tentang PKBM Al Zaytun, tentang orang-orang biasa yang memilih untuk peduli, lalu mengubah kepedulian itu menjadi gerakan yang nyata.**
Indramayu, 21 Juni 2026
——-
![]()
