Tahlilan di Al Zaytun: Mengabadikan Jejak Pengabdian dengan Doa


Tahlilan di Al Zaytun: Mengabadikan Jejak Pengabdian dengan Doa

Oleh : Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Malam itu, ribuan pasang tangan terangkat menengadah. Di antara lantunan istigfar, dzikir, dan ayat-ayat suci Al-Qur’an, terselip rasa kehilangan yang mendalam. Seorang pendidik telah berpulang, namun jejak pengabdiannya tidak dibiarkan larut bersama waktu. Di Al Zaytun, kehilangan dijawab dengan doa, dan pengabdian diabadikan dengan penghormatan yang tulus.

Wafatnya Ust. Ahmad Fauzi Abdul Halim, S.Sos., M.P. pada 15 Juni 2026 menjadi duka bagi keluarga besar Al Zaytun. Sosok yang selama hidupnya mendedikasikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk dunia pendidikan itu kini telah kembali kepada Sang Pencipta. Namun, sebagaimana nilai yang hidup di Al Zaytun, mereka yang telah berjasa tidak hanya dikenang, melainkan dimuliakan melalui doa yang terus mengalir.

Tradisi tahlilan dalam masyarakat Muslim Indonesia merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat. Lazimnya dilaksanakan sejak hari pertama hingga hari ketujuh, kemudian dilanjutkan pada hari ke-40 dan ke-100. Tradisi ini menjadi ungkapan cinta keluarga dan kerabat, sekaligus ikhtiar menghadiahkan doa terbaik bagi almarhum.

Di Al Zaytun, tradisi tersebut dilaksanakan dengan nuansa yang khas. Tahlilan hari pertama dihadiri ribuan santri, mahasiswa, guru, dosen, eksponen yayasan, serta perwakilan karyawan. Acara dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC.

Rangkaian kegiatan dimulai setelah salat Magrib berjamaah. Suasana khusyuk menyelimuti seluruh jamaah ketika istigfar dan dzikir dilantunkan bersama. Kemudian dibacakan Asmaul Husna, disusul Asmaun Nabi yang lengkap berjumlah 201 nama sebagaimana termaktub dalam kitab Dalail al-Khairat. Bacaan Al-Qur’an dan doa-doa dipanjatkan sebagai hadiah bagi almarhum, sebelum akhirnya ditutup dengan salat Isya berjamaah.

Namun penghormatan itu tidak berhenti pada satu malam tahlilan.

Di maqbarah Al Zaytun, lantunan Al-Qur’an terus bergema selama 24 jam setiap hari selama 40 hari penuh. Kegiatan tersebut dibagi ke dalam enam sesi, masing-masing berlangsung empat jam. Pada setiap sesi, tiga orang pembaca Al-Qur’an bertugas melantunkan ayat-ayat suci. Dengan pengaturan tersebut, setiap hari terlaksana dua kali khataman Al-Qur’an.

Menariknya, para pembaca berasal dari berbagai unsur keluarga besar Al Zaytun. Eksponen yayasan, dosen, guru, mahasiswa, hingga karyawan bergiliran mengambil bagian. Semua hadir dalam semangat yang sama: menghadiahkan bacaan Al-Qur’an dan doa bagi seorang pejuang pendidikan yang telah mengabdikan hidupnya demi kemajuan generasi bangsa.

Tradisi ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada seseorang tidak berhenti ketika ia meninggalkan dunia. Pengabdian yang telah diberikan selama hidup menjadi warisan yang terus dikenang dan dihargai. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya menjadi ungkapan belasungkawa, tetapi juga cerminan rasa terima kasih atas jasa yang telah ditorehkan.

Di Al Zaytun, tahlilan bukan sekadar agenda keagamaan. Ia menjadi bagian dari pendidikan peradaban, yang mengajarkan pentingnya menghargai jasa, memuliakan pengabdian, dan menjaga tali kasih yang tidak terputus oleh kematian.

Karena sesungguhnya, seorang pejuang pendidikan mungkin telah berpulang. Namun nilai-nilai yang diwariskannya akan terus hidup. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, dalam setiap ayat yang dilantunkan, dan dalam setiap generasi yang kelak melanjutkan cita-cita besarnya.

Melalui tahlilan dan bacaan Al-Qur’an yang terus mengalir, Al Zaytun mengabadikan jejak pengabdian itu dengan cara yang paling mulia: doa yang tidak pernah berhenti.**


AA/Red
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!