Meniti Jalan Cinta yang Menumbuhkan Surga


Meniti Jalan Cinta yang Menumbuhkan Surga

Penulis : Ali Aminulloh

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, agar kamu memperoleh ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar-Rum: 21)

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada satu peristiwa yang selalu mampu membuat manusia berhenti sejenak untuk merenung tentang makna kehidupan. Peristiwa itu adalah pernikahan. Sebab pernikahan bukan sekadar penyatuan dua nama dalam satu ikatan hukum, melainkan perjumpaan dua jiwa yang berjanji untuk saling menguatkan dalam perjalanan panjang menuju ridha Allah.

Sabtu, 6 Juni 2026, suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti sebuah resepsi pernikahan di Gantar. Keluarga, kerabat, sahabat, dan para tamu undangan berkumpul untuk menjadi saksi bersatunya dua hati dalam ikatan yang suci.

Hari itu, Miyatul Jannah binti Luqman Hakim resmi dipersunting oleh Yusuf Saefullah bin Joharis. Setelah akad nikah berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan, rasa syukur mengalir dari wajah kedua mempelai dan keluarga besar yang hadir. Sebuah babak baru kehidupan pun dimulai.

Namun sebagaimana sebuah perjalanan panjang membutuhkan bekal, demikian pula kehidupan rumah tangga memerlukan tuntunan agar mampu berjalan menuju tujuan yang dicita-citakan. Karena itulah, setelah akad nikah selesai dilaksanakan, para tamu mendapatkan siraman ruhani melalui nasihat pernikahan yang disampaikan oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., dosen IAI Al-Azis.

Dengan gaya penyampaian yang hangat dan penuh keakraban, beliau membuka nasihatnya dengan sebuah pantun sederhana yang langsung mengundang senyum hadirin.

Buah tomat jatuh ke tanah,
Dimakan binatang jadi sedekah.
Kami ucapkan selamat kepada Yusuf dan Jannah,
Memasuki dunia rumah tangga yang penuh berkah.

Pantun itu bukan sekadar pembuka acara. Ia merupakan doa yang terucap dalam bahasa yang sederhana namun sarat makna. Sebuah harapan agar rumah tangga yang baru dibangun senantiasa berada dalam limpahan keberkahan Allah SWT.

Mengawali tausiyahnya, Dr. Ali Aminulloh mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 21. Ayat tersebut menjelaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah, sebuah jalan yang menghadirkan ketenangan, cinta, dan kasih sayang dalam kehidupan manusia.

Menurut beliau, ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang hubungan suami dan istri, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam bagi siapa saja yang ingin membangun keluarga yang kokoh. Pelajaran itu harus dipahami dengan kesadaran yang utuh, yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.

Memahami Hakikat Pernikahan

Dalam perspektif filosofis, beliau mengajak kedua mempelai untuk terlebih dahulu memahami hakikat pernikahan itu sendiri.

Apa itu menikah?

Menikah adalah akad yang menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai suami dan istri menurut tuntunan syariat Islam.

Lalu mengapa manusia menikah?

Karena manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri. Manusia diberi amanah untuk memelihara dan memakmurkan bumi. Salah satu jalan yang sah, mulia, dan diridhai Allah untuk melanjutkan generasi kehidupan adalah melalui pernikahan.

Kemudian untuk apa manusia menikah?

Tujuan pernikahan tidak berhenti pada kebersamaan lahiriah. Pernikahan adalah ibadah yang sangat panjang. Sebuah perjalanan menuju kebahagiaan yang hakiki, yaitu terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahkan lebih jauh lagi, tujuan akhirnya adalah bertemu kembali dalam surga Allah SWT.

Namun tujuan mulia tersebut tidak akan tercapai tanpa ilmu. Karena itulah Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 269 bahwa Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa memperoleh hikmah, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang banyak.

Rumah tangga yang bahagia tidak dibangun hanya dengan cinta. Rumah tangga dibangun oleh hikmah yang membuat cinta tetap hidup dalam berbagai keadaan.

Saling Memahami: Pondasi Pertama Keluarga

Menurut Dr. Ali Aminulloh, langkah pertama untuk meraih kebahagiaan rumah tangga adalah saling memahami.

Mengapa harus saling memahami?

Karena Allah sendiri telah mengingatkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan.

“Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan” (QS. Ali Imran: 36).

Perbedaan itu tampak pada struktur fisik, struktur psikologis, karakter, kebiasaan, latar belakang keluarga, budaya, hingga cara memandang suatu persoalan.

Sering kali konflik rumah tangga muncul bukan karena hilangnya cinta, melainkan karena tidak adanya pemahaman terhadap perbedaan tersebut.

Ketika suami dan istri belajar memahami satu sama lain, mereka tidak lagi sibuk menuntut pasangan menjadi seperti dirinya. Mereka belajar menerima bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah yang saling melengkapi.

Dari pemahaman lahirlah pengertian. Dari pengertian tumbuh kedewasaan.

Saling Menghargai: Menemukan Kemuliaan dalam Peran

Ketika pemahaman tumbuh, maka penghargaan akan hadir dengan sendirinya.

Suami akan menghargai perjuangan istrinya. Istri akan menghargai tanggung jawab suaminya. Keduanya menyadari bahwa setiap orang memiliki peran yang berbeda namun sama-sama penting.

Di hadapan Allah, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukannya dalam rumah tangga, melainkan oleh ketakwaannya dan kesungguhannya menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

Kesadaran ini akan menghilangkan keinginan untuk saling mendominasi. Sebaliknya, yang tumbuh adalah kerja sama, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Saling Mencintai: Menerima dengan Tulus

Ketika penghargaan telah tumbuh, maka cinta akan menemukan bentuknya yang paling dewasa.

Cinta sejati bukanlah mencintai karena pasangan memiliki kelebihan semata. Sebab setiap manusia memiliki kekurangan.

Cinta yang sesungguhnya adalah kemampuan menerima pasangan apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tetap memilih bertahan ketika ujian datang. Tetap memberi kasih ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.

Dalam kondisi seperti itulah mawaddah dan rahmah menemukan maknanya yang paling dalam.

Bukan cinta yang hanya hadir ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi cinta yang semakin kuat ketika bersama-sama menghadapi kesulitan hidup.

Dari cinta yang matang itulah lahir harmoni dalam keluarga.

Saling Menjaga: Jalan Menuju Surga

Ketika pemahaman, penghargaan, dan cinta telah tumbuh dengan baik, maka akan lahir sikap yang paling indah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu saling menjaga.

Menjaga kehormatan pasangan. Menjaga perasaan pasangan. Menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Menjaga keluarga dari berbagai hal yang dapat merusak kebahagiaan.

Saling menjaga berarti tidak membiarkan pasangan berjuang sendirian. Tidak meninggalkan ketika lemah. Tidak berpaling ketika ujian datang.

Di titik inilah rumah tangga tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal bersama, melainkan menjadi tempat pulang yang menghadirkan ketenangan jiwa.

Menjelang akhir tausiyahnya, Dr. Ali Aminulloh kembali menyampaikan sebuah pantun yang disambut hangat oleh para hadirin.

Kaki tertusuk jadi bernanah,
Segera istirahat, diam di rumah.
Doa kami untuk Yusuf dan Jannah,
Semoga sakinah, mawadah, warahmah.

Pantun sederhana itu menjadi penutup yang indah sekaligus merangkum seluruh pesan yang disampaikan. Bahwa tujuan akhir pernikahan bukanlah kemegahan pesta ataupun kemewahan duniawi, melainkan terwujudnya keluarga yang dipenuhi ketenangan, cinta, dan kasih sayang yang diridhai Allah SWT.

Di tengah suasana penuh syukur dan kebahagiaan, nasihat tersebut tidak hanya menjadi bekal bagi Yusuf dan Jannah. Ia juga menjadi pengingat bagi setiap pasangan yang hadir bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua kehidupan, melainkan menyatukan dua jiwa dalam satu tujuan yang sama: bertumbuh bersama, beribadah bersama, dan berjalan bersama menuju surga Allah.

Semoga langkah Yusuf Saefullah dan Miyatul Jannah senantiasa dipenuhi keberkahan. Semoga rumah tangga yang mereka bangun menjadi taman ketenangan, tempat bertumbuhnya cinta dan kasih sayang, serta menjadi ladang amal yang terus berbuah hingga akhir hayat.

Karena pada akhirnya, rumah tangga yang paling indah bukanlah rumah tangga yang tidak pernah diuji, melainkan rumah tangga yang mampu menjadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin dekat satu sama lain.

Itulah makna sejati dari sakinah, mawaddah, dan rahmah. Itulah jalan cinta yang menumbuhkan surga.**


AA/Red
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!