Harmoni Cinta dari Gantar : Kisah Ibu-Ibu PKBM Al Zaytun Merajut Kebersamaan Lewat Angklung


Harmoni Cinta dari Gantar: Kisah Ibu-Ibu PKBM Al Zaytun Merajut Kebersamaan Lewat Angklung

*Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)*

INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Belajar dan berkarya sejatinya tidak pernah mengenal batasan usia. Di saat senja mulai menyapa, semangat untuk terus bertumbuh justru bisa tampil begitu memukau. Bukan tentang seberapa cepat kita menguasai sesuatu, melainkan tentang ketulusan untuk saling mendengarkan, menurunkan ego, dan berjalan beriringan demi terciptanya sebuah harmoni yang indah.
Esensi kehidupan inilah yang terpancar nyata di sebuah rumah di kawasan Gantar, Indramayu.

Ketika Peluh Kalah oleh Semangat

Siang itu, Jumat, 5 Juni 2026, matahari Gantar sedang terik-teriknya. Namun, sengatan panas itu kalah telak oleh langkah-langkah penuh semangat dari ibu-ibu warga belajar, alumni, dan tutor *PKBM Al Zaytun*. Tergabung dalam Paguyuban Istri Peduli (PIP), perwakilan dari berbagai blok ini berduyun-duyun datang memenuhi kediaman Bu Hasnawati.
Hari itu adalah pertemuan ketiga mereka. Agenda mereka satu: latihan angklung.
Tepat pukul 14.15 WIB, Sri Wahyuni, selaku Ketua PIP sekaligus Tutor PKBM Al Zaytun, membuka kegiatan dengan sebuah prolog yang menyentuh.

“Terima kasih banyak, Ibu-ibu. Di tengah cuaca yang panas ini, dalam usia yang tidak lagi muda, semangat Ibu-ibu untuk datang bersilaturahmi dan latihan angklung sungguh luar biasa,” ucapnya tulus.

Sri Wahyuni membakar semangat mereka dengan sebuah target: tim ini harus tampil memukau pada pertengahan Juli mendatang. Bukan sekadar bermain angklung, mereka sedang merancang sebuah pertunjukan megah yang menggabungkan paduan suara energik dan gerakan tari Poco-Poco yang dinamis. Senyum sumringah pun langsung mengembang di wajah para peserta.

Tawa di Antara Nada yang Keliru

Latihan pun dimulai di bawah bimbingan trio tutor berbakat: Tim Pelatih Paini, Hasnawati, dan Winarsih. Ruangan itu mulai bergema dengan latihan nada dasar.
*“Do.. re.. mi.. fa.. sol.. la.. si.. do…”*
Ternyata, menyatukan bambu-bambu bernada itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Angklung adalah instrumen gotong royong. Jika satu orang terlambat menggoyangkan angklungnya, melodi lagu akan terputus. Sebaliknya, jika terlalu cepat, harmoni akan rusak.
Riuh tawa pecah ketika dinamika latihan dimulai. Ada yang belum jatahnya membunyikan nada tapi sudah menggoyangkan angklungnya dengan bersemangat. Ada pula yang giliran nadanya tiba, malah bengong menanti. Bahkan, sang dirigen pun sempat salah memberikan aba-aba gerakan tangan.
Menariknya, tak ada satu pun yang marah atau saling menyalahkan. Kesalahan demi kesalahan itu justru menjelma menjadi lelucon segar yang mencairkan suasana. Latihan yang melelahkan itu berubah menjadi ruang rekreasi yang penuh tawa.
Secara bertahap, bait demi bait diulang dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya, saat konsentrasi penuh telah terbangun, alunan utuh lagu Poco-Poco asal Maluku itu terdengar begitu indah dan rapi.
*”Horeee!* Bersoraklah seluruh isi ruangan. Lega, senang, dan bangga bercampur menjadi satu.

Filosofi Angklung: Setiap Nada Sangat Berharga

Bagi keluarga besar PKBM Al Zaytun, latihan ini bukan sekadar persiapan tampil, melainkan sebuah proses mengasah jiwa. Ada beberapa pelajaran filosofis yang lahir dari ruang latihan sederhana ini:

*Kekuatan Kebersamaan:* Angklung mengajarkan bahwa ego kelompok harus diredam demi sebuah harmoni. Kehadiran setiap individu bersifat mutlak.

*Melatih Kesabaran dan Otak:* Bermain angklung melatih motorik, fokus, serta keseimbangan otak kanan dan kiri. Kesulitan yang dihadapi adalah tanda bahwa mereka terus berkembang.

*Melestarikan Warisan Leluhur:* Memegang angklung berarti memeluk identitas bangsa, menjadi penjaga warisan budaya Nusantara.

Impian yang Bertumbuh Bersama

Setelah letih berfokus pada nada, latihan jeda sejenak. Mereka menyanyi bersama tanpa angklung sebagai sarana penyegaran. Di sela-sela istirahat, obrolan hangat mengalir tentang bagaimana agar permainan mereka bisa lebih cepat fasih.
“Latihan sepekan dua kali, Bu!” usul salah satu warga belajar.
“Setelah senam bersama, langsung latihan saja, Bu,” timpal yang lain.
Melihat antusiasme yang membumbung tinggi, hati Sri Wahyuni membuncah haru. Di sudut ruangan, tampak pula wajah-wajah pendukung setia yang selalu hadir memberikan energi positif, seperti Ibu Yanti (istri Ustadz Ibrahim) dan Ibu Sofiah (istri Ustadz Basuki).


*”Terima kasih sahabat semua atas semangatnya untuk mewujudkan impian bersama ini…”* bisik Sri Wahyuni dalam hati, menatap wajah-wajah sumringah di hadapannya.
Pukul 16.30 WIB, setelah sesi foto bersama untuk mengabadikan momen indahnya kebersamaan, kegiatan sore itu ditutup dengan ucapan hamdalah.
Ibu-ibu PKBM Al Zaytun melangkah pulang menembus sore Gantar. Langkah kaki mereka mungkin terasa letih, namun hati mereka penuh dengan kegembiraan. Hari itu, mereka tidak hanya pulang membawa kemajuan dalam bermusik, tetapi membawa pulang sebuah bukti nyata: bahwa belajar dengan suka cita akan selalu melahirkan harmoni yang mendamaikan jiwa.**

SW/AA
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!