Menanam Benih Peradaban Melalui Bimbingan Terpadu MI Al Zaytun
INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Sabtu pagi, 16 Mei 2026, suasana Basemen Ali Bin Abi Thalib Ma’had Al Zaytun terasa berbeda. Ratusan pasang mata para santri kelas VI MI Angkatan ke-28 duduk rapi memenuhi ruangan. Mereka datang bukan sekadar menghadiri kegiatan seremonial, melainkan mengikuti sebuah perjalanan batin: bimbingan terpadu menuju fase baru kehidupan pendidikan mereka.
Sebanyak 194 santri hadir dalam kegiatan itu, terdiri dari 105 rijal dan 89 nisa. Di antara mereka, terdapat 18 santri dari MI Sekolah Kita Cibanoang, terdiri dari 8 rijal dan 10 nisa. Wajah-wajah muda itu memancarkan harapan, rasa penasaran, sekaligus semangat untuk menapaki masa depan.
Acara dibuka dengan nuansa nasionalisme dan semangat kepesantrenan. Lagu Bangun Pemuda Pemudi menggema memenuhi ruangan, disusul Mars Al Zaytun, Mars dan Hymne Politeknik yang dipimpin dengan penuh penghayatan oleh dirigen Eka Putri Nurhandayani. Lagu-lagu itu seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan akademik, tetapi juga tentang membangun jiwa kebangsaan dan peradaban.
Suasana kemudian berubah khidmat saat lantunan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi dibacakan bersama. Pemandunya adalah Excell Maura Ardanish bin Supriyatna dari Sekolah Kita Cibanoang. Dari bibir para santri yang masih belia, nama-nama mulia itu mengalun lembut, menghadirkan ketenangan di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd., mengawali sambutannya dengan doa tulus untuk kesehatan Syaykh, Umi, dan seluruh keluarga besar pesantren. Ia juga mengajak seluruh peserta mendoakan civitas yang sedang sakit. Dalam suasana penuh empati itu, pendidikan terasa hadir bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga ruang menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang antarsesama.
“Materi inti hari ini adalah akidah akhlak,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Pernyataan itu kemudian menemukan bentuknya dalam pemaparan Hafidz Al Barzah, S.Pd., M.Pd. Dengan penuh optimisme, ia mengajak para santri membaca masa depan Indonesia Emas 2045. Di hadapan generasi muda itu, ia menggambarkan Indonesia dengan segala potensi besarnya, namun juga tantangan-tantangan yang akan dihadapi: perubahan sosial, kemajuan teknologi, hingga tantangan moral manusia modern.
Bagi Hafidz, masa depan bangsa tidak cukup dibangun oleh kecerdasan semata. Indonesia membutuhkan manusia yang kuat secara karakter, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual.
Pemaknaan itu semakin mendalam ketika materi berikutnya disampaikan oleh Iqbal Maulana, S.Pd., mengenai aplikasi qiraat dalam pendidikan kontemporer kehidupan berasrama sesuai visi dan misi Ma’had Al Zaytun.
Ia menggunakan filosofi pohon untuk menjelaskan perjalanan akidah dan pembentukan diri seorang santri.
Menurutnya, akidah dimulai dari sebuah benih. Benih itu melambangkan kondisi seorang anak yang belum memahami dirinya, belum mengenali potensinya, dan belum mengetahui tujuan hidupnya. Namun ketika benih mulai tumbuh menjadi kecambah, seorang santri mulai mengenal dirinya sendiri, memahami perasaannya, serta menyadari bahwa ia memiliki keunikan yang tidak dimiliki orang lain.
Ketika akar mulai menguat, santri belajar menerima dirinya apa adanya. Mereka mulai mensyukuri kelebihan yang dimiliki dan memahami bahwa setiap manusia memiliki potensi yang berbeda-beda. Tidak semua orang harus menjadi sama untuk menjadi berharga.
Selanjutnya batang pohon tumbuh. Pada fase ini, santri mulai berani mencoba, percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri, dan memiliki kemauan untuk terus belajar serta berkembang.
Saat pohon semakin kokoh, seorang santri dinilai mulai mampu mengatur dirinya sendiri, belajar bertanggung jawab, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan menjalankan disiplin dengan konsisten.
Dan akhirnya, pohon itu berbuah.
Buah tersebut dimaknai sebagai pribadi manusia yang memahami dirinya, mengenal tujuan hidupnya, memiliki nilai dan prinsip hidup, serta mampu memberi manfaat dan inspirasi bagi orang lain.
Filosofi sederhana itu menyentuh banyak hati. Sebab di tengah dunia yang sering mengukur manusia dari angka dan pencapaian, para santri diajak memahami bahwa pertumbuhan manusia sejati dimulai dari pengenalan diri dan akhlak yang baik.
Materi berikutnya membahas karakteristik pendidikan kontemporer dalam perspektif akhlak Rasulullah SAW, terutama dalam membangun masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Pemikiran itu kemudian diperkuat oleh Khairul Amri, S.Pd., yang menjelaskan implementasi pendidikan kontemporer berlandaskan nilai-nilai dasar Pancasila.
Dalam pemaparannya, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai jalan menuju kesuksesan pribadi, tetapi juga sebagai upaya membentuk masyarakat yang adil, sehat secara sosial, cerdas secara intelektual, dan manusiawi dalam memperlakukan sesama.
Menjelang akhir acara, suasana berubah haru. Penghargaan diberikan kepada peserta bimbingan terpadu dan para siswa yang berhasil khatam Juz 30. Satu per satu nama dipanggil, disambut tepuk tangan yang hangat dan penuh kebanggaan.
Momen paling menyentuh hadir ketika video dokumentasi perjalanan santri MI kelas VI ditayangkan. Tawa, kebersamaan, perjuangan belajar, hingga kenangan masa kecil mereka berputar di layar besar. Banyak mata mulai berkaca-kaca.
Lagu Jasa Guru kemudian dinyanyikan bersama. Sebuah lagu sederhana yang mendadak terasa sangat dalam maknanya di ruangan itu.
Acara diakhiri dengan prosesi penggulungan oleh Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd., sebagai simbol penutupan masa pembinaan sekaligus pembukaan gerbang perjalanan baru bagi para santri.
Di ruang basemen itu, pendidikan tampak bukan sekadar soal ruang kelas dan buku pelajaran. Ia adalah proses menanam benih-benih peradaban: menumbuhkan manusia yang mengenal dirinya, memahami Tuhannya, mencintai bangsanya, dan siap memberi manfaat bagi sesama.
Dan mungkin, dari santri-santri kecil yang duduk sederhana pagi itu, Indonesia sedang menyiapkan masa depannya.**
Ali Aminulloh
——
![]()
