Istiqomah Menyiapkan Generasi Pemimpin Bangsa


ISTIQOMAH MENYIAPKAN GENERASI PEMIMPIN BANGSA

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME (Dosen IAI Al-Azis)

Pelatihan Pelaku Didik ke-43 Al- Zaytun Hadirkan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Bedah Jalan Indonesia Emas dari Pendidikan hingga Agro-Maritim


Ada yang terus dijaga oleh Pesantren Al Zaytun sebagai denyut panjang peradaban: konsistensi mendidik manusia, bukan sekadar mengajar ilmu.

Sejak dimulai pada 1 Juni 2025, setiap hari Ahad, pusat pendidikan Berasrama Al- Zaytun istiqomah menyelenggarakan Pelatihan Pelaku Didik (PPD): sebuah forum pembinaan intelektual, spiritual, dan kepemimpinan yang mempertemukan para santri, mahasiswa, guru, dosen, serta pengelola pendidikan dengan tokoh-tokoh nasional, para profesor dari beragam disiplin ilmu. Dan pada Ahad, 3 Mei 2026, forum itu memasuki sesi ke-43.

Bukan angka kecil untuk sebuah agenda mingguan yang menuntut ketekunan gagasan, disiplin penyelenggaraan, dan kesungguhan visi.

Pada sesi ke-43 ini, Al Zaytun menghadirkan seorang tokoh yang lengkap dalam pengalaman yang akademik, birokrasi, politik, dan aktivis nasional: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S..

Beliau dikenal sebagai anggota Komisi IV DPR RI, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Persatuan Nasional dan Kabinet Gotong Royong, akademisi senior, ilmuwan kelautan, birokrat, politisi, sekaligus aktivis pembangunan bangsa.

Kehadirannya di PPD 43 bukan sekadar memberi kuliah umum. Beliau datang membawa kegelisahan intelektual sekaligus resep besar tentang bagaimana Indonesia harus diselamatkan melalui transformasi pendidikan, ekonomi, dan kepemimpinan nasional.

Bukan Sekadar Kuliah, Tetapi Diagnosa Bangsa

Sejak awal paparannya, Prof. Rokhmin Dahuri tidak memilih jalan aman sebagai pembicara seremonial.

Ia langsung menempatkan forum PPD sebagai ruang berpikir besar tentang masa depan Indonesia.

Dengan materi yang ia sebut setara “168 halaman kuliah satu semester”, Prof. Rokhmin mengajak peserta melihat Indonesia bukan dari permukaan, melainkan dari akar masalahnya: mengapa negeri yang begitu kaya justru berjalan terseok menuju kemakmuran.

Menurutnya, ada empat syarat mutlak sebuah bangsa menjadi maju, makmur, berdaulat, dan diberkahi Tuhan.

Pertama, bangsa itu harus memiliki roadmap pembangunan yang benar, disusun oleh orang-orang terbaik, bukan sekadar konsultan administratif.

Kedua, harus memiliki sumber daya manusia unggul.

Ketiga, memerlukan stabilitas politik yang kuat.

Dan keempat, harus dipimpin oleh pemimpin yang kompeten serta berintegritas.

Bagi Prof. Rokhmin, Indonesia sesungguhnya bukan negara miskin.

Indonesia justru “bangsa yang sangat dicintai Allah”, dengan empat modal dasar: jumlah penduduk besar, kekayaan alam melimpah, bonus demografi, dan posisi geoekonomi strategis yang dilalui sekitar 40 persen perdagangan global.

Namun, semua modal itu belum mampu menjelma menjadi kesejahteraan karena bangsa ini, dalam istilah Prof. Rokhmin, terlalu lama berjalan dalam tata kelola yang salah arah.

“Kita lebih banyak mengimpor dan mengonsumsi, bukan memproduksi dan mengekspor,” demikian garis kritik yang ia bangun di hadapan peserta PPD.

Kemiskinan yang Tidak Boleh Dinormalisasi

Pemaparan Prof. Rokhmin menjadi kian tajam ketika ia menyinggung soal data kemiskinan.

Beliau menolak ukuran statistik yang terlalu lunak.

Menurutnya, kemiskinan tidak bisa hanya diukur dari sekadar mampu bertahan hidup, tetapi dari kemampuan memenuhi enam kebutuhan dasar manusia secara layak: pangan, sandang, rumah, kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

Dengan merujuk ukuran Bank Dunia, ia menyebut bahwa keluarga Indonesia idealnya membutuhkan pendapatan sekitar Rp14 juta per bulan agar bisa disebut hidup sejahtera.

Sementara kenyataan di banyak daerah, termasuk pesisir Pantura, masyarakat masih bertahan di angka Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Di titik inilah kuliah umum itu tidak berhenti sebagai teori ekonomi.

Ia menjelma menjadi seruan moral: bahwa pejabat, pendidik, dan seluruh elemen bangsa tidak boleh santai menghadapi ketimpangan sosial yang demikian brutal.

Al Zaytun Dinilai Sedang Berjalan di Jalur yang Benar

Menariknya, di tengah kritik kerasnya terhadap tata kelola nasional, Prof. Rokhmin justru memberikan apresiasi ilmiah terhadap model pendidikan yang dikembangkan Al Zaytun.

Dengan membandingkan sistem pendidikan Barat yang unggul dalam sains tetapi lemah dalam spiritualitas, dan sistem pendidikan Islam yang menekankan integrasi iman, akhlak, dan ilmu, Prof. Rokhmin menyatakan bahwa Al Zaytun telah berhasil memadukan keduanya.

Ma’had ini, menurutnya, tidak hanya mengajarkan IPTEK, tetapi juga menguatkan IMTAK.

Tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi sedang merekayasa karakter.

Tidak hanya mengajar santri menjadi pencari kerja, tetapi melatih mereka menjadi entrepreneur melalui basis agro, peternakan, maritim, digital, dan kemandirian produksi.

“Sudah on the right track,” simpul Prof. Rokhmin, setelah meneropong Al Zaytun melalui kacamata sains pendidikan Islam dan Barat.

Beliau bahkan menyebut, bila dijalankan secara konsisten, Al- Zaytun berpotensi menjadi center of excellence kebangkitan pendidikan Islam modern Indonesia, bahkan dunia.

Pernyataan itu bukan basa-basi forum. Sebab ia keluar dari seorang profesor yang sepanjang hidupnya berada dalam pusaran kebijakan nasional.

Dari Mimbar Kuliah ke Problem Riil Pantura

Forum PPD 43 semakin hidup ketika memasuki sesi dialog.

Pertanyaan yang muncul tidak berhenti pada tataran ideologis pendidikan, tetapi langsung menghantam isu riil masyarakat Pantura: program revitalisasi tambak pemerintah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Rokhmin kembali menunjukkan posisinya bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi legislator yang terlibat dalam pengawasan kebijakan negara.

Beliau menyebut, niat pemerintah merevitalisasi sekitar 78 ribu hektare tambak mangkrak di Pantura adalah langkah baik, tetapi implementasinya berpotensi keliru bila dijalankan secara monospesies, tanpa kajian pasar, dan tanpa melibatkan rakyat sebagai pelaku utama.

Menurutnya, bila seluruh kawasan hanya dipaksa untuk budidaya nila salin, maka ancaman penyakit, kelebihan produksi, dan kegagalan pasar sangat besar.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahaya bila pengelolaan sepenuhnya diambil korporasi besar, sementara masyarakat pesisir hanya menjadi buruh di tanahnya sendiri.

Karena itu ia menawarkan tiga koreksi: multi spesies, hilirisasi pasar, dan pelibatan rakyat Pantura sebagai pemilik manfaat utama.

Bagi Prof. Rokhmin, pembangunan tidak boleh sekadar menghasilkan proyek.

Pembangunan harus menghasilkan kesejahteraan nyata. Dan rakyat harus menjadi subjek, bukan penonton.

PPD Al Zaytun: Forum yang Tidak Hanya Mengajar, Tapi Menyadarkan

Yang membuat Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun berbeda adalah: forum ini tidak berhenti pada transfer pengetahuan. PPD sedang membangun kultur berpikir.

Setiap Ahad, peserta tidak sekadar mendengar narasumber, tetapi dipaksa menimbang keadaan bangsa, membaca realitas, lalu menghubungkannya dengan tanggung jawab pendidikan.

Inilah pendidikan yang menyiapkan manusia menjadi pelaku sejarah. Bukan lulusan yang sibuk mencari tempat nyaman, tetapi generasi yang siap memperbaiki keadaan.

Maka ketika sesi ke-43 menghadirkan Prof. Rokhmin Dahuri, yang terjadi bukan hanya kuliah umum, melainkan semacam alarm kebangsaan: bahwa Indonesia terlalu kaya untuk terus miskin, terlalu besar untuk terus salah urus, dan terlalu religius untuk terus kehilangan arah moral.

Di titik ini, konsistensi Al Zaytun menjalankan PPD selama 43 pekan berturut-turut menjadi lebih dari sekadar agenda kelembagaan.

Ia telah berubah menjadi ikhtiar sunyi menyiapkan calon pemimpin Indonesia masa depan.

Pemimpin yang bukan hanya cakap menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga paham bahwa kemajuan tanpa iman akan melahirkan kerakusan.

Pemimpin yang bukan hanya fasih bicara teknologi, tetapi juga mengerti bahwa kesejahteraan rakyat adalah ukuran utama keberhasilan negara.

Dan jika forum-forum seperti ini terus dijaga, bukan mustahil dari ruang-ruang belajar Al Zaytun akan lahir generasi yang kelak menjawab kegelisahan Prof. Rokhmin Dahuri: bahwa Indonesia memang membutuhkan pemimpin yang unggul dalam ilmu, kuat dalam iman, dan berani berpihak pada rakyat.
Sebab bangsa besar tidak lahir dari kebetulan.

Ia lahir dari pendidikan yang dikerjakan dengan istiqomah.**


Indramayu, 3 Mei 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!