Revolusi Pertanian: Ilmu Langit untuk Bumi Indonesia

Revolusi Pertanian: Ilmu Langit untuk Bumi Indonesia

Oleh : Ali Aminulloh

Mahad Al Zaytun kembali menegaskan konsistensinya sebagai pusat pendidikan berbasis peradaban melalui pelatihan pelaku didik yang berkelanjutan. Mengusung tema besar “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia”, forum ini menjadi ruang strategis dalam membentuk generasi unggul.

Pada sesi ke-41, hadir sosok yang tidak hanya akademisi, tetapi juga praktisi lapangan: Prof. Dr. Ir. Gembong Priyatmo Arbyantono, M.Sc. Seorang guru besar pertanian yang telah lama meneliti dan mengembangkan sistem pertanian terpadu berbasis lingkungan dan spiritualitas.

Di hadapan ratusan santri, ia tidak hanya berbicara tentang teknik bercocok tanam, tetapi mengajak peserta melihat pertanian sebagai jalan hidup, bahkan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban.

Tanah, Air, dan Ilmu dari Langit

Pemaparannya dimulai dari sesuatu yang tidak biasa: kisah penciptaan bumi. Ia menjelaskan bahwa tanah yang hari ini menjadi sumber kehidupan awalnya hanyalah batuan mati yang dihidupkan oleh air dan mikroorganisme.

“Tanah satu sentimeter itu bisa terbentuk seratus tahun,” ungkapnya, menekankan betapa panjang dan berharganya proses alam tersebut.

Dari sinilah ia memperkenalkan gagasan bahwa mikroorganisme adalah “aktor utama” kesuburan tanah. Ia bahkan menyebutnya sebagai “profesor-profesor lulusan universitas alam” yang bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun, menurutnya, manusia modern justru menjadi perusak utama. Penggunaan bahan kimia secara berlebihan telah mematikan kehidupan mikro di tanah. Akibatnya, tanah menjadi tergantung, tanaman mudah sakit, dan produksi tidak berkelanjutan.

Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap bumi” dan menawarkan solusi melalui apa yang ia sebut sebagai ilmu pertobatan ekologi.

Mengubah Nasib Petani: Dari Tradisi ke Sistem Modern

Tidak berhenti pada aspek lingkungan, Prof. Gembong juga menyoroti persoalan sosial ekonomi petani. Ia melihat bahwa kemiskinan petani bukan semata karena keterbatasan lahan, tetapi karena sistem yang tidak berpihak.

Solusinya adalah transformasi total: dari petani tradisional menjadi pengusaha tani mandiri.

Ia memperkenalkan konsep corporate farming, yaitu pengelolaan lahan secara kolektif agar lebih efisien, modern, dan memiliki daya tawar tinggi.

Transformasi ini, menurutnya, harus melalui tahapan:

– pembangunan karakter,
– peningkatan pengetahuan,
– penguatan ekonomi desa,
– hingga penerapan teknologi.

“Desa itu produsen. Desa harus jadi pusat ekonomi negara,” tegasnya.

Teknologi Ramah Lingkungan dan Inovasi Tanpa Batas

Dalam paparannya, ia juga menunjukkan berbagai inovasi yang telah ia lakukan:
mulai dari padi yang bisa tumbuh tanpa air, tanaman yang tahan air laut, hingga sistem pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas berkali lipat.

Ia juga mengkritik praktik pertanian modern yang merusak lingkungan, seperti penggunaan pestisida berlebihan dan pengelolaan limbah yang tidak tepat.

Sebagai gantinya, ia mengembangkan sistem berbasis mikroorganisme, pupuk organik, serta teknologi fermentasi yang tidak hanya meningkatkan hasil, tetapi juga menjaga keseimbangan alam.

Sesi Tanya Jawab: Dari Multifarm hingga Nutrisi Ternak

Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi tanya jawab. Salah satu santri, Ilham Firdaus, mengajukan pertanyaan tentang keterkaitan sistem multifarm dengan sektor peternakan, khususnya dalam pemenuhan nutrisi pakan dan kualitas hasil ternak.

Menjawab hal tersebut, Prof. Gembong menjelaskan bahwa sistem pertanian terpadu justru menjadi solusi utama dalam meningkatkan kualitas peternakan. Limbah pertanian seperti jerami, yang selama ini dianggap tidak bernilai, dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi pakan berkualitas tinggi.

Ia menyebutkan bahwa kadar protein jerami yang semula hanya sekitar 2 persen dapat meningkat hingga hampir 10 persen setelah difermentasi. Dampaknya signifikan terhadap pertumbuhan ternak, bahkan mampu meningkatkan berat badan harian secara optimal.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa konsep food–feed–food cycle menjadi kunci keberlanjutan: hasil pertanian menjadi pakan ternak, dan hasil ternak kembali menjadi sumber pangan.

Ia juga mengkritisi kebijakan yang tidak berbasis kesiapan sistem, seperti program pengadaan ternak tanpa perhitungan kebutuhan pakan yang realistis. Baginya, semua harus berbasis perencanaan yang matang dan ilmu yang tepat.

Pertanian sebagai Jalan Peradaban

Di penghujung sesi, Prof. Gembong mengajak para santri untuk melihat pertanian dengan perspektif yang lebih luas.

Pertanian bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian. Petani, menurutnya, adalah pihak yang paling banyak memberi, namun paling jarang diapresiasi.

Ia bahkan membiasakan diri mendoakan petani setiap kali makan: sebuah simbol penghormatan atas peran mereka dalam menjaga kehidupan.

Pesannya sederhana namun kuat:
masa depan tidak hanya milik mereka yang pintar teknologi, tetapi juga mereka yang mampu menjaga keseimbangan alam.

Pelatihan ini menjadi bukti bahwa pendidikan di Al Zaytun tidak hanya berorientasi pada ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter dan visi besar peradaban.

Di tengah tantangan global: krisis pangan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan ekonomi. Pesan yang disampaikan terasa relevan: bahwa solusi masa depan bisa dimulai dari tanah, dari desa, dan dari kesadaran manusia untuk kembali selaras dengan alam.**

Indramayu, 20 April 2026
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!