Inspirasi WB PKBM Al Zaytun: Belajar Tanpa Pandang Usia, Hidup Jadi Lebih Berwarna

Inspirasi WB PKBM Al Zaytun: Belajar Tanpa Pandang Usia, Hidup Jadi Lebih Berwarna

INDARAMAYU-JAYANEWS.COM – Sabtu siang itu, 18 April 2026, matahari terasa begitu terik. Jam menunjukkan pukul 10.40. Di area bazar, suasana masih hidup: ramai, hangat, dan penuh energi. Namun yang paling mencuri perhatian bukan sekadar keramaian itu, melainkan gelombang tawa yang pecah dari sebuah ruang kelas. Tawa yang jujur, lepas, dan… menular.

Di sanalah warga belajar PKBM Al Zaytun yang usia mereka tidak muda lagi, menjalani hari mereka. Bukan dengan wajah tegang, melainkan dengan semangat yang mengalir alami. Ada yang tertawa dalam ice breaking, ada yang serius menyimak penjelasan tutor, ada yang berani tampil presentasi, dan ada pula yang tenggelam dalam praktik keterampilan. Semua bergerak dalam satu irama: belajar dengan bahagia.

Di kelas B2, pada jam terakhir mata pelajaran Bahasa Indonesia, tutor Sri Wahyuni mengajak warga belajar memahami teks laporan percobaan. Materi yang mungkin terdengar kaku di atas kertas, justru menjadi hidup di tangan mereka. Pembahasan tentang tujuan, alat dan bahan, langkah-langkah, hingga kesimpulan, tidak sekadar teori, tetapi langsung menyentuh praktik kehidupan sehari-hari.

Contoh yang diangkat pun sederhana: membuat telur asin. Dari teknik tradisional menggunakan campuran garam, abu gosok, dan tanah liat, hingga proses pengamplasan kulit telur, semuanya dijelaskan dengan runtut. Namun yang menarik, pembelajaran tidak berhenti di situ.

Tiba-tiba, sebuah suara dari bangku warga belajar mencairkan suasana. Bu Ngasrini dengan penuh antusias menyela,
“Usth, saya lihat di YouTube sekarang ada cara baru… pakai air garam direbus, lalu direndam di toples selama 7 hari. Hasilnya bagus.”

Seketika, ruang kelas berubah menjadi ruang diskusi. Ini bukan lagi pembelajaran satu arah. Ini adalah bukti bahwa belajar tidak mengenal batas usia, dan tidak pula terbatas pada ruang kelas. Teknologi di tangan mereka bukan sekadar hiburan, tetapi jendela ilmu yang terus terbuka.

Di titik itulah terasa: semangat belajar mereka bukan kewajiban, melainkan kebutuhan.

Kegiatan berlanjut. Warga belajar dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membuat bunga dari kain atau kerudung untuk hiasan dinding, sementara kelompok kedua merangkai bunga dari tisu untuk dekorasi meja atau seserahan. Awalnya, terdengar ragu,
“Bisa nggak ya… belum pernah bikin…”

Namun keraguan itu perlahan luruh. Tangan-tangan yang semula kaku mulai bergerak. Mata yang sempat sayu berubah berbinar. Bahkan Bu Kasinem yang tadinya mengantuk, mendadak segar kembali begitu praktik dimulai.

Kelas itu bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang hidup.

Setelah karya selesai, mereka menuliskan laporan percobaannya. Tidak harus sempurna. Bahkan jika hasilnya tidak sesuai harapan, mereka diajak jujur menuliskan kendala. Karena di sanalah letak pembelajaran yang sesungguhnya.

Dan ketika semua selesai, suasana berubah menjadi perayaan kecil. Tawa kembali pecah. Mereka berfoto bersama hasil karya masing-masing: bangga, puas, dan bahagia. Ada yang berucap ringan,
“Besok bikin lagi ah di rumah.”

Sederhana. Tapi bermakna dalam.

Di PKBM Al Zaytun, belajar bukan beban. Ia adalah warna. Ia adalah energi yang menghidupkan hari. Ia adalah bukti bahwa usia bukan alasan untuk berhenti tumbuh.

Karena selama semangat masih menyala, hidup akan selalu terasa lebih bergairah.
Alhamdulillah.***


Pewarta : Sri Wahyuni,S.Pd. (Tutor PKBM Ak Zaytun)
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!