Magister dari Lulusan Kejar Paket. Apa bisa?
(Kisah Inspiratif Hartono, Tutor PKBM Al Zaytun)
Oleh: Ali Aminulloh
Di sebuah ruang sidang Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU), ketegangan mencair menjadi haru saat lima penguji yang terdiri dari para profesor dan doktor memberikan keputusan lulus mutlak. Di hadapan mereka berdiri Hartono, pria berusia 51 tahun yang baru saja membuktikan bahwa api semangat belajar tidak pernah mengenal kata padam.
Hari itu, Rabu, 8 April 2026, bukan sekadar perayaan gelar akademik baru, melainkan sebuah proklamasi bahwa lulusan pendidikan non-formal mampu berdiri tegak di puncak prestasi universitas negeri.

Hartono bukanlah akademisi biasa yang meniti karier linear sejak muda. Ia adalah alumni Program Paket C dari PKBM Al-Zaytun, sebuah jalur pendidikan kesetaraan yang seringkali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun, di tangan Hartono, ijazah Paket C itu menjadi tiket menuju perjalanan intelektual yang luar biasa. Ia berhasil lulus dengan nilai A (Sangat Memuaskan) dan resmi menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.), sebuah pencapaian yang kian monumental karena ia tercatat sebagai mahasiswa pertama di angkatannya yang berhasil menempuh ujian tesis pada Program Studi PGMI.
Kecepatan dan ketepatan Hartono dalam menyelesaikan studi di usia kepala lima menunjukkan disiplin yang bukan kaleng-kaleng. Ternyata, ketangguhan mentalnya telah lama ditempa di atas matras sebagai seorang Karateka pemegang Sabuk Hitam Dan IV Nasional sekaligus Wasit Nasional Karate Indonesia. Kedisiplinan fisik dan filosofi bela diri yang ia anut rupanya bertransformasi menjadi ketekunan akademik yang luar biasa, memungkinkannya membagi waktu antara tumpukan buku referensi dan tugas-tugas berat di lapangan.
Eksistensi Hartono di dunia pendidikan non-formal bukan sekadar mengejar gelar, melainkan sebuah pengabdian struktural yang nyata. Sebagai Sekretaris PKBM Al-Zaytun dan Wakil Ketua Ikatan Alumni PKBM Al-Zaytun, ia merupakan motor penggerak yang memastikan roda organisasi tetap berputar. Peran ini ia jalani di sela kesibukannya sebagai relawan di Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Ia ingin setiap peserta didik kesetaraan melihat bahwa seorang pengurus mereka bukan sekadar pemberi teori, melainkan bukti hidup bahwa lulusan PKBM mampu bersaing dan unggul di kancah nasional.
Keberhasilan ini pun mendapat apresiasi tinggi dari Dr. Ali Aminulloh, M.Pd., ME., selaku Kepala PKBM Al-Zaytun. Beliau memandang Hartono sebagai prototipe ideal dari semangat belajar sepanjang hayat yang menjadi ruh institusinya. Bagi Dr. Ali, pencapaian Hartono adalah validasi kuat bahwa sistem pendidikan di Al-Zaytun mampu mencetak sumber daya manusia yang kompetitif, tangguh, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan meski telah memasuki usia senja.
Meski kini berdiri dengan gelar magister di tangan, Hartono tetap menjejak bumi dengan kerendahan hati yang dalam. Ia menegaskan bahwa seluruh tinta emas yang ia torehkan ini adalah persembahan untuk almamater tercintanya, Ma’had Al-Zaytun. Baginya, di sanalah fondasi karakter dan tekadnya pertama kali dibentuk. Prestasi ini bukan hanya tentang pemenuhan ambisi pribadi, melainkan sebuah bentuk syukur dan dedikasi kepada institusi yang telah memberinya kesempatan untuk bermimpi dan mewujudkannya melampaui batasan usia.***
Indonesia, 9 April 2026
——–
![]()
