UBAH LIMBAH JADI BERKAH, UNEJ GANDENG UNMUH AJARKAN PETERNAK BAGOREJO OLAH KOTORAN AYAM JADI BIOGAS, MAGGOT & VERMIKOMPOS
JEMBER-JAYANEWS.COM – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Jember (UNEJ) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Jember (UNMUH) menggelar pelatihan “Pengelolaan Limbah Kotoran Ayam Petelur Secara Zero Waste” di Desa Bagorejo, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember pada Jumat, 24 Juli 2026.
Kegiatan skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) DPPM Kemendiktisaintek 2026 ini diikuti 30 peternak ayam petelur dan sapi dari Kelompok Mbago Telur Sejahtera dan Guyub Rukun Farm.

Ketua Tim, Listya Purnamasari, S.Pt., M.Sc., Ph.D. menyampaikan kegiatan ini bertujuan mengatasi permasalahan limbah kotoran ayam yang selama ini hanya ditumpuk dan berpotensi menimbulkan pencemaran, bau, serta lalat.
“Melalui pendekatan zero waste, limbah tidak lagi menjadi masalah. Kotoran ayam bisa diolah menjadi biogas, bioslurry, maggot, dan vermikompos yang semuanya punya nilai ekonomi,” ujar Listya.
Dalam pelatihan, tim UNEJ yang juga beranggotakan drh. Purmaning Dhian Isnaeni, M.PL. dan dari UNMUH, Retno Murwanti, S.TP., M.P., CRA. bersama 20 mahasiswa memberikan materi dan demonstrasi 4 teknologi terintegrasi. Pertama, pembuatan biogas dari kotoran ternak sebagai energi alternatif. Kedua, pemanfaatan bioslurry sisa biogas sebagai pupuk organik dan media tanam. Ketiga, budidaya maggot BSF untuk mengolah limbah sekaligus menghasilkan pakan kaya protein. Keempat, produksi vermikompos menggunakan cacing tanah.

Sesi diskusi berjalan aktif. Eko Puji Waluyo, peternak dari Dusun Krajan mengapresiasi materi tersebut. “Selama ini kotoran hanya ditutup serbuk kayu. Ternyata untuk biogas harus tanpa campuran. Ilmunya sangat bermanfaat,” katanya.
Hal senada disampaikan Jauhari dari Dusun Ampel Dento yang antusias bertanya tentang kebutuhan bahan baku biogas agar sesuai kapasitas kandang.
Kegiatan ditutup dengan rencana monitoring penerapan teknologi oleh tim UNEJ. Diharapkan peternak mampu menerapkan sistem ini secara mandiri sehingga dapat mengurangi pencemaran, menekan biaya pakan, dan meningkatkan pendapatan.

“Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan peternak ini kami harapkan terus berlanjut untuk peternakan berkelanjutan di Desa Bagorejo,” tutup Listya.**
Nur Fateah
——-
![]()
