Menembus Batas Usia: Semangat Membara Warga Belajar Dewasa PKBM Al Zaytun
Hartono, S.Pd. M.Pd. (Sekretaris PKBM Al Zaytun)
Siapa bilang bangku sekolah hanya milik mereka yang masih belia? Apakah semangat mengejar ilmu akan luruh hanya karena rambut mulai memutih dan jari-jemari tak lagi lincah menggenggam pena? Di PKBM Al-Zaytun, pertanyaan itu dijawab dengan lantang melalui sebuah pertemuan penuh khidmat pada Sabtu pagi, 31 Januari 2026.
Salamun’alaikum Merdeka! Kalimat itu bergema di ruang kelas, membelah udara di antara warga belajar Paket B1 dan B2 yang berkumpul sejak pukul 10.45 WIB. Di hadapan para tutor dan wali kelas, para peserta didik yang mayoritas sudah berusia matang ini membuktikan bahwa mengejar pengakuan kesetaraan bukanlah soal gengsi, melainkan soal martabat dan pembuktian diri.
Suasana kelas terasa hangat saat Ustadz Hartono, M.Pd., membuka acara dengan basmallah, membawa aura ketenangan sekaligus keseriusan. Beliau tidak sekadar memberikan wejangan, tetapi meletakkan peta jalan yang krusial bagi masa depan pendidikan para warga belajar. Fokus utamanya adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang kian mendekat. Mengingat masa pendaftaran sedang berlangsung hingga 28 Februari mendatang, Ustadz Hartono mengingatkan bahwa ujian berbasis komputer ini menuntut lebih dari sekadar hafalan teori. Memiliki laptop dan kecakapan mengoperasikannya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan teknis yang harus ditaklukkan sebelum perhelatan utama Paket B dimulai pada 6 hingga 16 April 2026.
Transformasi tidak hanya terjadi pada kesiapan mental siswa, tetapi juga pada manajemen internal institusi. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa mulai pekan depan akan dilakukan rolling tutor antara Paket B1 dan B2. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan; penyegaran suasana belajar diharapkan mampu memperkuat pemahaman warga belajar terhadap struktur organisasi PKBM Al-Zaytun. Ustadz Hartono menekankan bahwa setiap warga belajar harus memiliki tujuan yang presisi dalam setiap langkah pembelajarannya. Senada dengan hal tersebut,
Ustadz Giarto memberikan dorongan teknis yang lebih tajam. Ia mengusulkan agar laptop mulai menjadi “senjata” harian di dalam kelas sebagai simulasi nyata sebelum menghadapi gladi bersih pada Maret nanti. Lebih dari itu, ia menitipkan pesan moral agar seluruh warga belajar meresapi visi dan misi PKBM Al-Zaytun sebagai kompas dalam menuntut ilmu.
Namun, di tengah bayang-bayang ujian yang seringkali dianggap menakutkan, Ustazah Hasnawati Imroni, S.Pd., hadir memberikan secercah optimisme yang menyejukkan. Baginya, TKA bukanlah beban berat yang harus dipikul dengan kecemasan, melainkan panggung emas untuk menunjukkan sejauh mana semangat belajar telah membakar jiwa para peserta yang sudah berumur ini. “Ini adalah kesempatan, bukan ancaman,” tegasnya, mengajak para warga belajar untuk merayakan proses belajar dengan penuh sukacita.
Pertemuan ditutup tepat pukul 12.00 WIB dengan harapan besar agar kesehatan dan stamina tetap terjaga hingga masa ujian susulan di bulan Mei berakhir. Dengan semangat yang tak kenal padam, para pejuang literasi di Al-Zaytun ini siap melintasi April 2026 dengan kepala tegak, membuktikan bahwa di bawah naungan PKBM, ilmu pengetahuan tidak pernah mengenal kata terlambat.**
Indramayu, 31 Januari 2026
——-
![]()
