Kiprah Tutor dan Alumni PKBM Al Zaytun Mendidik Tunas Bangsa
INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Langit Gabel, Gantar, Indramayu, perlahan berubah jingga saat matahari tenggelam. Di antara hembusan angin sore yang syahdu, gema adzan Maghrib mengalun dari Masjid Ar-Rohman, mengundang langkah-langkah kecil menuju cahaya. Malam itu, bukan sekadar ibadah yang kembali hidup, tetapi juga harapan yang kembali dinyalakan.
Jum’at, 27 Maret 2026, menjadi awal baru. Satu pekan setelah Idul Fitri, serambi masjid kembali dipenuhi anak-anak yang duduk rapi, wajah-wajah polos yang siap belajar. Di hadapan mereka, berdiri sosok-sosok sederhana namun penuh makna: Sri Wahyuni, seorang tutor, bersama Karsini, warga belajar sekaligus alumni PKBM Al Zaytun.

Malam itu, pengajian dibuka dengan cara yang hangat dan membumi “ngliwet bersama” . Nasi dan lauk sederhana tersaji di serambi masjid, namun yang terasa bukan sekadar kenyang, melainkan kebersamaan. Tawa anak-anak pecah, semangat mereka perlahan kembali tumbuh setelah sebulan vakum di bulan Ramadan.
Namun siapa sangka, cahaya yang kini menerangi Masjid Ar-Rohman bermula dari kegelisahan sederhana enam tahun silam.
Dari Keprihatinan Menjadi Gerakan
Tahun 2020, saat pertama kali tinggal di Blok Gabel, Sri Wahyuni merasakan ada yang berbeda. Banyak anak-anak bermain di siang hari, tetapi malamnya sunyi, tak terdengar lantunan ayat suci.
“Apakah tidak ada yang mengajar ngaji di sini?” batinnya.
Dari kegelisahan itu, ia memulai langkah kecil. Mengajak anak-anak belajar di rumah, hanya dengan enam orang di malam pertama. Namun semangat anak-anak justru menjadi bahan bakar. “Teman-teman saya banyak, Bu. Besok boleh diajak?” tanya mereka polos.

Dari situlah semuanya berkembang.
Dengan izin dari ustaz setempat, kegiatan dipindahkan ke masjid. Malam pertama menjadi 20 anak. Lalu 30. Hingga akhirnya lebih dari 50 anak hadir, dari usia PAUD hingga SMA.
Tak sendiri, Sri Wahyuni mengajak warga belajar dan alumni PKBM Al Zaytun: Karsini, Yatmini, Sartinah, Nuriyati, dan lainnya. Mereka bukan hanya membantu, tetapi ikut menjadi penggerak.
Belajar yang Hidup, Bukan Sekadar Teori
Perjalanan ini tidak berhenti pada mengajar membaca Al-Qur’an. Mereka menghadirkan pembelajaran yang hidup.
Dengan usaha mencari donatur, terkumpul 70 Al-Qur’an dan 40 buku Iqro yang kemudian dibagikan kepada anak-anak dan jamaah masjid. Kegiatan pun dibuat lebih menarik: dari makan bersama, hingga peringatan hari besar Islam seperti Isra Mi’raj dan Maulid Nabi.
Di momen itu, anak-anak tampil percaya diri:
membaca hafalan surat, berpuisi, hingga bernyanyi bersama.
Lebih dari itu, regenerasi pun mulai dibangun. Anak-anak yang sudah besar dilatih menjadi pengajar bagi adik-adiknya. Sebuah proses yang menanamkan tanggung jawab sekaligus kepemimpinan sejak dini.
Dari “Dipandang Sebelah Mata” Menjadi Penggerak Masyarakat
Perubahan tak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada para ibu: warga belajar dan alumni PKBM Al Zaytun.
Dulu, mereka sempat dipandang sebelah mata.
“Sudah tua, sekolah untuk apa?” begitu komentar yang pernah terdengar.
Namun waktu menjawab semuanya.
Kini, mereka tampil sebagai MC dalam acara masyarakat, memimpin murojaah, bahkan menggerakkan pengajian rutin ibu-ibu di lingkungan Gabel dan civitas Ma’had. Nama-nama seperti Sartinah, Yatmini, Kristina, Hasanah, Umi Kulsum, Suryati, dan Wasiyem menjadi bagian dari perubahan itu.
Kepercayaan diri yang dulu rapuh, kini tumbuh kokoh, berkat proses belajar yang tidak hanya di kelas, tetapi juga di tengah masyarakat.

Mengakar, Menghidupkan, dan Menginspirasi
Moto sederhana yang terus dipegang:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Sebagai perantau, mereka tidak hanya tinggal, tetapi ikut bertanggung jawab membangun lingkungan.
Upaya itu pun mendapat apresiasi. Masyarakat menyediakan fasilitas untuk anak-anak mengaji, bahkan ucapan terima kasih disampaikan dalam berbagai forum, termasuk setelah khutbah Idul Fitri. Apresiasi berupa bingkisan pun diterima, dan dikembalikan dalam bentuk yang lebih bermakna: kegiatan makan bersama anak-anak.
Cahaya yang Terus Menyala
Apa yang dilakukan tutor, warga belajar, dan alumni PKBM Al Zaytun di Blok Gabel bukan sekadar kegiatan pengajian. Ini adalah bukti bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ruang kelas.
Ia hidup. Ia tumbuh. Ia menyentuh.
Dari serambi masjid yang sederhana, lahir generasi yang lebih percaya diri. Dari tangan-tangan yang dulu belajar, kini hadir tangan-tangan yang mengajar.
Dan di setiap lantunan ayat yang menggema di Masjid Ar-Rohman, terselip satu harapan yang terus menyala:
bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang ikhlas.**
Pewarta: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
——-
![]()
