“BAHTERA” KEMAH TUHAN SEDANG DIDIRIKAN

“BAHTERA” KEMAH TUHAN SEDANG DIDIRIKAN.

Oleh : Wari Wicatman
Dewan Redaksi Jayanews.com

Masuklah Di Dalamnya, Agar Engkau Selamat dan Terlindungi.

Dulu Nabi Nuh dipanggil gila.
“Buat apa bikin kapal segede itu? Di daratan? Gak ada laut.”

Tapi Nuh terus memalu paku. Hari demi hari. Tahun demi tahun.
Karena dia tau: peringatan Tuhan bukan ancaman. Itu undangan.

Hari ini, 2026, “tukang kayu” itu masih ada.
Bedanya, bahteranya bukan dari kayu jati.

1. “Bahtera” Itu Bukan Kapal. Itu “Kemah Tuhan”.

Kemah Tuhan di zaman sekarang bentuknya bukan satu.

Kemah pertama: Keluarga.

Rumah yang di dalamnya ada doa, ada maaf, ada makan bareng. Di luar ribut, di dalam teduh. Itu bahtera.

Kemah kedua: Komunitas Iman.

Masjid, gereja, pura, majelis. Tempat kita saling ngingetin “jangan hanyut”. Tempat kita ngumpulin logistik buat yang kebanjiran. Itu bahtera.

Kemah ketiga: Hati yang Tunduk.

Saat semua orang teriak benci, kamu pilih sabar. Saat semua korupsi, kamu pilih jujur. Saat semua panik, kamu pilih zikir. Itu bahtera paling kuat.

Tuhan gak pernah ninggalin kita tanpa tempat berteduh.
Selalu ada “bahtera” yang sedang dibangun.

2. Tanda-Tanda “Air” Sudah Naik.

Nuh dikasih tau: kalau air udah muncrat dari dapur, itu tandanya.

Zaman kita tandanya apa?
Banjir informasi. Banjir utang. Banjir panas. Banjir perpecahan.
Anak durhaka ke orang tua dianggap “tren”. Bohong dianggap “strategi”.
Maksiat, korupsi dan ketidakadilan tumbuh subur.

Ini bukan kiamat. Ini “alarm”.
Alarm buat buru-buru naik ke bahtera sebelum pintu ditutup.

3. Siapa Yang Selamat? Bukan Yang Paling Kuat.

Di bahtera Nuh gak ada seleb, gak ada konglomerat.
Yang ada: keluarga Nuh, orang beriman, dan sepasang hewan.

Pelajaran: Yang selamat bukan yang paling kaya. Tapi yang paling mau masuk.
Gengsi ditinggal. Egosentris ditinggal. “Nanti aja” ditinggal.

Masuk ke bahtera itu artinya:
Mau taubat. Mau belajar. Mau bantu tetangga. Mau jaga bumi. Mau pegang iman pas dunia lagi goyang dan kacau balau.

Pintunya masih kebuka. Tapi gak akan selamanya.

Penutup: Ketukan Palu Terakhir.

Dengar? Itu suara palu.
“Kemah Tuhan” sedang didirikan di sekeliling kita.

Lewat ustadz yang ngingetin.
Lewat bencana yang nyadarin.
Lewat anak kecil yang ngajarin kita ikhlas.
Lewat rasa sesak di dada tiap lihat bumi rusak.

Ini bukan waktunya nanya “emang beneran banjir?”
Ini waktunya nanya “udah masuk belum?”

Masuklah.
Bawa keluargamu. Bawa imanmu. Bawa amal baikmu.
Di dalam sana sempit, tapi selamat.
Di luar sana luas, tapi hanyut.

Karena setelah air surut, Tuhan janji ada daratan baru.
Ada Zaman Emas. Ada pelangi. Ada hidup yang lebih bersih.

Pertanyaannya cuma satu:
Kamu mau ikut di dalam bahtera… atau jadi penonton yang tenggelam?**


Indramayu, 6 September 2026.
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!