Sajadah Hijau di Atas Tanah yang Terluka: Saat Agama Tak Lagi Sibuk Menggali Tambang


Sajadah Hijau di Atas Tanah yang Terluka: Saat Agama Tak Lagi Sibuk Menggali Tambang
(Refleksi Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Internasional)

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Bumi tidak pernah membutuhkan manusia untuk tetap berputar, namun manusia akan kehilangan segalanya tanpa sepetak tanah yang berpijak. Inilah paradoks terbesar abad ini: kita membangun peradaban di atas fondasi yang kita hancurkan sendiri. Di saat Sumatra bersimbah duka karena amuk alam dan belahan dunia lain luluh lantak oleh cuaca ekstrem, kita baru tersadar bahwa alam adalah “tuan” yang diam, dan kita hanyalah “penumpang” yang berisik.
Sayangnya, kesadaran itu seringkali setipis kertas tisu. Ia mudah hancur saat berbenturan dengan syahwat bisnis dan kalkulasi politik. Lebih ironis lagi, belakangan ini kita melihat sebuah anomali: organisasi kemasyarakatan yang seharusnya menjadi penjaga moral dan spiritual, justru mulai ikut mengantre di loket konsesi pertambangan. Di mana suara Tuhan saat alat berat mulai mencabik paru-paru bumi?

Ekoteologi: Melampaui Menara Masjid

Di tengah carut-marut kepentingan itu, Kementerian Agama mulai menggaungkan sebuah diskursus penting: Ekoteologi. Gagasan ini bukan sekadar pemanis retorika. Ekoteologi adalah gugatan agar agama tidak berhenti di dalam dinginnya ubin masjid atau tembok madrasah.
Agama harus turun ke tanah, menyatu dengan akar pohon, dan mengalir bersama air sungai. Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka merusak alam adalah bentuk penistaan yang paling nyata. Inilah titik di mana iman harus bertransformasi menjadi aksi ekologis.

Al-Zaytun dan Filosofi “Big John”

Jauh sebelum isu lingkungan menjadi tren global, Ma’had Al-Zaytun di bawah kepemimpinan Syaykh AS Panji Gumilang telah mempraktikkan pendidikan kontemporer yang melampaui zamannya. Di sini, pendidikan bukan hanya soal menghafal teks, melainkan membangun kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial yang utuh.
Salah satu bukti nyata dari kesadaran tinggi ini adalah bagaimana pembangunan infrastruktur dilakukan tanpa harus “membunuh” kehidupan. Al-Zaytun memiliki cara yang elegan: alih-alih menebang pohon yang menghalangi jalur pembangunan, mereka menggunakan mobil Big John untuk memindahkan pohon-pohon besar tersebut ke lokasi baru.
Pesan yang dikirimkan sangat jelas: Pembangunan tidak harus berarti penghancuran. Di Al-Zaytun, harmoni bukan sekadar slogan, melainkan keseimbangan yang dipraktikkan. Ini adalah sebuah row model tentang bagaimana manusia seharusnya memosisikan diri di hadapan alam sebagai pemelihara, bukan penguasa yang tiran.

Mandat Global dan Masa Depan Kita

Momentum ini semakin relevan jika kita menilik sejarah. Pada tahun 2002, UNESCO menetapkan International Day of Education for Sustainable Development atau Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Internasional. Tujuannya satu: mengubah perilaku manusia agar lebih ramah terhadap rumah besarnya, Bumi.
Pendidikan lingkungan hidup bukan sekadar menanam pohon satu hari dalam setahun lalu melupakannya. Ini adalah soal:
– Kampanye kesadaran yang terus-menerus.
– Transformasi kurikulum yang mengintegrasikan keberlanjutan.
– Aksi nyata komunitas yang menjaga ekosistem tetap bernapas.
Jika dunia ingin selamat, kita harus kembali ke titik nol: menyadari bahwa kita adalah bagian dari alam, bukan pemiliknya. Syaykh AS Panji Gumilang melalui Al-Zaytun telah memberikan cetak birunya. Kini pilihannya ada di tangan kita: tetap sibuk menggali lubang tambang atas nama kesejahteraan sesaat, atau mulai membentangkan “sajadah hijau” untuk keberlangsungan generasi masa depan.
Sebab, pada akhirnya, alam akan tetap ada meski tanpa kita. Namun, tanpa alam, doa-doa kita mungkin tak akan lagi punya tempat untuk dipanjatkan.**

Indonesia, 26 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!