Hari Pejalan Kaki: Mengapa Okeke harus Mengajari Bangsa Ini Cara Melangkah? (Refleksi Hari Jalan Kaki)

Hari Pejalan Kaki: Mengapa Okeke harus Mengajari Bangsa Ini Cara Melangkah?
(Refleksi Hari Jalan Kaki)

Oleh Ali Aminulloh

Kita hidup di negeri tropis yang subur, namun tubuh kita kering oleh gerak. Jalan raya dipenuhi mesin, trotoar menyempit oleh abai, dan kaki sebagai alat transportasi paling purba manusia, ditinggalkan. Paradoksnya, kita bangga menyebut diri bangsa besar, tetapi lupa pada langkah kecil yang menyehatkan peradaban. Jika berjalan kaki adalah hak, mengapa ia terasa seperti kemewahan?

Trilogi Kesadaran: Dari Pikiran ke Bumi, dari Bumi ke Sesama

Di tengah kebisingan klakson dan kelelahan kota, sebuah gagasan mengajak kita berhenti sejenak, lalu melangkah. Trilogi Kesadaran yang di gagas Syaykh Al Zaytun menautkan tiga simpul penting: kesadaran filosofis (apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa kita hidup), kesadaran ekologis (bagaimana kita merawat bumi), dan kesadaran sosial (bagaimana kita memperlakukan sesama). Berjalan kaki, sederhana namun radikal, adalah titik temu ketiganya: ia melatih nalar, menyehatkan alam, dan memuliakan manusia.

Al Zaytun: Ketika Langkah Menjadi Kurikulum Kehidupan

Di Al Zaytun, visi pendidikan tak berhenti di ruang kelas. Ia bergerak aktual. Program OKeKe (Olahraga Kebugaran Kaki) menargetkan minimal 10.000 langkah setiap hari, diteladankan langsung oleh Syaykh dan para eksponen. Di sini, kesehatan bukan slogan; ia disiplin harian.

Setiap Ahad, kampus menjelma ruang publik yang bernapas. Car Free Day mengalirkan jalan jammas: dari Palagan Agung, menyusuri Rahmatan Lil ‘Alamin, lalu kembali ke Palagan Agung. Santri, guru, pembimbing, wali santri, hingga dosen, semua setara dalam irama langkah. Inilah pendidikan toleransi yang berjalan: tubuh sehat, pikiran jernih, relasi manusiawi.

Negeri yang Malas Bergerak, Kota yang Melupakan Pejalan

Di luar tembok kampus, Indonesia kerap dicap sebagai negara yang malas bergerak. Kota-kota tumbuh cepat, tetapi ruang pejalan tertinggal. Trotoar tak ramah, penyeberangan minim, dan keselamatan sering dikorbankan. Kita membangun untuk roda, bukan untuk kaki. Akibatnya bukan sekadar lelah fisik, melainkan rapuh sosial, jarak antar manusia kian jauh.

22 Januari: Mengingat Hak yang Terinjak

Hari Pejalan Kaki Nasional, diperingati setiap 22 Januari, lahir dari duka. Tragedi Tugu Tani (2012) yang merenggut 12 nyawa pejalan kaki memaksa kita berkaca: siapa yang dilindungi jalan raya? Peringatan ini bukan seremoni, melainkan seruan melindungi hak pejalan, menyediakan fasilitas aman, dan menekan kecelakaan.

Cara merayakannya sejatinya jelas dan mendesak:
– Meningkatkan kesadaran keselamatan pejalan kaki
– Menciptakan fasilitas pedestrian yang aman dan nyaman
– Mengurangi kecelakaan di jalan raya
– Menghargai pejalan kaki sebagai pengguna jalan yang setara

Melangkah sebagai Etika Peradaban

Berjalan kaki adalah etika paling sunyi namun berdampak. Ia menurunkan emisi (ekologis), mengasah disiplin diri (filosofis), dan membuka ruang sapa (sosial). Apa yang dipraktikkan di Al Zaytun menunjukkan: ketika langkah dipulihkan, manusia dimanusiakan.

Epilog: Berani Melangkah, Negara Melindungi.

Mungkin kita tak perlu revolusi besar. Cukup mengembalikan hak paling dasar: melangkah. Dari trotoar yang aman hingga kampus yang meneladankan, dari Ahad yang bebas mesin hingga Senin yang lebih sehat. Sebab peradaban yang beradab selalu dimulai dari satu hal kecil: kaki yang berani melangkah, dan negara yang mau melindunginya.**


Indonesia, 22 Januari 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!