Negarakertagama Dapat Menjadi Rujukan Bangsa dan Negara Indonesia


Negarakertagama Dapat Menjadi Rujukan Bangsa dan Negara Indonesia

Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Kitab Negarakertagama atau yang disebut Kakawin Negarakertagama terjemahan keroyokan Damaika Saktiani, Kartika Widya, Zakariya Pamuji dan kawan-kawan lainnya yang diterbitkan oleh Narasi, Yogyakarta, tahun 2015 menurut Zoetmulder ditemukan di Lombok pada tahun 1894 — setelah hampir 200 tahun ontang-anting tak jelas pemanfaatannya disebut Kakawin Desa Warnana seperti yang termuat dalam bait Ngk. pupuh 94 : 4.

Kitab Negarakertagama merupakan sumber nilai-nilai Pancasila yang menginspirasi Bung Karno menyusun dasar negara Republik Indonesia, seperti penuturan Bung Karno sendiri dalam autobiografinya “Penyambung Lidah Rakyat” pada halaman 240.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang ku kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah”. Dan naskah Negarakertagama ini pun telah diakui dunia internasional hingga resmi masuk dalam daftar Memory of the Eorld Unesco.

Dalam versi Unesco: Negarakertagama ini memberikan kesaksian tentang pemerintahan seorang raja pada abad ke-14 di Indonesia sekarang — dulu negara suku bangsa nusantara yang bernama Majapahit — dengan ide-ide modern yang berkeadilan sosial, kebebasan beragama, keamanan pribadi yang aman dan kesejahteraan rakyat yang dijunjung tinggi.

Agaknya, karena kondisi dan situasi yang tito tentrem inilah banyak orang mengidolakan Indonesia agar berjaya seperti negeri Majapahit. Sehingga kekacauan dan ketidakpastian tidak perlu terjadi serta menjadi ancaman perpecahan seperti yang juga dialami oleh negeri Majapahit pada penghujung masa kejayaannya itu.

Lantaran menurut Stuat Robson yang menulis dalam buku Desawarnana jelas mengatakan bahwa Desawarnana bukanlah penceritaan ulang dari sebuah epos atau kisah mistis, tapi suatu realitas sehari-hari yang dilihat oleh Empu Prapanca di sekelilingnya dan yang dialami oleh Empu Prapanca sendiri ketika itu.

P. J Zoetmulder sendiri mengatakan kakawin ini memberikan keterangan langsung, seperti tidak terdapat dalam kakawin-kakawin yang lainnya mengenai masyarakat Jawa Kuno ketika itu dari sudut tertentu, juga mengenai sosok seorang penyair Jawa Kuno dengan seluk-beluk pribadinya sendiri.

Diantara isinya yang menarik dari Kitab Negarakertagama ini seperti termuat dalam Pupuh 89 tentang “Menjaga Kesejahteraan Desa dan Kota”. Artinya, sejak jaman kerajaan Majapahit pun sudah harus dipahami akan sangat rentan terjadi kesenjangan kesejahteraan antara desa dan kota pun gampang terjadi. Setidaknya akibat dari sarana dan sistem distribusi yang tidak baik.

Dalam bait ke-2 Pupuh 89 Kitab Negarakertagama jelas menyebutkan kondisi dan situasi yang cukup relevan terjadi dan sedang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia hari ini bahwa negara dan wilayahnya tidak berbeda dengan singa dan hutan. Jika desa rusak, akan ikut kekurangan penghidupan (penghasilan) bagi negara atau kerajaan. Dan kalau tidak ada tentara, akan tampak ancaman bahaya. Pulau-pulau atau negara lain akan masuk menginvasi. Oleh sebab itu, seluruh rakyat harus menjaga bersama tentara, agar kehidupan dapat terlindungi dan stabil. Demikian inti pemerintahan, tutur Empu Prapanca yang dapat ditransfer secara bebas sesuai dengan bahasa dan penuturan jamannya.

Gambaran sekilas dari paparan Pupuh 89 ini seakan sedang mengingatkan pada bencana di Sunatra itu akurat ulah dari ketamakan manusia untuk memperkaya diri dalam bentuk material, bukan dalam arti spiritual, sederhana, rendah hati dan jujur serta penuh keikhlasan untuk menghargai hak dan kepentingan orang lain.

Sebab hanya dengan begitu intisari dari isi Kitab Negarakertagama akan tetap menjadi pengingat yang penting bagi hidup dan kehidupan bagi bangsa dan negara Indonesia hari ini yang telah begitu jauh berharap saat Kitab Negarakertagama ini ditulis — pada abad ke-14 hingga nyaris satu siklus perubahan setiap 7 abad yang kini memasuki babak ke empat sejak peradaban manusia mengikuti tarih Masehi. Artinya, dalam nalar dan kecerdasan spiritual, Kitab Negarakertagama ini pun mengisyaratkan bahwa peradaban manusia akan selalu mengalami perubahan besar setiap 7 abad dalam siklus yang terus berlangsung hingga sekarang ini. Hanya saja perubahan seperti apa yang akan terwujud dan terus bergerak seperti yang pasti terjadi pada hari ini dan esok.**

Serpong, 15 Januari 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!