REFLEKSI AKHIR TAHUN 2025 : MENATAP PEMIMPIN MASA DEPAN BELAJAR DARI FILOSOPI MANGGA INDRAMAYU
Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik dan sosial keagamaan
Pemimpin Indramayu penting dilahirkan dari kesadaran kolektif filosofi mangga Indramayu, tidak tertipu kilau mangga yang ditaruh di lemari kaca pasar swalayan. Mangga dari hasil semprotan pupuk kimia, cepat matang, kemasan indah tapi rasa “kecut burut”.
Indramayu tak diragukan adalah Kabupaten di pesisir pantai utara (Pantura) Jawa dengan anugerah Tuhan buah mangga tak ada duanya. Daerah lain boleh menirunya tapi “rasa” mangga Indramayu tak pernah berbohong, bertumbuh alami.
Buah mangga Indramayu, buah mangga alami. Ia tumbuh berkembang di atas tanah yang akrab dengan “laku” warganya. Pohon yang akarnya menancap ke perut bumi, menerima hujan dan panas tanpa dipaksa
Daunnya bergerak mengikuti ritme angin, melahirkan buah yang bukan hanya tampak “ranum” saat dipandang, tapi manis di bibir dan “berasa” di kedalaman batin. Subhanallah wa tabarakallah !
Itulah “ayat ayat kauniyah”, tanda tanda semesta bahwa filosofi mangga Indramayu penting kita letakkan dalam kesadaran sebuah refleksi akhir tahun 2025 tentang pentingnya memilih pemimpin bertumbuh alami, berkeringat asin bersama pesisir pantainya dan “berbau lumpur” bersama ekosistem sosial petaninya.
Trend survey sepanjang tahun 2025 telah menuntun kita pada fase penting dalam sejarah kepemimpinan politik kita. Fase ketika pencitraan mulai dirobek oleh realitas. Ketika politik kemasan perlahan mulai busuk. Ketika janji manis mulai dikoreksi oleh rasa pahit yang menindih warga.
Dalam doktrin agama mana pun kepemimpinan adalah soal prinsip. Pemimpin adalah “imam”, rujukan “tuntunan” keteladanan dengan kekuatan wibawa untuk “mengatur”. Pemimpin bukan sirkus “tontonan” untuk “menghibur” di panggung politik yang diproduksi pabrik olahan pencitraan
Pencitraan, mengutip definisi Emha Ainun Nadjib, seorang budayawan, adalah aplikasi dari mentalitas kemunafikan. Kemunafikan adalah manipulasi dan manipulasi adalah kriminalitas batin. Mentalitas kemunafikan selalu memaksa rakyat untuk mencintai kepalsuan.
Pemimpin hasil semprotan pencitraan dalam teori George Well adalah produks kecanggihan dan keterampilan berbohong dalam setiap tampilannya tapi berbahaya karena rakyat “diasuh” oleh mentalitas pemimpin dengan “kelebihan” selalu “berbohong”.
Pertanyaan reflektifnya mampukah kita melahirkan pemimpin dalam filosofi mangga Indramayu alami yang membasis bumi atau pasrah jatuh berkali kali ditipu pemimpin hasil olahan pabrik pencitraan ?
Ini bukan tentang hikayat seekor keledai yang jatuh berkali kali di lubang yang sama tapi tentang pilihan untuk deteksi dini mencegah hadirnya pemimpin produks tipu tipu pencitraan yang merusak ruang kolektif publik (Q.S. Al Imron, 104).
Menghadirkan pemimpin yang tumbuh alami memang berat dan lama karena pemimpin yang hendak kita hadirkan bukan sekedar untuk bekerja administrasif dan membangun infrastruktur bangunan “fisik” tapi juga mengerti detak nurani rakyat yang bicara lirih di kesunyian media sosial.
Hanya pemimpin dengan proses bertumbuh dari bawah itulah akan sanggup membersamai masa depan Indramayu yang memuliakan harga diri dan martabat warganya, tangguh daya tahan dan daya tumpu kemandiriannya dengan kesadaran hak hak sipilnya.
Pemimpin seperti inilah yang disebut “Leiden is ledjen” oleh H. Agus Salim, diplomat legendaris, yakni pemimpin “di jalan menderita”, pemimpin yang melayani, lahir dalam keringat ekosistem politik Indramayu, selalu terlibat “direpotkan” masyarakat jauh sebelum menjadi bupati.
Inilah saatnya tanggung jawab para tokoh politik, ormas,, dunia usaha, para intelektual dan aktivis kampus dalam waktu yang cukup hingga tahun 2029 bersama sama membangun kesadaran kolektif hingga ke akar rumput tentang pentingnya kehadiran pemimpin dalam filosofi mangga Indramayu yang membasis bumi.
Di titik ini pula pertaruhan martabat politik kita untuk mewariskan nilai dan legacy kepemimpinan kepada generasi masa depan Indramayu. Selamat tahun baru 2026.**
Indramayu, 23 Desember 2025
Wassalam
———
![]()
