4 KESALAHAN PADA TERJEMAHAN PRASASTI KEDUKAN BUKIT MENGABURKAN SEJARAH SRIWIJAYA


4 KESALAHAN PADA TERJEMAHAN PRASASTI KEDUKAN BUKIT MENGABURKAN SEJARAH SRIWIJAYA

Penulis : Hamly Hadi
( Pemerhati Sejarah )

Seperti sengaja terjemahan prasasti Kedukan Bukit dibuat salah untuk menutupi bahwa Sriwijaya didirikan oleh orang dari luar sumatera.

1.Samvau diterjemahkan menjadi Sampan untuk menolak fakta Dapunta Hiyang berasal dari Kalimantan Selatan karena tidak mungkin menyeberangi lautan menggunakan sampan atau jukung

Dalam prasasti kedukan Bukit ada pola yg bisa kita lihat yaitu huruf V itu menjadi huruf B pada ejaan modern, contoh
Vulan = Bulan
Vala = Bala
Sarivu = Saribu
Vanakna = Banyaknya
Marvuat = Membuat
Vanua = Banua
Samvau = Sambau
Tamvan = Tamban
Jadi SAMVAU terjemahan yg betul adalah SAMBAU (sebuah kapal layar) , para ilmuwan menterjemahkan Samvau menjadi Sampan adalah cocoklogi tidak berdasar karena tidak mengikuti pola yg ada , huruf V dirubah menjadi huruf P dan huruf U dirubah menjadi huruf N itu tidak sesuai disiplin ilmu dan pola yang ada .

2.Minanga Tamvan diterjemahkan menjadi Minanga Tamwan , sehingga asal usul Dapunta Hiyang Srijayanasa tidak jelas , karena tidak ada daerah yang bernama tamwan.

Masih menggunakan pola yang sama yaitu huruf V menjadi huruf B, maka seharusnya minanga Tamvan terjemahan yang betul adalah Minanga Tamban yg artinya Muara Tamban, minanga adalah kosakata bahasa kuno yang artinya muara, karena kalau diterjemahkan menjadi Minanga Tamwan itu tidak ada daerah yang bernama Tamwan.

3.Vanakna diterjemahkan menjadi berjalan kaki, kata berjalan kaki sengaja ditambahkan agar orang berfikir tidak mungkin orang berjalan kaki menyebrang lautan untuk mematahkan fakta bahwa Dapunta Hiyang Srijayanasa berasal dari Kalimantan Selatan

Ini terjemahan yang paling mengada – ada , karena Vanakna itu artinya Banyaknya bukan berjalan kaki, entah dari mana bisa dapat kata berjalan kaki,suatu pemaksaan yg tidak ada dasar ilmunya.

4.Bulan Asadha tidak diterjemahkan atau dihilangkan agar lama perjalanan rombongan Dapunta Hiyang tidak terbaca .

Menurut penanggalan Hindu , Bulan asadha adalah bulan ke 4 ,tapi mereka malah menghilangkan kata bulan asadha .

Kesalahanan dalam menterjemahkan isi prasasti Kedukan Bukit ini menyebabkan penyimpangan sejarah yang besar ,nama daerah asal Dapunta Hiyang menjadi tidak jelas karena tidak ada daerah yang namanya Tamwan, makanya saya terpanggil untuk meluruskan nya , memberikan terjemahan yg lebih akurat daripada para ilmuwan itu , hasil terjemahan saya sesuai dengan pola dan disiplin ilmu yg ada , terjemahan yang betul adalah :

Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 605, pada hari ke sebelas paro-terang bulan Waiśakha.

Dapunta Hiyang naik di Sambau mengambil siddhayātra pada hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Muara Tamban membawa bala 20.000 dengan perbekalan dua ratus peti di sambau yang berlayar seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang ke sungai Upang
sukacita pada hari ke lima paro-terang bulan asadha
lega gembira datang membuat Banua
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna…

Terjemahan yang disempurnakan

Selamat ! tahun saka sudah memasuki tahun 605 pada tanggal 11 bulan waishaka.

Dapunta Hiyang naik kapal Sambau melakukan perjalanan suci pada tanggal 7 bulan Jyesta (bulan ke 3 dalam kalender Hindu) Dapunta Hiyang berangkat dari Muara Tamban (Kalimantan Selatan) membawa 20.000 pengikutnya dengan perbekalan 200 peti di dalam kapal Sambau yang berlayar sebanyak 1312 buah kapal menuju sungai uphang (Banyuasin, sumatera selatan)

Mereka tiba pada tanggal 5 bulan asadha (bulan ke 4 dalam kalender Hindu)
Lega gembira datang membuat Banua Sriwijaya jaya , perjalanan suci berhasil .**

Banjarmasin Kalsel, 18 Desember 2025
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!