Harta Karun Bernilai Tinggi: Komitmen Syaykh Al-Zaytun Melindungi Top Soil dalam Pembangunan Politeknik
Oleh Ali Aminuloh
Komitmen Syaykh Al-Zaytun terhadap lingkungan tidak pernah sekadar retorika. Mencintai bumi terimplementasi dalam langkah nyata, terutama dalam setiap proses pembangunan di Ma’had Al Zaytun. Prinsipnya sederhana dan mendalam: pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan, melainkan harus menata lingkungan.
Prinsip ini terlihat jelas pada proyek monumental pembangunan kampus Politeknik Tanah AIR (Al Zaytun Indonesia Raya). Syaykh selalu memperhatikan kondisi tanah tempat bangunan didirikan, terutama lapisan teratasnya yang secara geologis dikenal sebagai Top Soil.
Mengapa top soil begitu penting?
Lapisan tanah setebal 10 hingga 30 cm ini adalah lapisan paling subur, kaya humus, gembur, dan porus. Ini adalah tempat tumbuhnya akar tanaman dan tempat beraktivitasnya mikroorganisme, menjadikannya kunci kesuburan. Yang paling utama, pembentukan top soil adalah proses alami yang memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun; ia tidak bisa dibentuk secara instan. Inilah yang menjadikan top soil sebagai “harta yang bernilai tinggi.”

Konservasi Top Soil di Lapangan
Pada pengawasan pembangunan Politeknik hari ketiga, Rabu, 3 Desember 2025, tim piket yang terdiri dari M. Soleh Aceng, SH. MH (Ketua Tim), Maratu Solihah, S.Pd., dan Khoirul Amri Pratama, S.Pd., mengawasi dengan saksama proses penggalian dan pemindahan harta karun ini.
Menurut penjelasan dari Jibril, Koordinator Lapangan pelaksana pembangunan, perhatian Syaykh terhadap top soil sangat luar biasa.
Proses konservasinya dilakukan secara terstruktur:
1. Pemindahan pohon menggunakan Bigjhon.
2. Pengambilan tanah yang akan dijadikan tapak bangunan: pertama-tama diambil top soil-nya sedalam 50 cm menggunakan bulldozer.
3. Pemindahan tanah: Tanah top soil yang terkumpul kemudian diangkat oleh Beko dan diangkut menggunakan dump truck, lalu dihantar ke lahan pertanian dan perkebunan Al-Zaytun.
4. Pemisahan Sub Soil: Setelah top soil diselamatkan, barulah digali lapisan di bawahnya, yakni Sub Soil, sedalam 50 cm. Lapisan yang lebih padat, kurang subur, namun mengandung mineral ini dipinggirkan. Sub soil ini tidak dibuang, melainkan akan digunakan kembali untuk urukan bangunan setelah proses penancapan paku bumi selesai.
Dengan langkah ini, Al-Zaytun memastikan bahwa lahan di mana bangunan berdiri dapat menopang struktur konstruksi, sementara lahan pertanian di sekitar tetap terjaga kesuburannya berkat suplai top soil yang kaya nutrisi.

Trilogi Kesadaran: Pembangunan yang Menata Lingkungan
Model pembangunan ramah lingkungan ini berangkat dari trilogi kesadaran yang senantiasa digaungkan Syaykh: Kesadaran Filosofis, Kesadaran Ekologis, dan Kesadaran Sosial.
Praktik penyelamatan dan pemindahan top soil secara cermat merupakan implementasi nyata dari Kesadaran Ekologis. Tindakan ini menjadi pembelajaran penting bahwa pembangunan dan kecintaan lingkungan bisa berjalan seiring sejalan. Pembangunan di Al-Zaytun tidak mengorbankan lingkungan, melainkan justru menata lingkungan agar top soil yang terbentuk puluhan tahun tidak hilang sia-sia, dan dapat terus menopang kehidupan di lahan lain.
Kisah top soil di Al-Zaytun bukan sekadar teknis pembangunan, tetapi sebuah pesan filosofis tentang penghormatan terhadap alam. Bahwa untuk membangun masa depan (Politeknik), kita harus menghargai masa lalu (proses pembentukan tanah) dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.**
Al Zaytun Indonesia, 3 Desember 2025
—–
![]()
