Gema Serambi Mekah Di Al Zaytun: Menggugat Sejarah Dan Merumuskan Revolusi Pendidikan LSTEAMS Untuk Indonesia Emas
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME
Di tengah derap langkah menuju satu abad kemerdekaan, Ma’had Al Zaytun konsisten mengkaji fondasi pendidikan modern abad 21. Dalam sesi Pelatihan Pelaku Didik ke-22, Ahad (02/11/2025), panggung intelektual itu menjadi saksi pertemuan visi antara Serambi Mekah dan gagasan besar Al Zaytun.
Dengan tema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama”, forum ini menghadirkan tiga pemikir: Gubernu Aceh periode 2000-2004, Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si., Guru Besar MIPA Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., dan Syaykh Al Zaytun, AS. Panji Gumilang, S.Sos., MP.
Diskusi mereka tidak hanya mengupas kurikulum, tetapi membedah anatomi sejarah, menggugat stigma, dan melahirkan sebuah proposal revolusioner untuk masa depan pendidikan Indonesia.
Sebuah Panggilan Dari Tanah Rencong
Sesi dibuka dengan sambutan penuh kehangatan dari Prof. Abdullah Puteh. Ia mengenang kedekatannya dengan Jawa Barat, termasuk enam bulan tinggal di Indramayu dan menjadi Ketua HMI Bandung. Namun, di balik nostalgia itu, tersimpan kekaguman mendalam pada Al-Zaytun yang dinilainya selalu menghadirkan hal baru dan nuansa baru. Kekaguman itu memuncak pada sebuah harapan besar, sebuah panggilan tulus dari Serambi Mekah.
“Kapan Syaykh akan membawa Al-Zaytun ke Provinsi Aceh?” tanyanya lugas.
Ia menegaskan kesiapan Aceh untuk menyediakan lahan, baik 5 hektare maupun lebih luas lagi, karena menurutnya, model pendidikan Al-Zaytun sangat dibutuhkan oleh masyarakat Aceh.
Membedah Fakta, Menggugat Stigma
Panggilan itu disambut oleh Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Ia memulai paparannya dengan sebuah kesaksian jujur.
“Selama ini saya mendengar bahwa ada Azaitun, sebuah pesantren yang dipertanyakan. Hari ini, saya menikmati. Dan insya Allah, saya siap mempertahankan apa yang saya lihat sebagai sebuah fakta,” tegasnya.
Prof. Mustanir kemudian membedah stigma yang telanjur melekat pada Aceh—Tsunami, Ganja, dan Syariat (cambuk). Ia melawan stigma itu dengan fakta sejarah peradaban. Jauh sebelum isu kesetaraan gender ramai dibahas, Aceh telah memiliki pahlawan perang perempuan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Laksamana Malahayati. Ia melihat cerminan kesetaraan ini dalam sistem pendidikan Al Zaytun. Ia juga mengungkap fakta kemajuan teknologi Aceh di masa lalu, seperti adanya rel kereta api di pulau terluar Sinabang pada 1913, dan fakta bahwa Aceh telah mengekspor “daun nilam, bukan ganja” sejak 1800-an.
Tiga Pilar Rahasia Pendidikan Asrama
Mengutip slogan Tengku Syiah Kuala, “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah” , Prof. Mustanir mengkritik pendidikan modern yang gagal karena sebatas transfer of knowledge (transfer ilmu) dan melupakan “pewarisan nilai”. Kegagalan ini, menurutnya, adalah “penyakit” yang membuat “2 tambah 2 bisa menjadi 22”. Ia juga menggugat ikon “santri sarungan” yang dianggapnya keliru. “Al-Zaytun telah membuktikan bahwa santri tidak begitu. Beliau membuktikan, tampilan santri Al-Zaytun berjas dan berdasi serta yang paling penting adalah karakternya yang luar biasa!” serunya.
Solusi membangun karakter baik, menurut Prof. Mustanir, ada pada tiga pilar pendidikan asrama:
1. Qudwah Hasanah (Suri Teladan): Guru bukan sekadar fasilitator, melainkan prototype dan role model.
2. Habituasi (Pembiasaan): Di Al-Zaytun telah diterapkan disiplin ketat seperti bangun pukul 03.30, salat berjamaah, belajar, dan olahraga. Ini adalah antitesis dari penyakit “Mager” (Malas Gerak) yang menjangkiti generasi muda.
3. Taujih (Bimbingan/Nasihat): Langkah penyempurna setelah teladan dan pembiasaan tertanam.
Tiga pilar inilah yang menurutnya menjadi modal dasar bagi santri untuk menghadapi tantangan dunia VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous). Volatility (Perubahan cepat): Teknologi, tren, dan lanskap ekonomi berganti dengan cepat. Uncertain (Ketidakpastian): Sulit untuk memprediksi masa depan. Complexity (Kerumitan): Masalah yang dihadapi tidak bisa diselesaikan dengan solusi sederhana. Ambiguous (Ketidakjelasan): Informasi banyak, tapi tidak semuanya jelas. Dengan karakter ini siswa mampu adaptif (agile) dalam menghadapi persaingan masa depan

Sejarah Sebagai Pisau Analisa
Syaykh Al Zaytun, AS. Panji Gumilang, kemudian merangkum seluruh diskusi dalam ulasan sejarah yang tajam. Ia menegaskan bahwa forum ini adalah bagian dari ikhtiar mengumpulkan 45 profesor untuk meluruskan pendidikan Indonesia yang dirasanya “belum masuk kepada track yang dicita-citakan” oleh UUD 1945.
Baginya, untuk memahami masalah, sejarah harus dijadikan “pisau analisa”.
Ia mengulas peran Aceh sebagai “penutup dari sebuah buku Indonesia Raya”, sebuah babak akhir yang menjelaskan keseluruhan isi buku. Ia menyoroti bagaimana persatuan Nusantara (Aceh dan Demak) di era Ratu Kalinyamat dikalahkan oleh Portugis bukan karena kekuatan, melainkan karena pengkhianatan Johor yang “menggembosi dari dalam”.
Syaykh Panji Gumilang juga menelusuri masuknya ajaran kapitalisme melalui VOC. Ia mengingatkan bahwa VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) hancur bukan oleh perang, melainkan oleh korupsi, yang ia istilahkan sebagai Vergaan Onder Corruptie (Hancur Karena Korupsi).
“Dari potret ini, mirip-mirip samar-samar di zaman sekarang,” sindirnya.
Meluruskan “Salah Kaprah” Al-Islam dan Pancasila
Lebih dalam, Syaykh membedah apa yang ia sebut “salah kaprah pertama” dalam sejarah. Yakni, ketika ajaran “Al-Islam” (yang universal) masuk ke Jawa yang sudah mengenal konsep Hindu-Buddha, ia diterjemahkan menjadi “Agama Islam” (yang spesifik). Perbedaan tipis inilah yang dieksploitasi penjajah.
Beliau menjelaskan, Snouck Hurgronje berhasil menaklukkan Aceh bukan dengan senjata, melainkan dengan “merogoh agamawan-agamawan”—mereka yang menganut “Agama Islam”—bukan mereka yang memegang teguh “Al-Islam” (Muslim).
Di sinilah letak argumen kuncinya: Pancasila, khususnya Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, adalah inti dari “Al-Islam” yang universal itu. “Bukan syariat,” tegasnya. “Syariat itu keluar setelah Al-Islam ada… Al-Islam itu qul hua al-llahu ahad… Enough. That is Islam.” Oleh karena itu, beliau menyimpulkan bahwa Aceh yang berstatus “Nanggroe Aceh Darussalam” (Negeri Perdamaian) tidak akan pernah bertentangan dengan Pancasila, karena “Pancasila itu Darussalam”.
Beliau juga menepis isu separatisme dengan fakta sejarah.
“Mengapa tidak bakal Aceh itu keluar dari Republik Indonesia? Mengapa patok pejuangnya ditanam di Pulau Jawa?” tanyanya, merujuk pada makam pahlawan Aceh Cut Nyak Dhien di Sumedang, dekat Al Zaytun. “Jawa tidak akan bisa melepaskan Aceh, sekalipun Aceh ingin melepaskan. Tonggaknya ada di sini.”

Revolusi LSTEAMS:
Dimulai dari Huruf ‘A’
Setelah membedah sejarah, Syaykh Panji Gumilang menawarkan solusi konkret untuk pendidikan. Beliau mengkritik pendidikan saat ini yang “belum merata” dan “belum kontemporer”. Pendidikan daring, menurutnya, bagus, namun pendidikan sejati “perlu diusap… perlu senyum… perlu jeweran cinta”.
Kurikulum saat ini, lanjutnya, belum mampu menumbuhkan “kesadaran filosofis” (bertanya Mengapa? Bagaimana? Untuk apa?), “kesadaran ekologis”, dan “kesadaran sosial”.
Sebagai solusi, Syaykh mengusulkan kurikulum revolusioner: LSTEAMS. “Kalau sekarang kan STEM saja. Itu sudah ketinggalan zaman,” katanya. Ia mengusulkan penambahan “L” (Law/Hukum) di awal, “A” (Art/Seni), dan “S” (Spiritual) di akhir. “Maka Pancasila ada di LSTEAMS,” simpulnya.
Menjawab panggilan Prof. Puteh, Syaykh menutup dengan visi besar. Aceh, sebagai satu-satunya provinsi yang diawali huruf ‘A’, harus menjadi tonggak dan percontohan revolusi pendidikan ini. “Maka LSTEAMS nanti dimulai dari Aceh. Memberikan satu contoh pendidikan nasional, pusatkan di 3.000 hektare… berikan beasiswa, maka pendidikan akan melejit. Semua akan meniru”. **
Indramayu, 3 November 2025
—–
![]()
