PKBM Al-Zaytun Gaungkan Pembelajaran Mendalam: Menuju Kesetaraan dan Mutu Pendidikan


PKBM Al-Zaytun Gaungkan Pembelajaran Mendalam: Menuju Kesetaraan dan Mutu Pendidikan

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME

Diseminasi Hasil Pelatihan Sebagai Upaya Membangun Kesetaraan

PKBM Al-Zaytun kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan menyelenggarakan Sosialisasi Pembelajaran Mendalam pada 4 September 2025 di Kantor PKBM Al-Zaytun. Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 17.15 WIB ini diikuti oleh 35 tutor dengan menghadirkan tiga narasumber utama: Sahrul Abadi, S.Pd.I., Abdul Karim, S.Mn., M.Pd., dan Giarto, S.Pd.
Langkah ini bukanlah tanpa persiapan. Sebelumnya, PKBM Al-Zaytun telah mengutus Giarto, S.Pd. untuk mengikuti Training Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 23–28 Juli 2025. Pelatihan tersebut mempertemukan para kepala sekolah SD, SMP, SKB, dan kepala PKBM penerima BOS Kinerja. Tidak berhenti di situ, PKBM juga mengutus dua tutor lainnya, Abdul Karim dan Sahrul Abadi Haryanta, untuk memperdalam keilmuan melalui pelatihan serupa yang berlangsung di Indramayu pada 30 Juli–5 Agustus 2025.
Kesadaran akan pentingnya sawasiyah (kesetaraan) dalam pemahaman antar-tutor membuat PKBM Al-Zaytun mengambil langkah strategis berupa diseminasi hasil pelatihan tersebut. Menurut Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME, tujuan utama kegiatan ini adalah menyamakan persepsi dan langkah para tutor dalam melaksanakan pembelajaran di lingkungan PKBM, sehingga tercipta harmoni dan kualitas belajar yang seragam.

Menggali Dimensi, Prinsip, dan Kerangka Pembelajaran Mendalam

Sesi pertama diisi oleh Sahrul Abadi Haryanta, S.Pd yang menekankan pentingnya delapan dimensi profil kelulusan: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Menurutnya, pembelajaran mendalam bukan sekadar mengajar, tetapi lebih kepada mendorong siswa agar aktif, kritis, dan menemukan kegembiraan dalam proses belajar. Ia mengingatkan bahwa pendekatan ini berbeda dengan pola pengajaran anak-anak, karena warga belajar dewasa memerlukan suasana interaktif yang relevan dengan kehidupannya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Abdul Karim, S.Mn., M.Pd yang menguraikan prinsip, pengalaman, dan kerangka pembelajaran mendalam. Menurutnya, prinsip utama yang harus melekat adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Proses belajar yang ideal harus mampu membuat peserta didik memahami, mengaplikasikan, hingga merefleksikan materi yang dipelajari. “Belajar bukan sekadar menghafal, tapi membangun kesadaran dan makna yang relevan dengan kebutuhan warga belajar,” tegasnya. Kerangka pembelajaran ini, lanjutnya, harus berpijak pada tujuan pembelajaran yang jelas dan kontekstual dengan kehidupan nyata.
Sementara itu, Giarto, S.Pd menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam pembelajaran mendalam. Ia membandingkan dengan pola pikir tetap (fixed mindset) yang cenderung pasif dan menerima keadaan apa adanya. “Tutor perlu menanamkan optimisme dan dorongan untuk terus berkembang, agar warga belajar mampu menghadapi tantangan dalam kondisi apapun,” jelasnya. Selain itu, ia memaparkan indikator pembelajaran mendalam seperti keterlibatan aktif, berpikir kritis, penerapan konteks nyata, kemandirian, penggunaan teknologi, hingga mekanisme umpan balik yang sehat. Semua itu dibingkai dalam karakteristik pembelajaran yang berpusat pada warga belajar, bermakna, kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada proses.

Antusiasme Peserta: Dari Wawasan ke Aksi Nyata

Suasana sosialisasi semakin hidup ketika para tutor menyampaikan kesan mereka. Khoerun, S.H., salah satu peserta, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini. Baginya, pemaparan materi memberikan referensi baru untuk mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Hal serupa disampaikan oleh Sri Wahyuni, S.Pd., yang merasa mendapatkan wawasan segar tentang bagaimana pembelajaran mendalam bisa diimplementasikan secara nyata.
Antusiasme ini mencerminkan keberhasilan PKBM Al-Zaytun dalam membangun iklim akademik yang kolaboratif. Para tutor tidak hanya datang sebagai peserta, tetapi juga membawa semangat untuk menerapkan konsep-konsep pembelajaran mendalam dalam keseharian mereka. Dengan begitu, warga belajar di PKBM Al-Zaytun akan menikmati pengalaman belajar yang lebih bermakna, relevan, dan berorientasi pada pengembangan karakter.

Epilog: Menyemai Benih Perubahan

Kegiatan sosialisasi ini lebih dari sekadar transfer pengetahuan. Ia merupakan sebuah gerakan perubahan yang berawal dari komitmen PKBM Al-Zaytun untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu dan berkesetaraan. Dengan memahami pembelajaran mendalam, para tutor diharapkan dapat menjadi agen transformasi yang menumbuhkan pola pikir kritis, kreatif, dan kolaboratif bagi warga belajar.
Dari ruang kelas PKBM inilah, benih-benih perubahan itu disemai. Pendidikan bukan lagi sekadar memenuhi kurikulum, tetapi sebuah jalan untuk membentuk manusia yang sadar, bermakna, dan siap menghadapi tantangan zaman. Semoga semangat ini terus tumbuh dan menginspirasi, bahwa setiap upaya kecil dalam dunia pendidikan adalah investasi besar bagi masa depan bangsa.*

Indramayu, 5 September 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!