Refleksi Atas Makanan: Dari Akar Kata Hingga Makna Kehidupan
Oleh Dr. Ali Aminullah, M.Pd.I. ME (Dosen IAI Alazis)
Hari Jumat merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh jamaah Masjid Rahmatan lil Alamin saat mana Syaykh Al Zaytun menyampaikan dzikir Jumat. Pada dzikir Jumat (15/08/2025) Syaykh melontarkan pemikiran cerdas yang memantik jamaah untuk berfikir. Beliau membongkar terminologi makna gizi makanan dari perspektif filosofis teologis.
Bahwa di balik setiap suap, ada cerita tentang bumi, syukur, dan tanggung jawab.
Memaknai Ulang Gizi
Belakangan ini, istilah “Gizi” menjadi perbincangan hangat, terutama dengan adanya program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) . Namun, tahukah kita bahwa kata ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar nutrisi? Secara linguistik, kata “gizi” memiliki akar dari bahasa Arab, yaitu ghidza, yang secara harfiah berarti “zat yang terkandung dalam makanan.” Orang Malaysia menyebutnya “zat makanan,” sebuah istilah yang lebih sederhana namun tepat sasaran. Ini mengingatkan kita bahwa sering kali, istilah yang kita gunakan sehari-hari dapat mengaburkan makna aslinya, sama seperti ketika kita menyebut semua kamera tustel sebagai “Kodak,” padahal itu hanyalah sebuah merek.
Lebih dari sekadar zat, makanan adalah sebuah kesadaran. Ia merupakan zat penyambung yang berasal dari bumi, yang mengantarkan kita pada “dzat Ilahi.” Makanan adalah proses untuk mencapai ulûhiyah, sebuah konsep ketuhanan. Dengan demikian, makanan yang baik adalah makanan yang sumbernya diketahui dan dihormati. Inilah yang mengingatkan kita pada firman-Nya dalam Surat Thaha:55, “Darinya (tanah) Kami ciptakan kamu, dan kepadanya Kami kembalikan kamu, dan darinya pula Kami keluarkan kamu pada waktu yang lain.” Ini bukanlah sekadar pengingat, melainkan perintah untuk merawat bumi yang telah memberikan kita kehidupan.
Merawat Tanah, Merawat Bangsa
Jika kita berbicara tentang ketahanan pangan atau gizi, kita tidak bisa lepas dari kewajiban untuk merawat tanah yang menghasilkan makanan. Merawat tanah bukanlah sekadar tugas, melainkan ibadah kepada Sang Pencipta. Ketika kita makan dari hasil yang didapatkan dari tanah, kita bersyukur, dan ucapan “Allahumma bariklana fiima razaqtana waqina adzaabannar” menjadi doa yang mengalir dari hati.
Gizi bukan hanya soal perut kenyang. Gizi adalah fondasi bagi seseorang untuk berdiri tegak, siap menjalankan tugas hidupnya. Ketika tubuh kekurangan gizi, ia tidak akan mampu mempertahankan diri. Maka, muncul istilah “stunting,” yang seringkali disederhanakan sebagai kurang makan. Padahal, lebih dari itu, stunting adalah cerminan ketidakmampuan sebuah bangsa untuk mensyukuri karunia-Nya.
Bangsa yang warganya masih kekurangan gizi perlu mempertanyakan kepemimpinannya. Gizi yang cukup adalah modal agar rakyat bisa mengabdi dan mensyukuri lingkungan. Bangsa yang makmur dan tercukupi tidak akan merusak lingkungannya, karena mereka merasa memiliki dan berterima kasih. Kekacauan dan kerusakan seringkali berakar pada masalah gizi, yang membuat masyarakat tidak lagi bisa berpikir jernih dan bertindak bijak.
Pemimpin Sejati dan Tanggung Jawab Kolektif
Memenuhi hajat gizi bagi rakyat adalah tugas mendasar seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak mampu melakukannya, ia tidak layak disebut pemimpin. Negara-negara maju tidak lagi berbicara tentang masalah pangan karena mereka sudah berhasil mencukupi kebutuhan rakyatnya. Sebaliknya, di Indonesia, kekacauan akibat kekurangan gizi masih sering terjadi.
Maka, sudah saatnya kita semua, terutama para santri, untuk mengambil peran. Jangan hanya menunggu “kemakmuran” datang begitu saja. Ingatlah pepatah bijak, “petani kaya, negara kaya” Sebagaimana pepatah Cina “nong hu quo chai.” Mensejahterakan petani adalah langkah awal untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat, yang pada akhirnya akan membuat bangsa kita berdiri tegak dan bermartabat.
Epilog: Bangsa kuat adalah yang memenuhi pangannya
Kita seringkali lupa, di setiap butir nasi dan tetes air, ada sebuah kisah panjang tentang perjuangan, kesuburan tanah, dan rahmat Tuhan. Gizi bukan sekadar hitungan kalori atau protein, melainkan ikrar abadi untuk merawat diri, merawat tanah, dan merawat bangsa. Marilah kita jadikan setiap santapan sebagai pengingat akan tanggung jawab besar ini. Karena bangsa yang kuat bukanlah yang memiliki senjata canggih, melainkan bangsa yang warganya tercukupi, bersyukur, dan siap berbakti, dari bumi hingga langit.*
Indramayu, Sabtu 16 Agustus 2025
—
![]()
