Nasihat Pernikahan Pada Keluarga Besar PKBM Al Zaytun: Pentingnya Mengenal Bahasa Cinta

Nasihat Pernikahan Pada Keluarga Besar PKBM Al Zayryn: Pentingnya Mengenal Bahasa Cinta

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME

Sebuah Pernikahan, Sebuah Perayaan Keluarga

Sabtu, 9 Agustus 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi Keluarga Besar PKBM Al Zaytun. Di tengah semilir angin sore dan suasana penuh haru, dua insan yang tumbuh dalam naungan pendidikan dan nilai-nilai PKBM Al Zaytun, Syahrul Mubarok bin Sarwanto dan Sofara Fitriani binti Tasminanto, resmi dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.

Yang membuat momen ini begitu istimewa bukan hanya karena pernikahan itu sendiri, tetapi karena hampir seluruh elemen acara—dari penyambutan hingga nasihat pernikahan—diisi oleh para alumni dan warga belajar PKBM. Joko Sairan, SH dan Susanto, SH, dua sosok yang pernah menimba ilmu di PKBM, kini berdiri sebagai wakil keluarga pengantin. Bahkan wedding organizer-nya pun digawangi oleh para alumni. “Ini serasa syukuran PKBM Al Zaytun,” ujar Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I ME, Kepala PKBM Al Zaytun, membuka nasihat pernikahannya dengan senyum hangat.

Mitsaqan Ghalidzan: Ikatan yang Sakral

Dalam nasihatnya, Ustadz Ali mengangkat makna mendalam dari pernikahan sebagai sebuah perjanjian agung—mitsaqan ghalidzan. Istilah ini hanya disebut tiga kali dalam Al-Qur’an: dalam konteks pernikahan (QS. An-Nisa: 21), perjanjian Allah dengan Bani Israil (QS. An-Nisa: 154), dan perjanjian Allah dengan para nabi (QS. Al-Ahzab: 7). Ketiganya menunjukkan betapa sakral dan beratnya tanggung jawab yang menyertai ikatan pernikahan.

Dengan gaya khasnya yang ringan namun sarat makna, Ustadz Ali menyampaikan pantun,

“Mencari rumput ke negeri Belgia
Rumputnya bagus sangat berharga”

“Kita semua ikut merasa bahagia,Syahrul–Sofara telah sah berkeluarga”

Pernikahan, menurutnya, bukan sekadar ikatan sosial, melainkan pelaksanaan perintah ilahi. Manusia tidak bisa diproduksi oleh mesin, karena manusia memiliki rasa dan iman. Maka, pernikahan adalah jalan fitrah untuk membangun keturunan dan peradaban.

Ia mengingatkan pentingnya merujuk pada QS. Ar-Rum: 21, bahwa pasangan adalah tanda kekuasaan Allah.

“Pasangan itu harus saling melengkapi, seperti baut dan mur,” ujarnya, menyindir fenomena penyimpangan fitrah yang kian marak.

Pernikahan yang benar akan melahirkan sakinah—ketenangan jiwa yang menjadi syarat masuk ke dalam rahmat Allah.

Bahasa Cinta: Kunci Sakinah Mawaddah Warahmah

Sakinah, kata Ustadz Ali, dibangun melalui dua pilar: mawaddah dan rahmah. Mawaddah adalah cinta yang tumbuh dari saling melihat kelebihan, sementara rahmah adalah kasih sayang yang menerima kekurangan. Namun, cinta tidak cukup hanya dirasakan—ia harus diekspresikan. Di sinilah pentingnya memahami bahasa cinta.

Mengutip teori Gary Chapman, Ustadz Ali menjelaskan lima bahasa cinta yang perlu dipahami oleh pasangan:

– Word of Affirmation: Pasangan merasa dicintai melalui pujian dan kata-kata positif.
– Quality Time: Kebersamaan yang bermakna, seperti makan bersama atau sekadar berjalan berdua.
– Acts of Service: Tindakan membantu dan melayani pasangan dalam keseharian.
– Receiving Gifts: Hadiah kecil yang menunjukkan perhatian dan cinta.
– Physical Touch: Sentuhan fisik yang menenangkan dan menguatkan ikatan emosional.

Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa 64% perceraian di Indonesia disebabkan oleh ketidakharmonisan akibat salah paham. Banyak pasangan merasa tidak dicintai, padahal mungkin mereka hanya tidak memahami bahasa cinta pasangannya. Maka, memahami dan mengekspresikan cinta dengan cara yang tepat adalah kunci menjaga rumah tangga tetap hangat dan harmonis.

Rahmah, lanjutnya, adalah sikap menerima pasangan dengan segala kekurangannya. Tidak membandingkan, apalagi mengumbar kekurangan di media sosial. “Pasangan adalah ladang ibadah,” tegasnya. Maka, kekurangan pasangan harus ditangani dengan kasih sayang, bukan kebencian.

Menutup nasihatnya, Ustadz Ali kembali menyampaikan pantun yang menyentuh:

Seekor itik hidup sebatangkara
Karena kasihan, kubawa ke rumah
Kita berdoa untuk Syahrul–Sofara Semoga sakinah, mawaddah, warahmah

Pesan Penutup: Cinta yang Dipelajari, Kasih yang Dijalani

Pernikahan bukanlah akhir dari pencarian, melainkan awal dari pembelajaran. Di dalamnya ada seni memahami, seni memberi, dan seni menerima. Bahasa cinta bukan hanya teori, tapi bekal hidup yang harus dipraktikkan setiap hari. Dan sakinah bukan hadiah instan, melainkan buah dari kesabaran dan ketulusan.

Untuk Syahrul dan Sofara, dan semua pasangan yang sedang menapaki jalan pernikahan: belajarlah mencintai dengan cara yang dipahami pasanganmu. Karena cinta yang dipelajari akan tumbuh, dan kasih yang dijalani akan bertahan.

Selamat menempuh hidup baru. Semoga cinta kalian menjadi bahasa yang tak pernah usang, dan rumah tangga kalian menjadi madrasah sakinah yang penuh mawaddah dan rahmah.**


Indramayu, Sabtu, 9 Agustus 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!