Peringatan Setahun Pemburuan Ijazah Palsu Harus Mulai Waspada Terhadap Operasi Kodok
Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Memperingati satu tahun pemburuan ijazah palsu Joko Widodo, sejumlah aktivis yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang menaruh kepedulian terhadap sikap jujur dan terbuka melakukan aksi bersama di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Koordinator Aksi Setahun Membongkar Ijazah Palsu Joko Widodo yang telah membuat gaduh sejak beberapa tahun silam yang telah menelan korban seperti Bambang Tri dan Gus Nur telah menyita perhatian banyak pihak dan menguras energi warga masyarakat akibat kebisingan dari kasus tersebut.
“Kalau pun ijazah Joko Widodo itu ada dan asli,” kaya Roy Suryo, sikap Jokowi membiarkan kegaduhan terjadi dalam masyarakat yang terus berkepanjangan sampai sekarang ungkapnya saat orasi di depan gedung wakil rakyat yang juga dinilai membungkam tidak bersuara, adalah kejahatan yang sulit untuk dimaafkan.
Rustam Efendi sebagai Koordinator dan penggagas acara mampu menghadirkan sejumlah tokoh, seperti Merry dari Lampung, Wuri dari Solo, Wati Salam dari Aspirasi Indonesia, Jakarta, Roy Suryo, Rizal Fadhilah, Marwan Batubara, Jendral Soenarko, mantan Danjen Kopassus, Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara, Prof. Sri Bintang Pamungkas, Prof. Afandi Arsyad dari Bogor dan Bambang Tri yang sempat memberi orasi singkat tentang perjuangan dari kawan-kawan kaum pergerakan harus terus dilakukan, tandasnya.
Sementara Refli Harun sebagai tokoh yang dianggap pemersatu dari tim pemburuan ijazah palsu justru tampak hadir menjelang acara usai. Ia tampak bercengkerama dengan Sri Eko Sriyanto Galgendu setelah menyampaikan orasi singkat yang merasa perlu untuk mengingatkan adanya fenomena dari “Operasi Kodok” yang semakin gencar dilakukan dari pihak sebrang dengan menggiring kriminalisasi terhadap Yusuf Kalla dan Partai Nasdem. Karena itu, menurut pemimpin Spiritual Nusantara ini kaum pergerakan harus waspada dan perlu disadari pentingnya sosok pemersatu gerakan agar tidak sampai tercerai-berai seperti yang terjadi sekarang seperti yang telah dialami oleh Rismon Sianipar, tandasnya
“Operasi Kodok” menurut Sri Eko Sriyanto Galgrndu adakah upaya memecah belah, seperti perilaku kodok yang hidup di dua alam yang identik dengan dua kaki. Lalu brisik dan ngorok untuk mengganggu ketenteraman orang lain. Dan tabiat dari kodok itu menang akan selalu lompat-lompat dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Untuk mencari aman dan kehidupan bagi dirinya sendiri yang selaku hidup di dalam dua dunia.
Berbagai elemen dan perwakilan dari organisasi masyarakat seperti Pejabat : Pengacara & Jawara Bela Rakyat, Forum Komunikasi Purnawirawan, Ormas Gerakan Jalan Lurus, Pendekar Muslim Indonesia, Forum Aksi Alumni Kampus Seluruh Indonesia serta UI Watch yang mengusung slogan Veritas, Probitas, justitia menyemarakkan aksi yang dimulaI ba’da sholat ashar hingga menjelang sholat maqrib. **
Senayan, 16 April 2026
——-++-
![]()
